Linda Febriyani, Membantu Sesama Itu Membahagiakan

“Mimpi saya  membangun komunitas First Aid yang berkembang dan bisa memberi pertolongan pertama bila ada kejadian dilapangan atau pun pada saat dilingkungan rumah “ (Linda Febriyani)

Namanya mudah diingat , hanya dua kata :  Linda Febriyani, biasa dipanggil Linda . Seorang relawan medis MRI  yang sudah malang melintang. Jangan tanya medan pengabdiannya. Berbagai macam tugas kemanusian pernah dilakukannya. Pertama kali tercatat sebagai relawan ACT pada tahun 2007 , saat itu Linda bersama sejumlah relawan lainnya melakukan kegiatan “Jakarta Green and Clean”.

Linda juga pernah terlibat menjadi  relawan pada program Bank Sampah di tahun 2012, ikut dalam relawan medis di musibah bencana tanah longsor di Banjarnegara, banjir Indramayu, Kebakaran Kebon Melati Tanah Abang, banjir Garut, pernah menjadi  salah satu pendamping Mobil Social Rescue (MSR) .

Wanita kelahiran Palembang, 16 Februari 1981,  saat ini tercatat sebagai salah satu trainer first aid di MRI. Keahliannya bukan sembarang didapat. Linda pernah mengikuti pelatihan water rescue, pelatihan IFE, pelatihan first aid, vertical rescue .

Latar belakangnya sebagai bidan lulusan  Universitas Kader Bangsa Palembang tahun 2011. Linda memang tipe wanita yang rajin menimba ilmu diberbagai pelatihan. Di tempat kerjanya di salah satu rumah sakit dikawasan Jakarta Barat, Linda pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan (Bonel’s: basic obstetri neonatal life support) yang diadakan pada tahun 2014.

Selain itu Linda pernah mendapatkan pelatihan khusus Medical Emergency pada tahun 2016 di Turki. Di negaranya Recep Tayib Erdogan ini Linda mendapatkan pelatihan Neonatal Resution Program (NRP), Airways Management, Prehospital NRP, Emergency padiatric patient, Rhythm disorder, dan beberapa pelatihan emergency lainnya. Linda sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman menimba ilmu di negara yang punya teknologi, perlengkapan dan human skillsetara dengan negara negara eropa.

Linda menyaksikan langsung bagaimana Turki menyiapkan armada medisnya begitu lengkap. Dari ambulan motor, helikopter ambulan hingga pesawat ambulan tersedia dan terkoordinir dengan baik. Bila ada pasien yang harus ditindak di rumah, maka tim medis akan cepat datang ke rumah si pasien. Namun bila perlu penanganan lanjutan maka si pasien akan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Tak perlu antri dan mendaftar apalagi ditanyakan tentang jaminan asuransi. Begitu pasien perlu tindakan medis maka segalanya akan dilakukan dengan cepat. Hal inilah yang membuat Linda berkeinginan memiliki tempat praktek sendiri.

Membantu Sesama Itu Membahagiakan

Ketika ditanya, dimana lokasi pengabdian yang sangat berkesan, Linda menjawab Bencana Longsor Banjarnegara di Jawa Tengah.

“Saat itu masih dalam tanggap darurat, saya berserta tim medis harus mencapai beberapa desa yang berdampak. Lokasinya cukup sulit dan harus melalui jalan dipinggir jurang, ancaman longsor masih berlaku. Kami yakin saja walau perasaan takut tetap ada dihati kami.  Sebagai relawan medis , tugas kami mendatangi pasien dimanapun lokasinya. “

Linda juga menambahkan ada peristiwa unik yang didapatnya ketika menemui seorang pasien, seorang ibu yang terpisah dengan anaknya . Waktu di periksa tensinya menyentuh angka 200. Sadar akan bahaya, Linda membawa ibu tersebut ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap . Sesampainya di RS dan dilakukan observasi ternyata si Ibu kepikirandengan sang anak yang berada di tempat pengungsian berbeda.

Akhirnya, si anak yang terpisah itu dijemput dan disatukan dalam satu tempat pengungsian. Uniknya, tak lama tensi ibu tersebut turun dan menjadi stabil setelah si ibu bertemu langsung dengan anaknya. Sebenarnya banyak hal unik yang bisa ditemukan ketika bertugas di tempat musibah bencana. Sebagai relawan medis, Linda selain harus mengikuti prosedur tetap juga harus menguasai psikologi orang terdampak bencana.

“Untuk itu program Trauma Healing perlu diberikan kepada para pengungsi , terutama anak anak yang memiliki jiwa yang belum sekuat orang dewasa” Ujar Linda

Bagi Linda panggilan jiwa sebagai relawan terus ada didalam hatinya. “Rasanya sedih bila ada bencana  ia tak bisa turun untuk membantu, ya, paling tidak saya berdoa untuk kemudahan teman teman yang bertugas, semoga diberi keselamatan “.

Bila melihat perjalanan hidup yang dilalui Linda, anak kedua dari lima bersaudara yang semuanya wanita ini tak semuanya berjalan mulus. “ Karena tak ada saudara laki laki, maka bapak mengangkat anak laki laki bernama Sugianto “

Linda menghabiskan masa  sekolahnya  di kota Palembang , lulus dari SMU pada tahun 1999 Linda mengawali karir pekerjaan disebuah gudang sembako di kota Palembang. Tapi itu hanya dilakukan selama beberapa bulan saja.

Magnet Jakarta ternyata membuat Linda hijrah, mengadu peruntungan di ibukota. Apalagi ada salah seorang kakak yang sudah bekerja di Jakarta. Linda pun diterima  di sebuah perusahaan retail busana dan bekerja hingga tahun 2002 . Ditahun yang sama Linda melepas masa lajangnya dan menikah dengan seorang lelaki  pilihan hatinya, Suhendra.

Dari pernikahannya , Linda diamanahi dua orang anak, Huriyah Mahdiyah lahir 31 Maret 2003 dan Salam AlFarisi, 21 Desember 2004.

Duka datang menyelimuti Linda pada akhir tahun 2013 ketika sang suami divonis karena terkena kanker hati. Awalnya, dokter mengira suaminya terkena maag kronis. Berselang 3 bulan menjalani perawatan di RSCM, pada bulan Januari 2014, sang suami dipanggil Allah SWT.

Takdir telah tertulis. Wafatnya sang suami tak membuat Linda terus dirundung kesedihan. Linda segera bangkit. “ Kesulitan itu sebagai tantangan bagi saya untuk  bisa lebih mandiri dan maju, jadi harus semangat “

Apalagi Linda harus membesarkan kedua anaknya, menjadi single parent. Tak mudah memang, semuanya dilalui dengan hati ikhlas. Linda hingga saat ini masih bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta. Keahliannya di bidang first aid , dimanfaatkannya untuk memberikan pelatihan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Linda masih memiliki mimpi untuk bisa memiliki perlengkapan first aid yang lengkap sehingga bisa maksimal bila terjadi  bencana atau ketika mengisi pelatihan.

Di Indonesia , pemahaman first aid (biasanya orang menyebutnya P3G) memang tidaklah terlalu populer. Jangankan untuk skill keahlian, perlengkapan first aid yang paling minimal saja kadang tak terpenuhi. Diruang publik yang sangat mungkin terjadi kecelakaan  sering kali sulit menemukan perlengkapan First Aid. Kalaupun tersedia, seringkali hilang dibawa sitangan jahil.

Paling tidak, apa yang telah dilakukan Linda untuk berbagi ilmu first aid patut diapresiasi  Walau harus lelah membagi waktu antara mencari nafkah dan berbagi ilmu . Semuanya dijalaninya dengan senyum santai. Seperti Linda menjani hidupnya dengan ringan tanpa beban.

Linda yakin, membantu sesama itu membahagiakan.  “ Karena Allah SWT akan memudahkan urusan orang yang mempermudahkan urusan kaum muslim lainnya “