Mengenang Mas Irul , Sebuah Pengabdian Yang Tak Pernah Terlupa

Tak ada yang tahu tiga hal ghoib yang Allah sembunyikan dari mahkluk-Nya. Maut, Jodoh dan Rezeki. Tiga hal inilah , haq yang hanya Allah SWT yang tahu. Kedatangannya tak pernah bisa diprediksi. Sebagai makhluk , kita hanya diminta untuk bersiap diri dengan amal amal terbaik yang kita persembahkan. Seperti  kedatangan kematian,  setiap jiwa akan menemui ajalnya. Kapan dan dimana kita tak pernah tahu .

Selasa (24/01) tepat pukul 23:30 , Mohamad Masrul Rohimahulloh yang biasa disapa Mas Irul menghebuskan nafas terakhirnya di Banyuwangi. Seorang relawan terbaik yang dimiliki MRI Jawa Timur. Mas Irul meninggal dikarenakan sakit yang dideritanya.

Pengabdian terakhirnya adalah kota Bima. Kota yang dihantam banjir bandang pada 23 Desember 2016. Sebagai relawan, Mas Irul terjun langsung membantu para warga kota Bima yang terkena luapan banjir dan lumpur.

Terlibat aktif dalam penanganan tanggap darurat banjir bandang di kota Bima. Mas Irul bersama relawan lainnya membantu warga membersihkan rumah yang dipenuhi lumpur pekat . Membagikan bantuan kepada warga Kota Bima.

Mas Irul merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Lahir di kota pahlawan Surabaya pada 5 Juli 1975. Mas Irul meninggalkan seorang istri , dua orang anak laki laki dan seorang  anak perempuan. Saat ini  anak sulungnya sudah duduk dibangku SMA sedang dua lainnya duduk di bangku SMP.

Seorang Relawan yang Punya Daya Juang tinggi dan Tak Mudah Mengeluh

Mas Irul merupakan satu satunya relawan asal Banyuwingi yang mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) I di Bandung Jawa Barat dari tiga relawan yang melakukan tes di Surabaya.

Dalam kesehariaanya Mas Irul tak pernah mengeluh walau harus menempuh jarak sejauh 70 Km dari Kalibaru- Banyuwangi dengan sepeda motor kesayangannya untuk melakukan aktifitasnya.

Sebuah jarak yang tidak dekat. Tapi Masi Iru ikhlas melaluinya. Tak mengeluh walau 10 tahun yang lalu Mas Irul pernah mengalami kecelakaan.  Menurut dokter inilah awal dari tumbuhnya tumor yang semakin hari terus berkembang dan menjalari hingga paru paru mas Irul .

Mas Irul adalah sosok yang dikenal  ringan tangan, gesit membantu sesama. Dan termasuk orang yang senang bergaul dan cepat akrab.

Quwiyul Jasadiah adalah hal yang menjadi perhatiannya. Mas Irul  pernah mengungkapkan kesiapannya untuk  dikirim ke wilayah konflik di  Palestina. Semangat Jihad yang ada didadanya sudah terpatri dengan kuat. Oleh karena itu Mas Irul sangat bersyukur bisa bergabung menjadi salah satu relawan ACT-MRI. Bahkan saking ingin berbakti, Mas Irul mengajukan diri untuk berangkat ke Kota Bima walau secara fisik , Tumor yang bersarang ditubuhnya mulai melemahkan tubuhnya.

Berbekal tekad kuatlah, Mas Irul berangkat ke Kota Bima. Mas Irul tergabung dalam rombongan ke-2. Walau harus menggunakan bus dari Denpasar ke Kota Bima tetap dilakoni dan tak menyurutkan langkahnya. Padahal fase itu masih dalam fase tanggap darurat yang banyak menyedot banyak tenaga.

Mas irul langsung turun membersihkan Puskesmas Paruga dan sempat memberikan ‘logistik’ kepada warga  yang ia bawa langsung dari Jawa Timur. Keesokan harinya Mas Irul mendapat lokasi penugasan membantu  tim medis untuk mengadakan pelayanan kesehatan.

Mas Irul membagikan bantuan yang ia bawa langsung dari Jawa Timur

Sepulang dari tugas, Mas Irul mengeluh sakit perut dan bolak balik ke WC. Karena  terlihat pucat Mas Irul disarankan untuk diinfus walau awalnya menolak. Hari kedua karena Mas Irul ingin sekali terjun membantu warga. Mas Irul minta infusnya dicopot karena sudah merasa lebih sehat. Walau keinginannya di tolak, Mas Irul tetap berkeras dan akhirnya Mas Irul diizinkan ikut tim bersih bersih di wilayah Penatoi. Mas Irul dengan semangat bolak balik membawa lumpur menggunakan troly.

Namun karena kondisi tubuhnya menurun terus maka Mas Irul harus rela dibawa ke rumah sakit setempat untuk menjalani pengobatan. Selanjutnya mas Irul dipulangkan lebih awal untuk mendapatkan pengobatan lebih menyeluruh dan dekat dengan keluarga di Jawa Timur.

Hari Jum’at, Mas Irul masih menyempatkan diri memohon doa agar diberi kekuatan dan ketabahan karena menurut dokter tangan kirinya harus diamputasi. Mas Irul dalam percakapan teleponya menyatakan kesiapannya dan ketegarannya.

Namun Allah SWT punya rencana terbaik, Allah lebih sayang sehingga Mas Irul pada selasa malam harus kembali keharibaan-Nya. Dimana tak ada lagi kesulitan dan kesusahan , tak ada lagi rasa sakit.

Selamat jalan kawan, selamat jalan relawan terbaik, semangatmu menjadi sumber motivasi bagi kami.  Relawan yang tak mudah mengeluh, relawan yang mau berjuang walau sakit bersarang ditubuhnya. Karena sesungguhnya kepunyaan Allah segala apa yang ada di muka bumi ini, dan akhirat adalah kampung halaman sejati.

Selamat jalan relawan…semoga di Surga Firdaus kita semua bertemu…Aamiin.

( Sumber : M.R. Warang Agung, Bp Koirul J. di Bima )