Merajut Kembali Semangat Kemanusiaan

Catatan perjalanan Tim Ekspedisi Ramadhan 1440 H Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)

Relawan.id- Matahari sudah undur diri saat kami tiba di Kota Jambi. Butuh waktu sekira 10 jam perjalanan darat dari Kota Palembang. Jambi adalah kota ketiga yang kami kunjungi, dalam rangkaian perjalanan Ekspedisi Ramadhan 1440 H. Setelah sebelumnya singgah di Palembang dan Lampung.

Memasuki kota yang dihidupi oleh Sungai Batanghari ini, kami merasa terlempar ke masa silam. Kotanya tenang, rapih, tertib dan teratur. Tak salah jika kemudian sebagian kawan perjalanan merasa seperti berada di Kota Malang, Jawa Timur, tenang.

Namun di balik tenangnya Kota dan Provinsi Jambi, tersimpan sejumlah persoalan lingkungan dan sosial. Hal itu terungkap saat kami bertemu dan berbincang dengan Ketua MRI Wilayah Jambi, Muhammad Sidik.

Sembari menyesap kopi Liberica yang hanya ada di Jambi, Sidik bercerita tentang daerah kebanggaannya itu. 

“Di Jambi ini, semua nampaknya baik-baik saja. Dari permukaan semua terlihat tenang dan berjalan normal. Tapi jika kita menyelam lebih dalam, maka akan menemukan sejumlah persoalan,” ujar Sidik.

Asap akibat karhutla di Jambi tahun 2015/Foto: Mongabay

Sebut saja kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), yang seringkali terjadi di sebagian besar wilayah ini. Dari tahun ke tahun, Provinsi Jambi seringkali mengalami darurat Karhutla sehingga pemerintah setempat membentuk Tim Satuan Tugas Karhutla.

“Nampaknya belum ada solusi sistematis menghadapi persoalan karhutla ini. Padahal dana yang keluar lumayan besar,” katanya.

Ya, mengutip ucapan Ketua BPNB Letjen TNI Doni Monardo, jumlah anggaran untuk mengatasi karhutla di Provinsi Jambi selama 4 tahun terakhir sekitar Rp315 miliar. Angka yang cukup fantastis.

Selain Karhutla, Provinsi ini khususnya di Kota Jambi juga menghadapi problem sosial khas perkotaan, Gelandangan dan Pengemis. Hanya saja, di Kota Jambi pengemis sangat nampak kasat mata, khususnya di bulan Ramadhan dan usai shalat Jumat.

Hal itu kami temui sendiri, saat menunaikan shalat Jumat di Masjid Nurdin Hasan yang terletak di Jalan Kolonel Abunjani, Kota Jambi. Begitu bubar shalat Jumat, kami langsung disambut pengemis yang menodongkan wadahnya sembari mengiba.

“Itu juga persoalan besar. Kalau di Masjid Agung Al Falah jumlah mereka (para pengemis) itu lebih banyak lagi,” ungkap Sidik.

Untuk itu, lanjutnya, dia dan rekan-rekan relawan MRI Wilayah Jambi intensif berdiskusi mencari problem dari persoalan ini.

Pembangunan Infrastruktur Tak Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Rakyat

Tol Bakauheni-Terbanggi Besar/Foto: Komarul Iman

Problem sosial tak hanya terjadi di Jambi, tapi juga di dua kota sebelumnya yang kami singgahi, Lampung dan Palembang. Karena itu kami percaya, di balik gegap gempita pembangunan infrastruktur, selalu tersisa segudang permasalahan sosial dan kemanusiaan. 

Salah satu contohnya adalah pembangunan jalan tol yang menghubungkan Pelabuhan Bakauheni dan Terbanggi Besar di Kabupaten Lampung Tengah. 

Saat pembebasan lahan, proyek ini sudah menuai sejumlah konflik dengan warga, dan kini ketika telah beroperasi pun menyisakan persoalan.

“Sekarang banyak warung di Jalur Lintas Sumatera yang tutup, sepi katanya karena tol sudah dibuka. Gak terbayang deh seperti apa nasib para pedagang itu, kalau nanti (tolnya) sudah sampai Palembang,” kata Ketua Bidang Humas MRI Wilayah Lampung, Uki Abu Ghazi.

Uki dan mungkin sebagian besar dari kita, tak anti pembangunan. Hanya yang disesalkan, pemegang kebijakan nampaknya tak acuh terhadap masalah kemanusiaan yang timbul dari efek pembangunan.

Kendati Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno optimistis pembangunan jalan tol Trans Sumatera bisa meningkatkan roda perekonomian di Pulau Sumatera, tapi kenyataannya jauh panggang dari api.

Alih-alih meningkatkan ekonomi, ruas tol yang menelan investasi hingga Rp42,99 triliun itu justru membuat masyarakat kecil sekarat. Mungkin yang dimaksud Rini, akan meningkatkan ekonomi para pengusaha kakap.

“Sekarang kita belanja secukupnya mas, yang mampir sudah sedikit. Ini sebentar lagi musim mudik tapi belum kelihatan ada ramai-ramai, mungkin orang pilih lewat tol semua kali ya,” kata Sari salah satu pemilik rumah makan di kawasan Kalianda yang sempat kami singgahi.

Harapan dia kini tak muluk-muluk, yang penting setiap hari ada orang yang mampir ke rumah makannya, agar dapul tetap ngebul hingga tak perlu gulung tikar seperti beberapa koleganya.

“Kita sih udah pasrah mas sekarang, tapi kita berdoa aja deh semoga gak bangkrut kayak yang lain,” kata dia sembari tersenyum getir.

Jangan sampai, kata dia, cerita-cerita warung yang tutup di sepanjang Pantura karena dibukanya tol Trans Jawa juga terjadi di Sumatera. “Kami mau kemana lagi mas?,” kata Sari parau.

Orang-orang yang Tersisih dari Pembangunan Kota

Rel LRT Palembang/Foto: Komarul Iman

Beranjak dari Lampung mari kita ke Palembang, sebuah kota metropolitan di Pulau Sumatera. Betapa tidak, bahkan Palembang mendahului Jakarta mengoperasikan moda transportasi massal: Lintas Rel Terpadu (LRT).

Sedikit menjauh dari riuh ramai Jembatan Ampera dan gemerlap kota, ada seorang Kakek berusia 74 tahun yang hidup seorang diri di Kampung Barak, Kakek Yusuf biasa dia disapa. Di usia senjanya, Kakek Yusuf masih harus berjibaku bertahan hidup dan sering diterpa sepi.

Di rumah petak hadiah pemerintah orde baru untuk korban kebakaran besar di Palembang tahun 1980-an, hanya ada selembar kasur untuk istirahat. Untuk penerangan, dia hanya mengandalkan bohlam lima watt, yang listriknya disambungkan dari tetangga.

Karena itu dia kaget saat tim Ekspedisi Ramadhan, bersama pengurus MRI Wilayah Sumatera Selatan menyambangi rumahnya sembari membawa paket pangan persembahan dari Global Zakat – ACT.

“Ini sih cukup buat sebulan malah lebih, alhamdulillah,” kata Kakek yang tidak banyak bicara itu. Lisannya terdengar bersyukur tak henti saat membuka bingkisan paket pangan.

Selama ini, untuk makan Yusuf mengaku hanya masak nasi saja. Jika pada bulan Ramadhan, untuk buka puasa atau sahur, beras 1 kg untuk dua sampai tiga hari.

“Kalau buka puasa dan sahur, saya beli sayurnya aja 5000 untuk makan dan makan seadanya, ngga seperti orang kaya. Yang penting ada yang dimakan. Yang penting kita syukuri saja,” tuturnya.

Biasanya, untuk memenuhi kehidupa sehari-hari apapun dilakoni Yusuf asal halal dan tak mengemis. “Seringnya ikut kerja bangunan, tapi yang ringan aja seperti ngecat,” kata dia.

Yusuf tak sendiri, tapi berdasarkan penuturan Ketua Bidang Humas MRI Sumsel Rendi Jalil, masih banyak orang-orang yang tersisih seperti Yusuf. Mereka bahkan nyaris dianggap tak ada.

“Tapi alhamdulillah, selama ini teman-teman MRI berusaha rutin menyambangi mereka. Minimal kita bisa tahu kondisi terbarunya, kita cuma khawatir kalau mereka sakit dan gak bisa kerja,” jelas Rendi.

Rendi, Uki, Sidik dan kami semua di MRI-ACT jelas tak bisa menyelesaikan seluruh persoalan ini sendiri. Butuh keterlibatan banyak dermawan, perlu bantuan banyak orang baik. 

Karena itu, melalui Ekspedisi Ramadhan 1400 H yang menyusuri sisi Timur, Utara dan Barat Pulau Sumatera lewat darat, izinkan kami melanjutkan perjalanan dan melakukan pemetaan masalah, untuk kemudian kita cari solusi bersama demi merajut kembali semangat kemanusiaan. Tabik.

Penulis: Dudy S.Takdir

Tim Ekspedisi Ramadhan 1440 H MRI/Foto: Komarul Iman