Pakar Tsunami Sebut Bahasa Lokal Bisa Selamatkan Ribuan Nyawa

Jakarta, relawan.id – Wilayah Indonesia bisa dikatakan sebagai rawan bencana alam. Mulai dari tsunami, gempa bumi hingga meletus gunung berapi. Terbaru tsunami melanda wilayah pantai di Banten dan Lampung.

Ketika bencana, kerap kali masyarakat Indonesia tak siap untuk menghadapinya. Sehingga ratusan bahkan ribuan nyawa selalu hilang saat bencana melanda Ibu Pertiwi.

Menanggapi hal itu, Research di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center, Alfi Rahman menyebut dalam bahasa lokal Indonesia ada istilah-istilah tentang kondisi alam yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, terutama di daerah-daerah yang sensitif bencana. Maka dari itu memperkenalkan kearifan lokal sebagai upaya peringatan dapat menyelamatkan ribuan nyawa.

Alfi memberikan contoh saat tsunami Indonesia tahun 2004 melanda pulau Simeulue, dekat Aceh Barat, teriakan “Smong! Smong!,” kata penduduk lokal untuk gelombang pasang, berdering dari garis pantai ke bukit.

“Ketika mereka mendengarnya, penduduk pulau mulai menuju ke gunung, meneriakkan “Smong!” secara bergiliran, seiring berita menyebar. Bencana itu menelan lebih dari 200.000 jiwa di Aceh, sedangkan di Simeulu hanya tujuh orang yang hilang,” ujarnya di Menara 165 Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Ternyata, kata Alfi, para penduduk pulau telah mendengar lagu tentang smong sejak mereka kecil, yang diwariskan oleh orang tua dan kakek-nenek setelah pulau itu dilanda tsunami pada tahun 1907. Pesannya adalah, “Ketika ada gempa bumi yang kuat, diikuti oleh air surut, jangan pergi ke dekat pantai untuk mengambil ikan di pantai, karena akan ada (tsunami).”

“Pengetahuan akan bahasa lokal Indonesia seperti ini dapat menyelamatkan nyawa. Para peneliti menyimpulkan bahwa sistem tersebut telah bekerja, ketika bahkan sistem peringatan berteknologi tinggi dengan waktu respons 15 menit tidak akan membantu,” tukasnya.