The Invisible Hand; Kisah Para Penjaga Bendungan Katulampa

Bogor, relawan.id – Bagi warga Jakarta di sepanjang bibir kali Ciliwung, musim hujan kerap menciptakan was-was. Mereka hanya mampu menggigit bibir sambil menunggu kabar dengan cemas bagaimana situasi air di Bendung Katulampa, Bogor. Jika ketinggian air sudah di atas normal, mereka terpaksa harus siap-siap untuk mengungsi.

Tapi tak banyak yang tahu, siapa sosok yang selalu siaga 24 jam untuk mengawasi debit air dan memberikan kabar kepada warga. Dialah Andi Sudirman, jasanya sungguh luar biasa untuk masyarakat banyak, tapi mungkin tak banyak orang yang tak tahu tentang sosoknya. Oleh karena itu, mungkin istilah invisible hand cocok disematkan untuk Andi Sudirman.

Istilah invisible hand dipopulerkan oleh pakar ekonomi, Adam Smith dalam bukunya yang berjudul “The Wealth of Nation”. Ia mengungkapkan bahwa ekonomi pasar dikendalikan oleh invisible hand atau tangan-tangan tak terlihat.

Foto: Iqbal/MRI

Kini, penggunaan istilah invisible hand semakin meluas, tidak hanya digunakan di bidang ekonomi, namun juga relevan di bidang sosial, politik, dan budaya.  Maka dari itu, penggunaan istilah tersebut tak ada salahnya diberikan kepada Andi Sudirman, karena memiliki jasa yang luar biasa, namun tidak banyak orang yang menyadari jasanya.

Andi Sudirman (50 tahun) adalah warga Kelurahan Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat yang merupakan salah satu invisible hand yang ada di Indonesia. Barangkali tidak banyak orang yang mengenal sosok pria paruh baya yang murah senyum ini. Wajar, popularitas Andi, begitu nama panggilannya, tidak sepopuler tokoh-tokoh perubahan yang kerap muncul di televisi, koran, ataupun media online.

Akan tetapi, bagi masyarakat sekitar Katulampa, sosok bapak tiga anak ini memiliki jasa yang sangat mengabadi. Ia bukanlah seperti Robin Hood yang menjadi hero bagi masyarakat marginal. Namun profesi yang ia lakoni sejak tahun 1987 telah mengantarkannya menjadi pribadi yang dicintai masyarakat. Ia bahkan telah menerima beragam penghargaan dari pemerintah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Foto: Iqbal/MRI

Mengawasi Bendung Katulampa tidak sesederhana melihat air mengalir sambil sesekali mengawasi ketinggiannya. Debit air yang terkesan tenang ini bisa jadi meninggi belasan meter hanya dalam waktu hitungan menit. Hujan besar ditambah petir menyambar selalu menjadi ketakutan utama. Bukan hanya membuat debit air tak terkendali, tapi juga menambah risiko kecelakaan kerja semakin tinggi.

Pria kelahiran 17 Juli 1967 ini bukanlah seorang yang tidak memiliki rasa takut. Ia hanya sadar bahwa takut tidak akan memberikan pengaruh apapun, sehingga satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah menghadapinya. Apapun itu, asalkan mereka yang berada di hilir tidak terkena banjir.

Segala ketakutan, segala risiko tak menjadi soal karena ia tidak pernah sendirian. Kerja sama selalu menjadi kekuatan utama seorang Andi Sudirman. Pekerjaan kecil, pekerjaan besar, asal selalu mengutamakan kerja sama maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Selain itu, setiap kali musim penghujan, kantor tempat Andi bekerja selalu didatangi banyak orang. Saat musim penghujan juga, pekerjaannya semakin berat. Setiap hari, setiap menit hingga detik, ia harus stand by memantau debit air Bendung Katulampa.

Foto: Iqbal/MRI

“Saya sudah bertugas di sini (Bendung Katulampa) sejak tahun 1987. Waktu itu masih honorer,” ucap Andi, Kamis (20/6/2019).

Awalnya, tutur Andi, ia sama sekali tak berpikir untuk menjadi penjaga pintu air Bendung Katulampa. Saat itu, ia sebetulnya hanyalah seorang atlet bola voli yang ‘dipinjam’ oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Namun rupanya, ia justru ‘berjodoh’ dengan Bendungan Katulampa.

“Selepas jadi atlet bola voli, saya kemudian ditawari pekerjaan menjadi petugas penjaga pintu air Bendungan Katulampa dengan status pegawai lepas pada saat itu,” kenangnya.

Kini, Andi bersyukur kerja kerasnya sebagai penjaga pintu air bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Tak hanya kepada warga di bantaran Sungai Ciliwung, tapi juga kepada wartawan bahkan hingga pejabat-pejabat berwenang, terkait informasi terkini kondisi Bendung Katulampa.

Foto: Iqbal/MRI

Selain itu, Ia juga percaya bahwa doa, ikhtiar, dan sabar adalah upaya terbaik yang dilakukan manusia untuk mendapatkan hasil terbaik dari Tuhan. Ia merasa beruntung telah diberi amanah menjadi penjaga Bendung Katulampa. Begitu banyak nikmat yang sudah ia terima.

“Bagi saya pribadi, menjadi petugas bendung Katulampa adalah panggilan jiwa. InsyaAllah dengan ikhlas saya sampai titik akhir saya ingin di Bendung Katulampa untuk masyarakat,” tutup Andi. (Iql)