Masya Allah, Driver Gojek Ini Hidupi 150 Santri

Jakarta, relawan.id – Tuntutan hidup yang makin berat banyak membuat orang rela melakukan pekerjaan apapun yang dinilai halal, salah satunya menjadi driver ojek online. Di Indonesia sendiri tak terhitung jumlah orang yang rela menjadi driver ojek online, karena menjadi driver ojek online bagi sebagian orang bukan hanya sekadar pekerjaan sampingan, tapi juga sebuah kebanggaan.

Kebanyakan dari mereka berusaha mencari uang untuk kebutuhan pribadi, anak dan istrinya, namun hal tersebut tidak berlaku bagi bapak bernama Endang Irawan. Pria yang kerap disapa dengan Bang Soplo ini tidak hanya bekerja sebagai driver Gojek demi keluarganya saja, dia juga menghidupi 150 santriwati yang ia asuh.

Hebatnya, ia secara sukarela melakukan hal tersebut tanpa paksaan. Di antara 150 santrinya itu tak sedikit yang Endang bebaskan dari biaya karena merupakan anak yatim piatu ataupun keluarganya yang berasal dari keluarga fakir yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja tidak cukup.

Tak hanya menjadi driver ojek online, Endang juga adalah kiai sekaligus pimpinan pesantren Nurul Iman yang berada di wilayah Bogor, meski begitu Endang hidup dengan sangat sederhana. Bahkan dia tak ingin dikenal oleh banyak orang. “Saya sedang belajar ilmu agar tak dikenal orang,” begitulah yang ia ucapkan. “Orang tidak ada yang menyangka saya ketua pembina pondok pesantren. Tapi kalau saudara-saudara ke sana, melihat santri cium tangan sama saya, baru percaya,” katanya.

Sebelum menjadi driver Gojek, Endang pernah mencoba segala macam pekerjaan. Ia pernah bekerja sebagai mekanik elektrik di luar pulau Jawa selama 8 bulan sekali dia baru boleh diizinkan untuk pulang, dengan berlakunya hal tersebut membuat dia merasa sulit untuk mengontrol dan melihat keadaan santrinya. Oleh karena itu dia lebih memilih keluar, belum lagi pendapatan sebelumnya yang hanya 800 ribu membuat Endang merasa uangnya tak cukup membiayai keperluan santrinya.

Setelah beralih profesi menjadi driver Gojek, Endang merasa lebih luas dan nyaman. Selain bisa terus mengurus pondok pesantren, ia juga bisa membiayai anak yatim yang ingin belajar namun tidak mampu dari segi materi, membiayai penuh anak rekan sesama mitra gojek yang sudah meninggal dalam bertugas. Pesantren yang dulunya hanya dari bilik bambu pun sekarang perlahan dibangun dan menjadi lebih layak.

Pondok pesantren Nurul Iman yang ia asuh sebenarnya sudah berdiri sejak 12 tahun lalu, namun baru bisa berkembang setelah ia pindah profesi menjadi driver gojek. Pondok pesantren tersebut juga tidak strategis tempatnya, sehingga menuntut Endang untuk melakukan segala hal yang diperlukan oleh santriwatinya.

“Bahkan hingga pembalut dan obat-obatan juga saya yang beli. Karena kan pondok ini adanya di atas gunung, jadinya kasihan kalau mereka sakit atau apa harus turun gunung sendiri,” jelasnya. Mungkin hal ini tidak akan dilakukan oleh ustadz manapun juga, tapi Endang mengaku tidak keberatan dengan melakukan hal tersebut.

Endang tidak hanya berbaik hati untuk membiayai penuh santri yang yatim dan fakir, serta mereka yang tidak mampu saja. Ia juga menyantuni sebanyak 207 anak yatim piatu yang berada di tempat ia mencari nafkah yaitu Jakarta, semua hal tersebut ia lakukan tanpa mengharapkan imbalan.

Namun Allah tak tidur, dan setiap kebaikan yang dilakukan akan dibalas dengan cara yang di luar dugaan. Endang menceritakan, setiap ia bekerja selalu ada saja penumpang yang memberikan uang tip, sumbangan, serta doa untuk kemajuan pesantrennya. Bahkan ada salah satu anggota kepolisian yang pernah meng-order dan memberikan sumbangan setiap bulan 350 ribu. Hal tersebut bahkan dilakukan selama setahun terakhir ini.

Mewujudkan mimpi untuk membuat anak-anak hafal Al-Quran memang sebuah tugas berat yang harus diemban, terlebih Nurul Iman bukanlah yayasan yang bisa menggaji guru dari luar. Tak kehabisan akal, Endang menjadikan adiknya sebagai pengurus pondok untuk membantunya mengajar para santri. Kini, dari keseluruhan 150 santriwati Pondok pesantren Nurul Iman dengan rentan usia 9 hingga 20 tahun, 11 di antaranya sudah menuntaskan hafalan Al-Quran mereka. 6 dari mereka masih tinggal di pondok karena harus membantu santri lain selama tiga bulan, baru setelahnya mendapat ijazah.

Tak hanya itu, Endang juga masih memiliki harapan besar untuk membangun pondok pesantren khusus laki-laki, ia mengaku mendapatkan tanah wakaf, maka dari itu ia ingin tanah tersebut bisa berguna untuk kemaslahatan umat. Tapi, kata dia, pembangunan pondok pesantren khusus laki-laki ini mungkin untuk jangka panjang, karena biaya untuk pembangunan membutuhkan biaya besar.

Sosok Endang yang membiayai 150 santrinya ini patut menjadi inspirasi. Dari dia kita belajar bahwa tidak perlu kaya untuk berbagi, percaya Tuhan akan membalas niat dan perbuatan baik yang kita lakukan tanpa pamrih. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang ikhlas, mau berbagi dan membantu sesama. (Iql)