Ribuan Hektare Lahan di Jabar Terancam Kekeringan

Bandung, relawan.id – Sejumlah lahan pertanian di Jawa Barat terancam gagal panen karena kekeringan. Selain faktor musim, hal ini pun disebabkan kerusakan irigasi dan minimnya cadangan air

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikura Jabar akhir Juni 2019 tercatat 12.048 hektare lahan telah mengalami dampak dengan klasifikasi rusak ringan, sedang, besar hingga puso.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jawa Barat Hendi Jatnika, dari 573.842 hektare lahan pertanian di Jawa Barat sebanyak 52.983 hektare terancam kekeringan pada musim kemarau ini. Sedangkan sebanyak 82 hektar lahan sudah mengalami puso.

“Secara umum, daerah yang mengalami kekeringan adalah areal sawah dengan kondisi irigasi yang rusak,” ujar Hendi, Selasa (2/7/2019).

Hendi mengatakan, kerusakan sejumlah irigasi tersebut mengakibatkan aliran air tidak mencapai sawah yang letaknya jauh di desa-desa. Sebanyak 82 hektare telah mengalami gagal panen tersebut terjadi di Sukabumi, Cianjur dan Cirebon.

Rinciannya, kata dia, yakni dari 1.108 hektare lahan pertanian di Sukabumi mengalami puso 38 hektare, di Cianjur ada 757 hektare (lahan) dan puso 17 hektare, sedangkan di Cirebon dari luas 871 hektare lahan terdapat 22 hektare mengalami puso.

Faktor lainnya, kata dia, karena lahan yang mengalami kekeringan tersebut berada di kawasan irigasi non teknis. Yakni, meliputi sawah tadah hujan sehingga sumber air hanya ada pada saat musim hujan.

“Sawah yang terdampak kemarau karena air-nya tidak ada, karena irigasi-nya juga sudah tidak ada airnya, disebabkan debit air dari sumbernya seperti waduk, bendungan, mata air alam, atau lainnya turun drastis,” paparnya.

Kekeringan ini terjadi, kata dia, lantaran adanya kompetisi perebutan air dari irigasi yang tidak melulu digunakan untuk pertanian. Namun, lahan peternakan, perikanan hingga industri pun memanfaatkan aliran air tersebut.

“Petani juga masih memaksakan menanam di area persawahan yang ketersediaan airnya tidak bisa dipastikan. Selain itu ketidakdisiplinan petani dalam menetapkan kalender tanam,” tuturnya.

Menurut Hendi, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi gagal panen pada sejumlah lahan pertanian di Jabar. Salah satunya dengan melakukan standing crops atau menyelamatkan sejumlah tanaman yang telah ada.

“Yang masih memungkinkan dengan pompanizasi kita lakukan pemanfaatannya untuk mempertahankan tanaman yang ada,” katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya telah melakukan optimalisasi peranan brigade Alsin atau Unit Pelayanan Jasa Alat (UPJA) Mesin Pertanian. Khususnya dalam memobilisasi bantuan pompa air di wilayah yang terdampak kekeringan.

“Untuk lahan yang masih memiliki ketersediaan sumber air, bila memungkinkan ditanami palawija atau kacang,” pungkasnya.