Gempa Halmahera, MRI Malut: Sebagian Warga Masih Menetap

Bisui, relawan.id – Gempa bumi bermagnitudo 7,2 yang mengguncang Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara mengakibatkan 30 rumah mengalami kerusakan. Akibatnya sebagian warga di daerah tersebut mengungsi ke pegunungan.

“Berdasarkan informasi dari Camat Gane Timur Tengah menyatakan sekitar 30 rumah hancur, sebagian besar masyarakat mengungsi di area perbukitan dan hanya tersisa beberapa saja yang masih menetap dan melakukan aktifitasnya,” ujar Ketua Umum MRI Maluku Utara, Surachman Manan, Senin (15/7/2019).

Sementara itu, Kepala Pusdiklat Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo menyatakan sebanyak 2.000 orang mengungsi dan 2 orang meninggal. Sehingga Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan menetapkan status darurat sampai tujuh hari ke depan.

“Dua orang meninggal. Pertama, Ibu Aisyah, 51 tahun di Desa Gane Luar. Kedua Ibu Halimah, di Desa Papaceda,” ujarnya.

Agus mengatakan status darurat ditetapkan dari 15-21 Juli 2019. Adapun 2.000 pengungsi berasal dari daerah rawan yang disebut daerah oranye dengan guncangan Magnitudo 7, dan daerah kuning dengan Magnitudo 6.

Berikut lokasi dan jumlah pengungsi sejauh ini menurut BNPB:

– Kantor Polsek Saketa: 89 orang

– Kantor PDAM Saketa: 65 orang

– Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan: 300 orang

– Polres Halmahera Selatan: 120 orang

– Masjid Raya Halmahera Selatan: 500 orang

– Kantor Dinas Sosial Halmahera Selatan: 70 orang

– Kodim 1509: 45 orang

– Rumah Dinas Ketua DPRD: 100 orang

– Rumah Dinas Wakil Ketua II DPRD: 50 orang

– Rumah Dinas Bupati Halmahera Selatan: 70 orang

– SMAN 5 Halmahera Selatan: 84 orang.

– Kantor Pemda Halmahera Tengah dan Kantor DPRD Halmahera Tengah: 25 Kepala Keluarga

– Bukit Goeng/ Cafe Goeng: 15 KK.

– Kecamatan Bacan Selatan: 1000 Jiwa

– Pengungsi mandiri di Desa Hidayat, Desa Makean, dan Desa Tomon.

Saat ini, kata Agus, BNPB telah memerintahkan tim reaksi cepat untuk bergerak ke lokasi bencana. BNPB pun menurunkan tim survei untuk mendata dampak kerusakan gempa.

“Tiga tim saat ini sudah di Ternate, menggunakan speed boat dari Sofifi, lalu ke Maluku lanjut menggunakan jalan darat ke Saketa. Kami mengirim drone untuk inventarisasi dampaknya,” ujar Agus.

Agus menambahkan BNPB mendata ada 58 rumah rusak di Desa Ranga-Ranga, Desa Seketa, Desa Dolik, dan Desa Kluting. Menurutnya pasca gempa jaringan telepon masih lancar, ia mengaku masih dapat berkomunikasi via Whatsapp dengan warga terdampak di sana.

Agus mengatakan ada kemungkinan warga Desa Seketa terisolasi karena dua jembatan terputus akibat gempa. Namun ia menyebut belum mendapat informasi lengkap terkait hal tersebut. “Kemungkinan besar ada yang terisolasi, tapi kami belum dapat info. Karena infonya masih sedikit,” ucapnya.