Masih Takut, Korban Gempa Masih Bertahan di Pengungsian

Jakarta, relawan.id – Para pengungsi korban gempa di sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara memilih bertahan di tenda pengungsian, khawatir akan terjadi tsunami menyusul karena masih adanya gempa susulan pasca-gempa bermagnitudo 7.2, Ahad (14/7/2019).

Para pengungsi tersebut salah satunya berasal dari Desa Rangaranga, Kecamatan Gane Barat. Sebanyak 800 jiwa masih bertahan di tempat pengungsian di daerah ketinggian karena alasan tersebut.

Kepala Desa Rangaranga, Derek Mathias mengatakan alasan lain warga masih takut pulang karena rumah mereka mengalami rusak berat dan khawatir akan roboh jika terus menerus digoyang gempa susulan, bahkan tak sedikit rumah sudah ambruk rata dengan tanah.

“Untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi warganya di pengungsian, warga terpaksa menggunakan dana desa karena bantuan dari Pemkab Halmahera Selatan belum sampai akibat sulitnya akses transportasi,” ujar Derek Mathias, Rabu (17/7/2019).

Sekretaris Daerah Halmahera Selatan yang juga Ketua Tim Tanggap Darurat Helmy Surya Botutihe memaklumi alasan para pengungsi yang masih takut kembali ke rumah itu, terutama pengungsi yang rumahnya mengalami rusak berat.

Namun para pengungsi diimbau untuk tidak perlu lagi takut, mengingat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah menyampaikan bahwa gempa susulan yang masih terjadi pasca-gempa bumi utama bermagnitudo 7,2 pada Ahad tidak menimbulkan tsunami.

Pemkab Halmahera Selatan, menurut Sekda, sejak Senin (15/7/2019) telah menyalurkan bantuan kepada para korban gempa diberbagai daerah terdampak gempa di Halmahera Selatan, namun sulitnya akses ke lokasi masih jadi kendala penyaluran bantuan.

BPBD Malut mencatat lebih dari 3.000 warga mengungsi akibat gempa diberbagai wilayah di Halmahera Selatan, namun jumlah ini diduga tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan karena data belum masuk ke BPBD.

Gempa di Halmahera Selatan sesuai data sementara mengakibatkan korban meninggal enam orang, luka berat dua orang, dan luka ringan 49 orang. Sementara rumah warga yang rusak mencapai 971 unit, sebagian besar di antaranya rusak berat bahkan tidak sedikit rata degan tanah.