Tahun Ini, BMKG Akan Tambah Alat Pendeteksi Gempa

Jakarta, relawan.id – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan melakukan penambahan alat sensor pendeteksi gempa, seismograf untuk mengantisipasi dan mengukur guncangan akibat gempa bumi di seluruh Indonesia.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan penambahan alat tersebut sekitar 194 alat, kemungkinan besar akan dilakukan tahun ini setelah pihaknya mendapat kucuran anggaran tambahan dari pemerintah pusat. Namun Rahmat tak merinci berapa besar anggaran yang akan diperoleh lembaganya itu.

“Di tahun ini kemungkinan akan kita tambah dengan anggaran dari pemerintah tentunya. Itu kurang lebih 194 alat,” kata Rahmat di Gedung BMKG, Jakarta Pusat, Rabu (17/7/2019).

Seismograf sendiri merupakan alat yang digunakan untuk mengukur gempa atau getaran yang terjadi pada permukaan bumi. Saat ini kata Rahmat BMKG memiliki 175 alat seismograf yang berada di seluruh wilayah yang berpotensi gempa di Indonesia.

Diakui Rahmat jumlah tersebut memang belum memenuhi kebutuhan untuk memproses informasi terkait gempa dengan cepat. Maka dengan penambahan sebanyak 194 alat ini diharapkan bisa mempermudah alur informasi jika gempa terjadi.

Dengan penambahan ini, maka keseluruhan seismograf yang dimiliki BMKG nantinya akan berjumlah 369 alat.

“Tentunya dengan tambahan yang signifikan akan mampu mempercepat lagi proses. Untuk saat ini, kami SOP untuk memberikan informasi atau peringatan tsunami memang lima menit, tapi kami juga mampu dalam waktu 3-4 menit,” pungkasnya.

Selain menargetkan bisa memangkas waktu penyampaian informasi, penambahan sensor juga diharapkan bisa meningkatkan akurasi.

Dalam kesempatan itu, Rahmat juga meminta warga khususnya wisatawan domestik dan mancanegara di wilayah Bali dan sekitarnya untuk tak terlalu khawatir dengan gempa bumi yang baru mengguncang wilayah Nusa Dua.

Namun masyarakat tetap harus waspada dalam menerima dan mempercayai informasi hanya dari pihak BMKG.

“Semua harus waspada dan itu tadi kami sampaikan di sini harus dengan informasi yang resmi dari BMKG dan ikuti BPBD setempat karena dengan begitu masyarakat bisa lebih tenang tidak panik. Kita juga kan bisa juga dengan mobile phone, iOS, dan Android,” katanya.