Lurah Ngadi, Pemimpin Bukan Dilayani Tapi Melayani

Blora, relawan.id – Pantang menjadi pemimpin yang bersembunyi di balik meja, itulah yang dilakukan Ngadi selama menjabat sebagai Kepala Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah. Jika melihat sekilas, karena kesederhanaanya, tak akan ada yang menyangka bahwa dirinya adalah seorang yang berpengaruh yang mampu membawa perubahan, terlihat perkembangan sosial dan ekonomi yang cukup pesat di desa Jipang.

Melihat adanya perubahan signifikan pada desa mereka, warga pun serentak mengamanahkan jabatan Kepala Desa kepada Ngadi. Warga Desa Jipang menyebutnya ‘Lurah Ngadi’. Sebelum menjadi seperti sekarang ini, dia bercerita tentang perjalannya saat bekerja di Jakarta selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), saat itu dia dipercaya untuk menjabat sebagai kepala teknisi sebuah perusahaan properti, setelah mendapatkan jabatan itu, Ngadi memilih untuk keluar dari perusahaan itu, dan kemudian pulang kampung, hal itu dilakukan karena ingin mengembangkan daerahnya.

Tak lama berselang, Ngadi bergabung menjadi relawan organisasi kemanusiaan global bernama Aksi Cepat Tanggap (ACT). Tak menyangka sebelumnya, dari relawan akhirnya mampu mengantarkannya menjadi kepala desa. Kini sudah hampir Sembilan tahun Ngadi menjabat sebagai kepala desa. Perjalanan hidup tak pernah ada yang tahu. Entah sampai di mana Tuhan akan membawa langkahku.

“Kami tinggal di ujung Jawa Tengah. Bertetangga langsung dengan kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Untuk menuju Cepu dari ibukota Provinsi Jawa Tengah harus menempuh jarak sekitar 154 km. Tak lekang dari ingatan riwayat penguasa terakhir kerajaan Demak, Arya Penangsang atau Arya Jipang. Setelah pertempuran, ia tewas di tepi sungai Bengawan Solo yang mengaliri desa. Di sini pula ia bersemayam. Ya, bagi kami Bengawan Solo menjadi anugerah sampai suatu ketika ia membawa air bah,” ujarnya.

Seketika datang, seketika itu pula air pergi. Saat musim kemarau, sawah pun kering kerontang tak menghasilkan karena hanya mengandalkan tadah hujan. Kegagalan demi kegagalan pertanian melanda sehingga Ngadi pun harus memutar otak dan tenaga. Demi menjaga periuk nasi keluarga.

“Aku percaya pepatah lama, siapa yang menabur benih akan memanen hasilnya. Kegiatan berternak yang menjadi sampingan para petani kini justru lebih menjanjikan. Sejak dua tahun lalu, petani dari berbagai desa dan kecamatan berkumpul serta bermitra dengan ACT. Kami membentuk paguyuban Lumbung Ternak Masyarakat (LTM),” jelasnya.

”Aku sendiri dipercaya menjadi koordinatornya. Kegiatan kami tak hanya memelihara, tetapi juga menggemukkan. Hingga siap menjadi hewan kurban. Paguyuban ini menyiapkan bibit kambing hingga pakan. Semua bahan-bahan berasal dari limbah tanaman dan makanan. Baru setahun formula ini kami dapatkan dan tentu saja sangat ramah lingkungan,” tambahnya.

Belajar dan ikhtiar, itu prinsip kami. Rezeki halal bisa datang dari mana saja asal kita lepaskan rasa gengsi dalam diri. Sejak zaman kolonial Belanda potensi minyak bumi di Cepu sudah ditemukan. Sumur minyak pertama dibuat pada tahun 1882. Sumur-sumur telah dikelola warga dan perusahaan negara. Hingga kini produksi minyak blok Cepu menyumbang 160 ribu barep perhari. Tujuh puluh satu sudah Indonesia lepas dari penjajah. Meski demikian, melimpahnya kekayaan perut bumi masih saja dibayangi isu pemerataan dan keadilan bagi warga lokal.

Sementara itu, Ngadi harus berkompromi dengan cuaca kering dan cadangan air tanah yang semakin minim. Karena itulah, petani harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk mengairi sawah, sehingga banyak petani berpindah profesi pada penghasilan yang lebih pasti. 

“Ya, menjadi petani memang tak mudah. Pada setiap bulir padi yang kami panen tersimpan harapan untuk masa depan anak-anak kami,” ceritanya.

Meski begitu, Ngadi selalu bersyukur karena desanya lebih beruntung, masih ada sungai yang mengalir sepanjang waktu. Hadirnya teknologi irigasi mini membuat petani masih tetap pada jati diri mereka. Pasalnya, tak perlu lagi menanti hujan datang, ada air yang terus mengalir sepanjang dibutuhkan selama 24 jam.

“Kami bergotong royong dana demi membeli mesin pengairan sawah. Total 360 juta sudah kami gelontorkan untuk semua ini. Dananya kami dapatkan dari keikhlasan warga menggadai sertifikat tanah dan rumah mereka. Kami tak pernah bermimpi muluk-muluk. Kami hanya ingin sesuap nasi dan gizi keluarga tercukupi,” tuturnya.

Dibalik pria kuat, selalu ada wanita hebat istilah inilah yang cocok disematkan kepada pasangan ini, karena sang istri tak pernah membiarkan Ngadi sendiri dalam mengemban amanah sebagai kepala desa. Bertemu saat sama-sama kerja di Jakarta. Saat itu istrinya bekerja sebagai koki di restoran Jepang. Keyakinannya tak keliru, meski istrinya hanya mengantongi ijazah SD, tapi hal itu tak menghalangi niatnya untuk terus berinovasi agar desanya semakin maju.

“Tiga tahun lalu ia gerakkan ibu-ibu desa untuk bertanam sayuran. Media yang digunakan adalah plastik limbah rumah tangga dan sekam. Hingga kini pahit manis telah kami jalani bersama. Kami percaya, doa dan usaha tak pernah sia-sia. Demi tumbuh kembang dua buah hati kami dan generasi penerus desa,” tukasnya.

Berkat kerja kerasnya, akhirnya sang istri, dua kali membawa desanya menjadi juara lomba pemanfaatan pekarangan rumah. Ibu-ibu rumah tangga pun semakin semangat menghijaukan halaman. Rata-rata mereka menanam sayuran dan bumbu dapur. Selain bisa dijual sayuran juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan gizi keluarga.

“Ya,, tanah kami ternyata menyimpan potensi. Petani pun kini berhasil panen setahun tiga kali,” bebernya.

“Tak ada kesabaran tanpa sebuah cobaan. Tekun adalah satu-satunya jawaban. Di mana pun rezeki, Tuhan akan membuka rencana. Pemimpin, bukan dilayani. Melainkan melayani masyarakat. Bukan mencari kekuasaan, tetapi memperjuangkan kemakmuran,” tutupnya.