Cerita Qurban: Pertemuan yang Merubah Pola Pikir

Oleh: Kak Sidik

Tangerang, relawan.id – Saya lahir diperkampungan pinggir lintasan kereta api, yang boleh dibilang pernah merasakan bagaimana keras & sulitnya tinggal di Ibu Kota Jakarta. Lingkungan padat, dan sempit serta kehidupan sosial masyarakat disekitar yang memiliki pendapatan rendah.

Sampai suatu saat menjelang masuk SD kami sekeluarga berhijrah ke Tangerang, Alhamdulillah orangtua mampu mencicil rumah sederhana di Kelapa Dua. Saya beserta adik-adik besar hingga dewasa dan Alhamdulilah sudah menikah dan yang masih tinggal di Tangerang hanya si bungsu.

Sepanjang perjalanan hidup saya di Tangerang hampir setiap tahun, ketika momentum Idul Adha, kami selalu bisa ikut merasakan sedikit daging qurban, baik itu dari masjid yang dibagikan ke seluruh warga, maupun “jatah” ketika saya, adik, & bapak menjadi panitia qurban.

Setiap tahun kami merasakan bahagia karena bisa mendapat daging qurban, dan bisa bercanda dengan teman-teman dengan lelucon “Eh lu udah nyate belum? Gw dapat nih dari masjid sana, yuk nyate bareng”

Namun semenjak saya mengenal sebuah lembaga kemanusiaan & Kerelawanan sebut saja ACT (Aksi Cepat Tanggap) & MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) di sana saya bertemu orang-orang hebat luar biasa.

Di sana saya menemukan banyak teman yang mendedikasikan sebagian hidup mereka untuk ikut merasakan, memikirkan solusi, serta yang tidak kalah penting, sesuai akronim namanya “ACT” yang bisa diartikan “berbuat” untuk orang lain.

Melalui penjelasan program Global Qurban ACT  merubah pola fikir saya yang memang selama ini ketika kita berqurban kita selalu ingin mengambil afdholnya. Hewan qurban kita beli sendiri, kita antar ke masjid sendiri, kita sembelih sendiri.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Hanya saja, ketika dipaparkan bahwa ternyata di negeri kita sendiri banyak saudara-saudara kita, dipelosok nusantara, di wilayah tepian negeri dan mungkin boleh jadi dekat dengan wilayah kita di pinggir perkotaan yang ketika Idul Adha tiba mereka tidak bisa sebahagia kita, mampu membakar sate di rumah, membuat semur, dan aneka hidangan olahan daging lezat lainnya.

Pada hari ke-3 tasyrik ini, saya mengajak teman, saudara, netizen untuk yang belum berkesempatan untuk berqurban, boleh jadi karena kemarin dana terbatas, tidak bisa membeli hewan qurban, pada kesempatan ini bisa ikut jadi bagian orang-orang yang membahagiakan saudaranya disana yang belum merasakan nikmatnya daging qurban.

Jangan lewatkan kesempatan terbaik dihari terakhir ini, segera tunaikan, agar orang lain disana ikut juga berbahagia.