Bangladesh dan Myanmar Sepakat Pulangkan Etnis Rohingya Pekan Depan

Jakarta, relawan.id – Pemerintah Bangladesh dan Myanmar menyatakan sepakat akan memulai kembali proses pemulangan etnis Rohingya pekan depan. Proses ini sempat tertunda selama satu tahun lantaran kedua negara itu sempat berselisih dalam beberapa hal.

Dilaporkan ada sekitar 3,540 etnis Rohingya yang dipulangkan ke kampung halaman mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

“Kami sepakat untuk memulangkan 3,540 etnis Rohingya pada 22 Agustus,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Myanmar, Myint Thu, seperti dilansir Reuters, Jumat (16/8).

Direktur Jenderal pada Kementerian Sosial Myanmar, Min Thein, menyatakan mereka sudah membenahi sejumlah bangunan yang berada di dekat perbatasan sebagai tempat tinggal etnis Rohingya, yang selama ini kosong karena proses repatriasi tertunda.

“Kami sudah mempersiapkan bangunan itu dengan membersihkan dan menambah jumlah pengurus,” kata Min Thein.

Menurut seorang pejabat Bangladesh yang enggan ditulis namanya, upaya pemulangan ini hanya skala kecil. Dia juga menyatakan tidak ada pemaksaan bagi etnis Rohingya.

“Bangladesh hanya ingin proses pemulangan ini berjalan aman, santun, berkelanjutan dan tanpa paksaan,” kata pejabat itu.

Seorang pegiat dari lembaga Masyarakat Rohingya Arakan untuk Perdamaian dan Hak Asasi, Mohammed Eleyas, menyatakan sampai saat ini kedua belah pemerintah belum berkonsultasi dengan para pengungsi terkait rencana pemulangan.

Badan Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) tidak memberi jawaban pasti ketika ditanyakan soal prose repatriasi etnis Rohingya. Menurut laporan PBB, kondisi di Rakhine sampai saat ini belum kondusif karena masih terjadi konflik dengan pemberontak Tentara Arakan.

Anggota Tentara Arakan adalah kelompok etnis minoritas yang sebagian besar memeluk Buddha. PBB bahkan menyatakan tidak menutup kemungkinan perang sipil itu menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia.

Angkatan Bersenjata Myanmar sampai saat ini juga menutup akses menuju Rakhine.

Myanmar terus menjadi sorotan setelah angkatan bersenjata dan kelompok radikal setempat diduga melakukan persekusi, pengusiran, hingga pembunuhan massal yang menargetkan etnis Rohingya dan minoritas lainnya di Rakhine. Kekerasan itu kembali memburuk sekitar Agustus 2017 lalu.

Kekerasan dipicu oleh penyerangan sejumlah pos polisi oleh kelompok militan di Rakhine. Alih-alih menangkap para pelaku, militer Myanmar diduga mengusir, menyiksa, hingga membunuh etnis Rohingya.

Sejak itu, sekitar 700 ribu etnis Rohingya lari ke perbatasan Bangladesh untuk mencari perlindungan. Meski Myanmar mengklaim telah menahan sejumlah tentara terkait hal ini, kekerasan terhadap Rohingya disebut masih terjadi hingga saat ini.