Tiba di Sragen, Jelajah Kekeringan MRI Tinjau Warga Terdampak Kekeringan

Sragen, relawan.id – Jelajah Kekeringan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI-ACT) kembali mengunjungi wilayah kekeringan akibat kemarau panjang, yaitu Desa Geneng Sari, Kelurahan Bayuurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Kamis (22/8/2019).

Daerah ini sudah 3 bulan tidak turun hujan yang mengakibatkan sumur milik warga kering, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit, karena warga harus mencari sumber air yang dapat di konsumsi.

Mayoritas mata pencaharian warga adalah petani, berkebun dan berdagang, daerah ini juga merupakan perbukitan tanah kapur yang relatif subur sebagai tanah pertanian dan dapat dimanfaatkan sebagai perkebunan seperti tebu dan jagung, tapi karena kondisi sawah yang kering akibat kemarau panjang terpaksa warga harus merelakan sawahnya karena gagal panen.

“Ini merupakan sawah milik warga yang kondisinya parah, kekeringan hingga padi hasil menanam warga mati yang menyebabkan masyarakat gagal panen. Menurut penuturan warga, desa ini sudah mengalami kekeringan sejak empat bulan yang lalu dan tidak turun hujan,” ujar salah satu relawan MRI, Kenny.

Meski daerah ini tak terlalu jauh dari pusat kota, tapi Kecamatan Jenar sangat memprihatinkan, karena untuk mendapatkan air bersih warga harus menunggu bantuan, jika tidak ada bantuan, warga terpaksa harus mencari air yang dapat dikonsumsi hingga puluhan kilometer. Maka dari itu warga sangat membutuhkan bantuan air bersih.

Kabid Humas MRI Pusat, Dudy Sya’bani Takdir mengaku lokasi ini adalah lokasi terparah yang dikunjungi tim Jelajah Kekeringan MRI, sebelumnya daerah yang dikunjungi adalah, Bogor, Cirebon, Boyolali, dan Banten.

“Dari beberapa lokasi yang kita datangi, ini yang lebih parah, karena kalau ngebor sumur jika terlalu dalam yang keluar air payau, tapi jika dangkal ngga keluar air. Jadi masyarakat ini cuma mengandalkan kiriman air aja,” ungkapnya.

Selain itu, sawah yang seharusnya ditanami padi, karena kering terpaksa petani menanam tebu, hal itu dilakukan agar para petani masih ada pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Akhirnya sawah yang seharusnya ditanami padi jadi ditanam tebu, itu pun ngga seberapa harganya, murah sekali, ternyata harga tebu 1 kwintal cuma 30 ribu, teman-teman bayangkan,  itu murah banget, ngga sebanding dengan usaha yang dikeluarkan dan air untuk kebutuhan sehari-hari mereka mengandalkan kiriman air,” tukasnya.