Demi Bangun Menara Masjid, Empat Warga Kenya Rela Bersepeda Hingga Makkah

Jakarta, relawan.id – Untuk mengumpulkan dana pembangunan Menara Masjid al-Furqan di Namanga, empat warga Kenya bersepeda ke Makkah, mereka juga menggalang dana guna membantu anak-anak Kenya yang membutuhkan.

Para pesepeda “Pedal to Hajj” itu Mohammed Zahir, Osman Idrissa, Mohammed Salim, dan Anwar Mansur. Sepanjang perjalanan mereka selama 35 hari terkumpul 3,9 juta Schilling atau 500 juta rupiah.

“Sejauh ini kami telah mengumpulkan sekitar Sh 3.9 juta (500 juta rupiah), tetapi kami belum mencapai target utama kami.  Kami memiliki kekurangan sekitar Sh 1.1 juta (150 juta rupiah),” kata Zahir seperti dilansir Daily Nation, Rabu (4/9/2019).

Para pesepeda juga menggalang dana dengan melelang kue dengan harga 100 ribu schiling atau 13 juta rupiah. Hasil pelelangan itu akan disumbangan untuk amal.

“Kami sekarang berpikir untuk mengerjakan proyek lain untuk mengumpulkan sisa uang yang kurang. Kami juga meminta anggota masyarakat untuk memberikan bantuan semampu mereka,” kata Zahir.

Sementara itu, Salim mengatakan bahwa mereka memiliki pengalaman yang sulit tetapi penuh petualangan. Menurut dia kerja sama tim menjadikan sebuah kekuatan bagi pihaknya.

Dia menegaskan, meskipun semuanya memiliki latar belakang yang berbeda, namun mampu diatasi ketika memulai perjalanan.

“Kami sedang mencoba melakukan sesuatu yang unik dan menunjukkan kepada orang lain bahwa semuanya dapat berhasil sampai ke kota suci tanpa mengambil penerbangan. Namun, kami harus membuat banyak pengorbanan. Ini semua tentang kesiapan fisik, psikologis, sosial, keuangan dan emosional. Kami berlatih selama satu tahun karena kami tahu itu bukan perjalanan yang mudah, “kata Salim.

Ia mengatakan, tim mampu menempuh total 3.500 km perjalanan. Selain itu, butuh 35 hari untuk menyelesaikan perjalanan yang mencakup 100 km setiap hari, dan disertai 10 hari istirahat.

Keempatnya bersepeda dari Nairobi ke Sudan melalui Ethiopia dan tiba di Madinah pada 18 Agustus. Mereka menyeberangi Laut Merah dengan perahu dan memasuki Kerajaan Arab Saudi dari Sudan, dengan jarak sekitar 334 km.

“Salah satu tantangan yang kami temui adalah hambatan bahasa. Ini mengajarkan kami bahwa orang harus belajar bahasa asing agar dapat memanfaatkan perdagangan dan peluang lain,” tambahnya.