Sumur di Grobogan Kering, Warga Berburu Air Bersih ke Hutan

Jateng, relawan.id – Musim kemarau selalu menjadi persoalan khusus bagi sebagian warga Kabupaten Grobogan, Jateng, yang tinggal di kawasan pegunungan kapur. Sumur-sumur di perkampungan bahkan sungai pun mengering. Mereka berburu air di mata air tengah hutan.

Di antara wilayah yang menderita kekeringan adalah Desa Monggot, Kecamatan Geyer. Di desa ini, pada bulan September, mata air sumur warga sudah lama mengering. Warga harus bersusah payah menembus belantara hutan.

Akses menuju lokasi berupa jalan setapak yang hanya bisa dilalui motor, sepeda dan pejalan kaki. Berliku dan naik turun. Lokasinya sekitar 500 meter dari jalan raya Solo-Purwodadi. Sumur itu di kaki sebuah bukit.

Diameter sumur sekitar 2 meter. Genangan air sumur terlihat di kedalaman sekitar 7 meter. Bibir sumur hanya berbentuk bebatuan yang ditata sedemikian rupa. Begitu juga dinding sumur yang juga berupa bebatuan yang tampak tertata.

Sumur ini ramai setiap hari selama masa musim kemarau. Terutama pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB hingga siang. Serta saat sore hari sekitar pukul 16.00 WIB hingga malam hari.

“Saya biasa ambil air dari sumur ini. Terutama saat musim kemarau seperti sekarang. Sumur di rumah sudah kering lama. Hampir tiga -empat bulan sumur tidak keluar air,” ujar Indah, warga Genengsari, Sabtu (7/9/2019).

“Jalannya juga harus hati-hati. Saya paling waswas kalau lewat jalan tikungan yang menanjak dekat sumur ini,” lanjutnya.

Hampir setiap hari, Indah mengambil air di sumur di hutan. Yaitu saat pagi dan sore hari untuk kebutuhan minum, memasak dan mandi anak-anaknya. “Kalau anak tidak mandi, ya bagaimana,” kata dia.

Setelah dua jerikennya penuh, Indah mengangkatnya ke wadah keranjang yang sudah terpasang di bagian belakang sepeda motor. “Saya habis ini masih harus kembali ke sini sampai empat kali. Sudah biasa,” kata Indah.

Sudarto, warga yang lain, juga mengaku biasa ambil air di sumur tengah hutan tersebut. Setiap mengambil air, dia akan bolak-balik sebanyak 4 kali untuk memenuhi tadon air di rumah. “Tapi saya tidak setiap hari. Paling tidak dua hari sekali pasti saya ambil air di hutan,” kata dia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan, Endang Sulistyaningsih, dikonfirmasi soal data terkini jumlah desa yang mengalami kekeringan, menuturkan jumlah pastinya.

“Sampai saat ini ada 105 desa dari 15 kecamatan (kekeringan),” kata Endang.