Perbarui Mandat UNRWA, Badan Bantuan Palestina Berjuang Cari Dukungan Internasional

Palestina, relawan.id – Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) tengah berjuang mencari dukungan agar mandatnya diperbarui untuk tiga tahun ke depan. UNRWA menilai perbaruan mandat diperlukan agar layanan kemanusiaan kepada para pengungsi Palestina tidak terhenti.

Juru bicara UNRWA Sami Mshasha mengatakan saat ini pihaknya sedang bekerja bersama Pemerintah Palestina, Yordania, dan Arab Saudi untuk mengumpulkan dukungan politik serta keuangan agar PBB memperbarui mandat UNRWA.

“Upaya-upaya ini penting untuk membantu UNRWA terus memberikan layanan kepada para pengungsi,” kata dia saat diwawancara radio Voice of Palestine, dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA, Sabtu (7/9).

Selain perihal mandat, UNRWA juga tengah menghadapi defisit keuangan. Untuk 2019, program-program UNRWA membutuhkan dana sebesar 1,2 miliar dolar AS. Namun ia masih mengalami kekurangan sebesar 120 juta dolar AS.

Pada 3 Agustus lalu, Palestina menggelar The Conference of Supervisors of Palestinian Affairs in Arab Host Countries digelar di kantor pusat Liga Arab di Kairo, Mesir. Konferensi itu dihelat untuk membahas perpanjangan mandat dan krisis finansial yang sedang dialami.

Pertemuan itu menegaskan dukungan agar UNRWA melanjutkan misinya sesuai dengan resolusi PBB No.302 tahun 1949.

“Pertemuan darurat, yang diadakan atas permintaan Palestina, meminta Sekretariat Jenderal Liga Arab dan misinya di luar negeri serta Dewan Duta Besar Arab, melanjutkan upaya mereka dalam mengaktifkan saluran diplomatik serta politik dengan negara-negara di seluruh dunia untuk mendesak mereka memilih mendukung mandat UNRWA,” kata UNRWA dalam laporannya.

Kepala Departemen Urusan Pengungsi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Ahmad Abu Houli yang turut menghadiri pertemuan di Kairo meminta negara anggota PBB mendukung UNRWA secara finansial. Dia pun meminta negara-negara agar mendukung pembaruan mandat badan tersebut.

Dalam pertemuan di Kairo itu pun ditekankan tentang pentingnya kehadiran Arab dalam Konferensi Tingkat Tinggi UNRWA yang akan diselenggarakan di sela-sela sesi sidang Majelis Umum PBB ke-74. Negara-negara Arab diharapkan dapat berkontribusi mengatasi defisit keuangan UNRWA yang ditaksir mencapai 120 juta dolar AS.

UNRWA harus menghadapi krisis sejak AS memutuskan menghentikan pendanaan atau kontribusi tahunannya untuk lembaga tersebut tahun lalu. AS diketahui merupakan negara donor terbesar bagi UNRWA karena menyumbang rata-rata 300 juta dolar AS setiap tahunnya.

Namun, UNRWA masih mampu bertahan berkat adanya dukungan dan sokongan dari sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Jepang, Inggris, Swedia, Jerman, Kanada, Australia, Qatar, dan Kuwait. Uni Eropa pun masih berkomitmen membantu misi kemanusiaan UNRWA.