Kabut Asap Selimuti Pekanbaru, Khatib Jumat Menangis

Oleh: Ibnu Hajar (Sekretaris Jenderal MRI )

relawan.id – Siang ini, Jumat (13/9/2019), kami mengunjungi Pekanbaru, Riau. Saat pertama masuk bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, kami langsung disergap dengan kabut asap yang sangat pekat. Bandara pun ramai dengan suara yang tidak biasa, yaitu suara batuk yang terdengar dari anak-anak dan balita, terlihat juga banyak yang menggunakan masker.

Karena sudah siang, kami mampir sebentar di Kantor ACT Pekanbaru dan langsung bergegas menuju Masjid Agung Abu Ad Darda untuk shalat Jumat. Masjid yang sangat megah dan ber-AC ini dibangun oleh seorang pengusaha dermawan tanpa bantuan dari pihak lainnya. Biarkan masjid dan pesantren ini menjadi ladang amal sholeh kami sekeluarga, mohon maaf kami belum bisa menerima bantuan pihak lain untuk membangun masjid dan pesantren ini. Tak sengaja, kami mendengar jamaah yang bergumam “sungguh pengusaha dermawan sejati”.

Setelah wudhu, kami pun duduk dengan rapi di barisan shaf shalat Jumat. Kami pun kembali mendengar batuk bersautan yang tiada henti sepanjang khutbah, anak-anak dan orang tua terlihat kesulitan menahan batuk yang terasa berat. 10 menit pertama khatib membuka khutbah dengan suaranya bergetar karena menahan tangis, tak terasa air mata ikut meleleh. Khutbah pun dilanjutkan. Jamaah sekalian, entah kenapa kita sudah Shalat Istisqa, doa bersama, mengangkat tangan ke langit untuk meminta hujan, agar api padam dan kabut asap berkurang, tapi hingga sekarang tak kunjung jugaa turun hujan, sepertinya Allah masih enggan mengabulkan doa dan permintaan kita. Astagfirullah.

Adakah diantara kita yang masih maksiat? Tanya khatib dengan suara bergetar dan meninggi, hingga pecah tangis sang khatib. Saya tak kuasa menahan air mata hingga ikut menangis. Khatib kembali menanyakan kepada jamaah, bagi yang masih curang berbisnis, bagi yang masih dusta, bagi yang masih mengurangi timbangan, bagi yang masih minum khamr, bagi yang masih berzina, bagi yang masih khianat amanah, bagi yang masih mengambil hak orang lain, bagi yang belum tunaikan zakat, bagi yang masih pelit bersedekah dan infaq, bagi yang belum khusyu beribadah, bagi yang belum ikhlas beramal sholeh. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk bertaubat, jangan tunda lagi. Mendengar khatib berkata seperti itu, semua jamaah pun menangis.

Jangan tunda lagi untuk bertaubat, jangan sampai bencana kabut asap ini merenggut jiwa sebagian keluarga kita, dan kita terlambat untuk bertaubat. Suara tangis pun semakin terdengar diikuti batuk yang tiada henti. Ya Allah, terima kasih. Hamba-Mu ini hadir di masjid sedang bertaubat.

Khutbah ditutup dengan pesan dari khatib. Ingat, sempurnakan taubat dengan bersedekah dan berinfaq untuk membantu saudara kita yang miskin dan anak-anak atau orangtua yang sakit terkena kabut asap. Ayo saling bantu agar Allah kabulkan doa kita semua. Aamiin ya Allah. Tak lupa khatib pun menutup dengan nasihat yang menyentuh hati, “saudara miskin kita di 7 Kabupaten dan Kota di Riau sedang membutuhkan bantuan Air Purifier (alat penyaring udara) agar di rumah mereka, anak-anak dan orangtua bias bertahan dari kepungan kabut asap yang sangat pekat dan berbahaya, harga Air Purifier untuk rumah ukuran 21 meter sekitar 2,5 juta sampai dengan 3 jutaan.”

Maka dari itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) mengajak para sahabat dermawan menjadi bagian dari solusi bencana kabut asap ini. Tim relawan pun sudah diterjunkan untuk ikut memadamkan api, membagikan masker, dan tim medis pun ikut diturunkan untuk mengobati masyarakat yang sakit pernafasan. Oleh karena itu kita perlu bantuan lebih lanjut untuk masing-masing keluarga miskin agar memiliki alat penyaring udara.

Yuk Bantu saudara kita memiliki Air Purifier agar mereka anak anak dan orang tua bisa kembali menghirup udara segar di Riau dan sekitarnya.

Apakah anda sang Dermawan yang mereka tunggu?

#IndonesiaDermawan