Akibat Karhutla, 504.000 Warga Kalbar Terkena ISPA

Kalbar, relawan.id – Sebanyak 504.000 warga terutama anak-anak terdampak ISPA karena kabut asap akibat kebakaran hudan dan lahan (Karhutla) di provinsi itu.

“Dari data kami dapat 504.000 orang terutama anak-anak terdampak ISPA. Tidak hanya itu hilangnya keragaman hayati serta terganggunya aktifitas ekonomi akibat pembatalan penerbangan baik internasional maupun domestik dimana terjadi hampir di sebagian pulau besar Indonesia khususnya Sumatera, Jawa dan Kalimantan,” kata Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Inspektur Jenderal Pol Didi Haryono di Pontianak, Ahad (29/9/2019).

Ia menjelaskan, sekitar Rp 220 triliun kerugian ekonomi Indonesia akibat Karhutla. Sebab, pada saat itu Kalbar merupakan salah satu dari enam provinsi penyumbang kabut asap terbesar di Indonesia.

“Beberapa penekanan Pak Presiden antara lain bahwa kejadian Karhutla pada tahun 2015 dan tahun-tahun sebelumnya jangan sampai terulang kembali. Jumlah hotspot harus turun tiap tahunnya, lakukan pencegahan jangan sampai api besar baru bingung dipadamkan,” bebernya.

Kapolda menambahkan, Kalbar memiliki kondisi geografis dengan luas wilayah 146.807,90 kilometer persegi meliputi luas daratan 110.000 kilometer persegi atau setara 74,93 persen terdapat lahan perkebunan dan pertanian, dan juga hamparan lahan gambut yang cukup luas di setiap wilayah Kalbar.

“Potensi geografis yang luas ini menjadikan sebuah potensi bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan dengan cara membakar,” tuturnya.

Menurutnya, sebaran hotspot di Kalbar berdasarkan pengolahan data lapan oleh BMKG, menyebutkan hotspot sepanjang bulan Agustus 2019 terdapat sejumlah 7.655 titik panas di Kalbar. Yang di mana hotspot terbanyak terdapat di Kabupaten Ketapang yaitu sejumlah 2.126 titik panas dan Kabupaten Sanggau sejumlah 1440 titik panas. Sedangkan dari tanggal 1 September sampai dengan 23 September 2019 di Kalbar terdapat sebanyak 15.767 hotspot. Kabupaten Ketapang menjadi penyumbang terbesar dengan 8.652 titik panas.

“Pada 24 September 2019 sampai dengan 25 September 2019 kita bersyukur karena hampir di seluruh wilayah Kalimantan turun hujan sehingga data menyebutkan hotspot di Kalimantan berkurang secara signifikan menjadi hanya 34 titik panas,” ungkapnya.