MRI Bantu ACT Pulangkan Para Pengungsi Korban Kerusuhan Wamena

Wamena, relawan.id – Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) turut membantu Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam proses pemulangan para pengungsi yang terjebak di Wamena, Kamis (3/10/2019).

MRI membantu para pengungsi dengan mendata jumlah keluarga yang ikut mengungsi serta membantu mencari sanak saudaranya yang hilang kontak dan belum ditemukan saat kerusuhan.

ACT memulangkan ratusan warga terdampak tragedi kemanusiaan di Wamena ke kampung halamannya di Sumatera Barat, Kamis (3/10/2019). Keberangkatan tersebut menggunakan pesawat komersil yang difasilitasi oleh ACT yang berkolaborasi dengan Xpress Air.

Total pengungsi yang dipulangkan sekitar 130 yang terdiri dari 128 warga dan 2 pendamping dari ACT.

Ketua Dewan Pembina ACT, Ahyudin mengatakan, pemberangkatan para pengungsi merupakan ikhtiar ACT dalam memberikan jalan keluar dari situasi mereka saat ini. Hal ini mengingat mereka sudah berada cukup lama di pengungsian dan ingin kembali ke kampung halamannya.

“Tidak ada tempat pengungsian yang nyaman. Mereka tetap dalam tekanan perasaan takut. Dalam prinsip-prinsip kemanusiaan, tentu orang yang merasa jaminan kehidupannya tidak ada, dan menginginkan untuk keluar dari situasi itu. Tugas kita adalah mendukungnya dan membantunya,” kata Ahyudin di Bandar Udara Sentani, Kamis (3/10/2019).

Meskipun diliputi perasaan duka, Ahyudin selalu menekankan kepada para pengungsi agar terus membawa semangat perdamaian. Ia mengajak warga terdampak untuk terus mencintai tanah Papua dan tanah air, apapun yang terjadi.

“Saya sudah pesan juga kepada seluruh pengungsi, mari kita pulang ke kampung halaman membawa semangat perdamaian, semangat persaudaraan, mencintai Papua, mencintai tanah air, tidak boleh ada perasaan benci, dendam dan lain sebagainya. Itu bukan watak bangsa kita,” ungkapnya.

Namun, kata Ahyudin, masih banyak juga masyarakat yang belum mau keluar dari Wamena. Sari Aprilia salah satunya, yang hari itu segera pulang ke Sumatra Barat. Ia akan pulang ke Wamena lagi setelah kondisinya aman.

“Senang rasanya karena bisa pulang. Tapi sedih juga karena suami dan kakak ipar masih tertahan di Wamena karena belum dapat jadwal Hercules. Kami ingin pulang ke kampung cuma sementara, nanti kembali lagi kalau Wamena sudah aman,” ujar Sari.

Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang masih bertahan, ACT berencana akan terus menjalankan program pemenuhan pangan. Selain itu, layanan kesehatan juga diteruskan di pengungsian-pengungsian di Papua.

“Jadi kita di sini sudah punya gudang logistik sejak dari awal ACT berkiprah di sini. Hal yang pertama yang dilakukan adalah mencukupi logistik pangan untuk mereka. ACT juga menerjunkan begitu banyak relawan medis di sini. Jadi insyaallah, tahapan kali ini di samping kita terus memberikan layanan-layanan kesehatan dan layanan pangan,” tuturnya.

Hari ini, Jumat (4/10/2019) ACT berencana kembali melakukan pemulangan pengungsi menggunakan pesawat ke Sumatra Barat dengan jumlah sekitar 100 orang. Selain itu, bagi warga yang mengungsi, ACT juga berencana akan membuatkan tempat tinggal sementara untuk paara pengungsi.

Dalam kesempatan itu juga Ahyudin berpesan kepada masyarakat Indonesia untuk selalu menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Terutama di tengah-tengah kondisi bangsa yang sedang terpapar berbagai macam musibah, bukan hanya karena konflik di Wamena.

“Tapi ada juga korban gempa di Ambon, ada korban bencana asap juga di enam provinsi, ada juga korban kekeringan, ada begitu banyak penderitaan. Musibah ini tidak boleh membuat kita pesimis teman-teman semuanya. Mari kita buktikan bangsa ini bangsa yang berenergi, bangsa yang besar bisa menyelesaikan apapun persoalan yang kita hadapi,” pesannya.