Sekjen MRI Sebut ACT Akan Bantu Pengungsi Bangun Rumah di Wamena

Jakarta, relawan.id – Aksi Cepat Tanggap (ACT) berencana membantu membangun rumah di Wamena, Papua untuk para pengungsi yang ingin kembali ke daerah itu setelah situasi sudah aman dan kondusif.

“Ini salah satu rencana, kami akan bangun 165 rumah dan untuk recovery jika dukungan publik dan donor cukup kuat kami juga bisa selesaikan 400 lebih ruko-ruko yang rusak,” ungkap Sekjen Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Ibnu Khajar di Menara 165, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Hal itu dilakukan, karena saat mengantarkan para pengungsi ke kampung halamannya, Ia menanyakan apakah mereka ingi kembali ke Wamena, para pengungsi pun menjawab bahwa mereka ingin kembali ke Wamena karena kehidupan mereka ada di Wamena.

“Kami ingin kembali ke Wamena karena kehidupan kami ada di Wamena, kemudian mereka bertanya, kalau kami kembali kesana kami tinggal dimana? kalau kami kembali kesana anak-anak kami akan sekolah dimana, kalau kami kembali kesana tempat ibadah kami nanti dimana,” tuturnya.

Meski Wamena tidak ada kejadian lagi, kata Ibnu, beberapa kondisi masih mencekam, 165 rumah dibakar, 465 ruko-ruko dibakar, 5 kantor rusak berat, 15 kantor dibakar, 242 mobil dibakar dan 145 motor dibakar.

“Kami ingin sampaikan kepada masyarakat bahwa mereka sedang sebentar ketemu dengan keluarga besarnya untuk mengobati bencana, menenangkan diri dari kondisi kegelisahan yang luar biasa, ketakutan yang luar biasa, mereka sebentar kita antar untuk mengobati. Yang pulang sebagian besar adalah ibu-ibu, anak-anak, orang-orang jompo, dan orang-orang lansia yang kita pulangkan terlebih dahulu, karena ketakutan yang luar biasa,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Ibnu juga mengatakan bahwa di Papua tidak ada istilah Papua dan pendatang, semua yang di Papua, maka dari itu, tidak perlu ada perbedaan-perbedaan lagi, karena Papua penduduk asli Indonesia.

“Semua yang tinggal di Papua maka dia orang Papua, tidak perlu ada penjelasan tentang siapa pendatang dan siapa orang Papua, mungkin kulitnya berbeda, mungkin matanya berbeda, mungkin warna tubuhnya berbeda. Maka dari itu tidak perlu ada perbedaan-perbedaan lagi, karena Papua penduduk asli Indonesia bukan penduduk yang kemudian digabung dengan Indonesia,” tegasnya.