MRI-ACT Berikan Penghargaan untuk dr. Soeko Marsetiyo

Semarang, relawan.id – Lima belas tahun lamanya dr. Soeko Marsetiyo mengabdi di timur Indonesia atas dasar kemanusiaan. Kini, masa pengabdian itu telah usai, seiring wafatnya dokter asal Semarang tersebut. Dr. Soeko merupakan satu dari puluhan korban jiwa dari tragedi kemanusiaan di Wamena, Rabu (25/9/2019).

Sebagai bentuk rasa kemanusiaan, Tim MRI-ACT Jawa Tengah berkunjung ke rumah dr. Soeko Marsetyo yang berada di Perumahan Permata Hijau untuk memberikan penghargaan atas jasa pembangunan kesehatan di Wamena.

“Beliau meninggal dunia pada hari Senin, 23 September 2019 dan dimakamkan pada Jumat, 27 September 2019 di Sleman, Yogyakarta. Sehari-hari, dr. Soeko tinggal di Kabupaten Tolikara dan hanya sesekali ke Wamena. Saat kejadian, beliau sedang dalam perjalanan ke Wamena, lalu tiba-tiba dicegat dan dianiaya,” ungkap istri dr. Soeko, Ani.

Humas MRI Jawa Tengah, Muhammad Afifuddin mengatakan dr. Soeko merupakan pribadi yang layak menerima penghargaan atas pengorbanan jiwa dan raganaya di bidang kesehatan dan medis.

“Kepribadian dan visi hidupnya patut dicontoh dan diteladani setiap relawan. Terima kasih, dr. Soeko,” ungkapnya.

Sosok almarhum di mata keluarganya adalah seorang ayah yang memiliki jiwa kemanusiaan, bertanggung jawab, penyayang, dan religius. Lima belas tahun lalu, dr. Soeko memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi dokter dengan mengikuti program pemerintah di Papua.

Ani mengenang bagaimana mendiang suaminya begitu tergerak untuk bertugas di pelosok negeri. “Kalau hanya materi yang dikejar, tentu tidak perlu jauh-jauh ke Papua. Beliau dulu sebenarnya sudah mendapatkan izin buka praktik di Semarang. Namun, beliau ingin bermanfaat lebih kepada sesama, maka Papua tetap menjadi pilihannya,” ungap Ani.

Lima belas tahun mengabdi dan membaur dengan masyarakat Tolikara dan Wamena membuat dr. Soeko dicintai warga sekitar. Menurut anak pertama almarhum dr. Soeko, Afina Mirra Astuti, masyarakat Tolikara amat mengandalkan dr. Soeko untuk kebutuhan medis mereka. Hal ini menjadi salah satu alasan dr. Soeko cinta dan totalitas mengabdikan diri, sehingga jarang juga pulang ke Semarang.

“Papa orang yang hebat, tulus, bisa mengabdi kepada masyarakat tanpa mengharap apapun. Saya harus tiru jiwa ketulusan dan keikhlasannya. Kita juga jarang ketemu, kangen Papa,” papar Afina dalam isak tangisnya.

Komunikasi dengan keluarga biasa dilakukan dengan SMS karena akses internet yang buruk di tempat almarhum bekerja. Ani menambahkan, dr. Soeko kerap memberikan semangat untuk keluarganya serta mengirimkan potongan ayat Al-Quran melalui pesan singkat.

“Beliau sering mengingatkan saya dan anak-anak, bahwa kelak di akhir zaman, Allah akan melenyapkan seluruh Al-Quran di muka bumi. Maka ayo segera, mumpung masih sempat kita jangan sia-siakan waktu, pelajari dan baca Al-Quran,” kenang Ani.