Ini Manfaat Jadi Relawan Bagi Kesehatan Otak

Jakarta, relawan.id – “Lebih baik memberi daripada menerima”? Tampaknya memang benar kata-kata ini adanya. Bahkan, jika diterapkan dalam kehidupan, dampaknya tak hanya bisa dirasakan orang sekitar, tapi juga untuk kesehatan si pelaku. Ada banyak sekali cara untuk berbuat baik. Salah satunya adalah dengan menjadi relawan. Nah, katanya, menjadi relawan itu bermanfaat bagi otak. Bagaimana kaitannya?

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, meneliti kaitan antara menjadi relawan dengan kesehatan otak. Studi ini memberikan pilihan kepada 45 relawan partisipan: menyelesaikan tugas yang manfaatnya hanya dirasakan diri sendiri, beramal, atau membantu seseorang yang membutuhkan. Setelahnya, pemindaian otak menunjukkan perbedaan yang mencolok sekaligus menarik berdasarkan pilihan mereka.

Pada partisipan yang memilih untuk membantu seseorang yang membutuhkan, terlihat adanya peningkatan pada dua pusat imbalan otak (reward center). Tak hanya itu, ditemukan juga penurunan aktivitas otak di tiga area otak lainnya yang tugasnya membantu menginformasi tubuh akan respons fisik terhadap stres lewat tekanan darah dan inflamasi.

Pada studi kedua dari universitas yang sama, peneliti melibatkan 400 relawan yang diminta untuk melaporkan kegiatan sukarela yang biasa mereka lakukan. Hasilnya pun serupa.

“Ketika dilahirkan, manusia sangat rentan (terhadap serangan fisik, emosional, atau bahaya) dan tergantung pada orang lain,” jelas Tristen Inagaki, PhD, asisten profesor psikologi di Universitas Pitsburg yang memimpin kedua studi yang diterbitkan di jurnal “Psychosomatic Medicine” tersebut. “Hasilnya, manusia membutuhkan periode waktu tertentu untuk secara intens memberi demi kelangsungan hidup,” lanjutnya.

Manfaat lain dari berbuat baik terhadap sesama

Keinginan naluriah untuk membantu sesama mungkin bergantung pada area tertentu di otak. Tristen mengatakan, mekanisme yang membuat seseorang membantu orang lain yang membutuhkan juga dapat berkontribusi pada kesehatan jangka panjang.

Menurut studi tahun 2005 yang ada di “Journal Health of Psychology”, orang-orang yang menjadi relawan lebih jarang sakit dan umurnya lebih panjang.

Membantu orang-orang yang membutuhkan juga terbukti dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang, melihat dunia dengan lebih positif, mengurangi risiko perilaku bermasalah, serta mencegah depresi. Tak hanya itu, makin sering Anda membantu sesama, Anda akan jadi “ketagihan”, dalam arti Anda ingin terus membantu mereka yang membutuhkan.

“Membantu orang lain yang membutuhkan pikiran dan emosi, yang memungkinkan pikiran untuk bergerak melewati kecemasan dan perenungan (rumination), kata Stephen G. Post, PhD, direktur Center for Medical Humanities, Compassionate Care and Bioethics di Universitas Stony Brook, AS, kepada Healthline. Ia melanjutkan, bahwa ketika Anda sekadar membantu seseorang (bukan sebagai relawan), emosi yang dirasakan akan secara perlahan beralih menjadi sukacita dan kebaikan.

Bagaimana jika tak punya waktu untuk menjadi relawan?

Seperti yang disebutkan di atas, sebetulnya Anda tak harus menjadi relawan untuk mendapatkan manfaat baik untuk otak. Cobalah untuk konsisten berbuat baik kepada sesama, siapa saja orang yang ada di sekitar Anda, sekaligus tanamkan perilaku positif lebih dalam diri.

Kembali lagi, ada banyak cara untuk berbuat baik. Banyak bersedekah atau menjadi dermawan juga efeknya baik. Menurut penelitian tahun 2016 yang dilakukan di Universitas Zurich, Swiss, perilaku dermawan dapat meningkatkan suatu sinyal di otak yang diikuti dengan meningkatnya kebahagiaan.

Sinyal yang ditangkap melalui pemeriksaan fMRI (functional magnetic resonance imaging) ini memperlihatkan bagian striatum ventral dan korteks orbitofrontal yang mengalami peningkatan sinyal.

Sinyal kebahagiaan yang ditunjukkan pada bagian otak tersebut dipicu oleh memberi sedekah atau bentuk lainnya. Menariknya, sinyal ini dapat berkurang drastis ketika seseorang menjadi egois dan serakah.

Studi lainnya juga menemukan bahwa responden yang menggunakan uangnya untuk orang lain memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding dengan responden yang menggunakan uangnya untuk diri sendiri.

Ada satu hal yang lebih menarik lagi. Peneliti menemukan bahwa “hanya” dengan membuat komitmen verbal untuk bertindak lebih murah hati di masa depan, dapat mengaktifkan area tertentu di otak yang meningkatkan kebahagiaan.

Berbuat baik itu tidak sulit

Menjadi baik itu bukan hanya “bawaan lahir”, tapi juga bisa dipelajari. Stephen mengatakan, berbuat baik adalah seperti transmisi, tentang memindahkan obor dari satu orang ke orang lainnya, dengan memperhatikan intonasi, ekspresi wajah, berbagai tindakan sederhana, ada ketika dibutuhkan, serta kemauan untuk mendengarkan.

Jika Anda belum mampu menjadi relawan, paling tidak berbuat baiklah terhadap sesama. Tak harus membantu orang-orang yang tak Anda kenal, tapi cobalah selalu ada untuk teman-teman dan keluarga yang mungkin membutuhkan bantuan Anda. Cobalah untuk lebih ramah terhadap orang lain, tidak menghakimi, dan perbanyak menebar senyum. Niscaya, Anda akan senantiasa menjadi orang yang bahagia, dan kebahagiaan dapat menjadi modal untuk Anda hidup sehat, sehingga kesehatan tubuh (termasuk otak) juga akan terjaga hingga tua.