Belajar dari Pohon Kelapa, Romy Falsa Ingin Bermanfaat Bagi Sesama

Relawan.idLakukan apa yang kamu cintai. Cintai apa yang kamu lakukan. Kutipan menarik dari Steve Jobs di atas adalah kalimat yang sangat tepat untuk menggambarkan kiprah pemuda bernama lengkap Romy Falsa ini. Kecintaannya pada dunia kerelawanan membuat dirinya mengorbankan kepentingan pribadinya demi menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Bagi Romy, untuk memberikan manfaat bagi orang lain tidaklah sulit. Ada banyak hal sederhana yang ketika dilakukan mampu memberi manfaat besar bagi sesama, salah satunya menjadi relawan. Meski menjadi relawan kemanusiaan lebih banyak dukannya dibanding suka, tapi hal itu bukan masalah baginya.

Tapi, pria kelahiran 1996 tahun ini, rela menjadi relawan hanya untuk berbuat kebaikan dengan menolong sesama yang sedang mengalami kesulitan. Menjadi seorang relawan harus rela meluangkan waktu, tenaga, harta bahkan bertaruh nyawa untuk melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Tapi bagi Romy, relawan menjadikan dirinya terus belajar dan belajar dalam penanganan berbagai musibah yang dihadapi, serta menjadi lebih bertanggung jawab dengan tugas-tugas untuk saling peduli dengan lingkungan sekitar.

“Saya tertarik karena ingin melakukan banyak hal untuk orang banyak serta mengetahui kondisi saudara-saudara yang berada di luar sana. Walaupun seorang relawan yang tidak dapat membantu dengan materi, namun dapat membantu dengan tenaga dan mengembalikan kebahagiaan mereka. Karena, jika hari ini kita telah berbuat baik dan menolong orang yang lagi kesusahan, maka Allah akan membalas kebaikan kita suatu hari nanti,” ujar pria kelahiran Medan ini.

Hidup ini keras, jadilah orang yang bermanfaat,” kata-kata inilah yang biasa diucapkan orang Medan, hingga akhirnya kata-kata itu terus terlintas dibenak Romy, yang membuat dia bergabung menjadi relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) agar bermanfaat bagi orang banyak meski itu tak banyak.

Sebelum akhirnya bergabung dengan MRI, Romy memiliki kesibukan di bangku perkuliahan, tak hanya itu Romy juga dipercaya menjadi staf marketing untuk mencari mitra kemanusiaan di bidang sosial melalui internet. Dari situ Romy mendapat mitra yaitu Aksi Cepat Tanggap (ACT-MRI) wilayah Sumatera Utara sekitar tahun 2015. Satu tahun berlalu, ACT-MRI mengadakan Global Qurban yang salah satunya Romy dipilih menjadi panitia Qurban di kampus dirinya kuliah.

“Saya mencari tahu lebih dalam mengapa ACT memiliki relawan, oleh karena itu dengan kesibukan sebagai staf marketing dan media sosial, saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Akhirnya tahun 2018, saya bergabung menjadi relawan MRI demi untuk misi kemanusiaan,” ungkapnya.

Setelah bergabung dengan MRI, akhirnya Romy menjalani kesibukannya dengan menjadi relawan, dan dipercaya menjadi Humas MRI Sumut untuk mengelola media sosial, baginya jabatan yang diembannya sekarang adalah tulang tombak sebuah informasi untuk orang banyak, seberapa, meski kini dirinya tengah bekerja di sebagai operator sekolah, tapi Romy tetap menyempatkan untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan relawan di Sumatera Utara.

“Seberapa sibuk pun tetap saya sempatkan untuk terus update akan berita yang disampaikan di media sosial. Termasuk tanya jawab kepada calon relawan, mitra yang ingin berdonasi, dan lainnya,” tukasnya.

Kiprah Romy selama di MRI patut diacungi jempol karena dia selalu memberikan informasi-informasi kegiatan-kegiatan yang up to date, mengelola akun media sosial dengan baik, tak hanya itu Romy juga rela berkorban untuk menghabiskan waktunya di lapangan, hanya untuk memberikan informasi kepada khalayak. Karena baginya kesuksesan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh keberhasilan seorang humas dalam mempertahankan citra positif di masyarakat.

“Tentunya peran humas sangat krusial. Dalam hal ini humas harus memberikan informasi berdasarkan fakta dan keakuratan tentang segala informasi dalam sebuah organisasi. Tentunya dengan penyampaian yang benar maka informasi itu akan bisa diterima dengan mudah oleh publik,” ungkapnya.

Selama menjadi relawan, banyak suka dan duka yang dialaminya seperti memiliki pengalaman dan menambah wawasan, bertemu dengan para relawan diberbagai wilayah, dapat berbagai informasi, mengetahui berbagai karakter di luar sana, mengetahui akan kondisi yang membutuhkan, rela meninggalkan keluarga, berjuang menghadapi medan yang ekstrim, dan melawan kerasnya kehidupan dengan kondisi bencana di lapangan.

Jadilah seperti pohon kelapa. Tumbuh, mati, buah dan daun jatuh ke tanah”, motivasi itulah yang membuat Romy terus semangat, karena bagi Romy kata-kata itu memiliki makna yang besar, yaitu setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat hidup layak dan kuat, namun jadikanlah hidup yang sangat bermanfaat memiliki banyak amal ibadah yang suatu saat bisa digunakan orang banyak hingga sampai ke anak cucu.

Tak hanya suka dan duka, Romy juga menceritakan pengalaman yang paling berkesan selama menjadi relawan yaitu saat Romy terjun langsung  membantu korban banjir di sungai Deli yang berada di Sumatera Utara. Disana Romy melihat salah satu warga yang menunggu bantuan di atap loteng, ia adalah seorang kakek berusia sekitar 65 tahun, setelah diberikan pertolongan, relawan membawanya ke tenda pengungsian. Saat di tenda pengungsian kakek tersebut memberikan makanan kepada relawan.

“Begitu juga saat terjadi kebakaran, saya dan tim BPBD diajak oleh masyarakat sekitar untuk makan malam di rumah salah satu warga, sangat mengharukan. Disaat mereka mengalami kesusahan disitu juga mereka dapat saling berbagi walaupun dalam keadaan seadanya yang dapat kami makan. Saya waktu itu sempat kehilangan dompet beserta isinya dan tidak memiliki uang sedikitpun, namun di balik apa yang telah kami lakukan, kami mendapat feedback nya dari yang maha kuasa. Kisah sedih dan kesan yang tak pernah saya lupakan ini akan menjadi pelajaran hidup bagaimana kita harus tetap mensyukuri nikmat Allah SWT,” tuturnya.