Ini Tips Pulihkan Trauma Pasca Bencana Alam

Jakarta, relawan.id – Gempa yang mengguncang Ambon, Maluku telah mengakibatkan banyak kerusakan dan menelan puluhan korban jiwa. Mereka yang terdampak terpaksa harus mengungsi ke tempat-tempat aman, untuk menhindari gempa susulan, karena gempa merupakan suatu kejadian yang tiba-tiba, tak terduga, tak dapat dicegah dan mengakibatkan kehilangan dan kerusakan.

Bagi para korban dari kejadian ini tentunya dapat menimbulkan trauma yang mendalam ataupun korban biasanya rentan terhadap stres, karena kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Begitu juga dengan kerusakan pada harta benda seperti rumah, sekolah, kendaraan, sawah dan lainnya menyebabkan terganggunya aktivitas terkait pekerjaan, sekolah, dan ibadah. Terlebih lagi, apabila bencana tersebut berlangsung terus menerus dan belum pasti kapan akan berakhir.

Gangguan trauma paska stres atau yang dikenal juga sebagai Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah sebuah kondisi gangguan kesehatan mental akibat peristiwa yang mengerikan, seperti kecelakaan, perang, ataupun kejadian bencana alam (gempa bumi, tsunami, longsor dan lainnya).

Seperti dilansir Skata, pemulihan trauma pasca bencana akan mencegah munculnya gangguan psikologis yang lebih berat. Selain itu, pemberian pelayanan psikologis yang intensif dalam level individu, kelompok atau komunitas bagi korban bencana dapat meningkatkan ketahanan (resiliensi) sehingga kelak mereka menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi permasalahan yang ada.

Apa saja kira-kira yang bisa kita lakukan untuk memulihkan kondisi tersebut.

1. Meminimalkan paparan media yang memberitakan tentang bencana atau peristiwa tersebut

2. Menghindarkan mereka dari tempat-tempat dimana kejadian mengerikan itu berlangsung

3. Memberikan dukungan, kita perlu menunjukkan bahwa kita peduli dan berempati terhadap kondisi korban.

4. Memberikan donasi dalam bentuk pangan, sandang, dan papan.

5. Mengajak para korban untuk bermain dan bersenda gurau, hal ini dapat meringankan tekanan traumatis yang dialami korban

6. Melakukan kegiatan bersama-sama seperti memasak di dapur umum

7. Menjadi pendengar cerita para korban, bila mereka siap menceritakan musibah yang dialaminya

Secara moral, dukungan psikososial ditujukan untuk melepaskan korban dari perasaan ketakutan yang dialaminya, bukannya bertujuan untuk melupakan peristiwa pahit tersebut. Dan kegiatan yang dilakukan bersama-sama memberikan efek psikologis yang kuat kepada korban yang menandakan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi peristiwa ini.

Selain itu edukasi seputar informasi bencana atau informasi bantuan pun menjadi hal yang penting dan dapat disampaikan kepada korban sehingga apabila bencana susulan terjadi para korban mengerti apa yang harus dilakukan.

Kondisi psikologis seseorang setelah mengalami trauma dapat kembali pulih atau normal. Tentunya pemulihan kondisi psikologis seseorang tergantung dari bagaimana mereka mampu menghadapi situasi sulit serta ketersediaan sumber-sumber daya lokal yang dapat menunjang proses pemulihan trauma.

Namun, tidak dipungkiri bahwa gangguan trauma dapat menetap dan berkepanjangan sehingga memerlukan penanganan yang lebih lanjut dan bersifat holistik.