Suara Hati Mantan Pecandu Narkoba, Berbuat Baik Melalui MRI

Jakarta, relawan.id – Mendapatkan kepercayaan banyak orang merupakan sesuatu yang penting dalam hidup seseorang. Bukan hanya untuk ketenangan dalam hidup saja, seorang yang jujur dan dapat dipercaya biasanya akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan, maupun untuk mendapatkan kesuksesan dalam berbisnis.

Tapi bagaimana dengan mantan pecandu narkoba, pasti sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, hal itulah yang dirasakan Darwis, demikian nama panggilan akrabnya. Dia adalah mantan seorang pecandu narkoba yang sempat ‘bersahabat’ dengan narkoba selama puluhan tahun. Sekian lama jatuh bangun menjalani kehidupan kelam seorang pecandu. Hingga semangat perubahan meneranginya untuk mengubah gaya hidup suram menjadi gaya hidup sehat seperti umumnya. Tentunya tidak mudah dilakukannya, namun bertahap Darwis menemukan titik terang dari perjalanan suram masa lalunya yang hampir tak ada impian masa depan di dalam benaknya saat itu.

Melalui sebuah organisasi Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Darwis menemukan tempat untuk melakukan kebaikan, karena baginya 12 tahun sudah di dunia gelap, kini dirinya ingin menebus semua itu dengan berbuat baik. Selain itu, Darwis juga membantu keluarga yang ketergantungan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Nafza).

“Saat terbentuknya  MRI di Labuhanbatu Utara 4 bulan yang lalu, rasa ingin berbuat kebaikan itu muncul, mungkin di sini lah wadah berbuat baik, karena selama ini di lembah hitam, itulah motivasi bergabung di MRI,” ungkapnya

Saat MRI Labuhanbatu Utara ini terbentuk, Darwis dipercaya menjadi bagian kemitraan, meski baginya menjabat hal itu adalah pekerjaan yang tidak mudah karena harus berhadapan langsung dengan masyarakat banyak, terlebih stigma masyarakat kepadanya kurang baik, karena Darwis mantan pecandu narkoba, tapi Darwis tak pernah berkecil hati, baginya hal itu adalah ujian dari Allah.

“Sekarang ini saya sedang menjalin hubungan dengan sekolah, kami tawarkan kerja sama ke sekolah-sekolah yang mau membantu masyarakat yang terkena bencana. Saat ini sudah ada 2 sekolah yang mau bekerja sama dengan MRI, dan ada satu lagi PT Perkebunan untuk CSR nya. Saat ini sudah ada 2 sekolah dan 1 perkebunan yang sudah kerja sama dari bidang kemitraan. Insya Allah akan kami besarkan MRI di Labura ini,” tukasnya.

Selama di MRI, kendala yang kerap dihadapi Darwis adalah stigma masyarakat terhadapnya karena berlatar belakang dari mantan pecandu. Sehingga anggapan masyarakat sekitar saat Darwis menjalankan tugasnya kerap dianggap modus. Memang baginya mencari kepercayaan itu sulit, tapi Darwis tetap tegar dalam menghadapinya.

“Biarkan seperti air mengalir, karena Allah yang memberi jalan. Jalani aja, kalau dilawan susah, malah kita yang sakit sendiri, saya hanya fokus, istiqomah karena Allah akan memberikan jalannya,” tuturnya.

Selain itu, Darwis memiliki pengalaman yang sangat berkesan ketika menjalankan tugas ke Pekanbaru saat kabut asap. Waktu itu Darwis sedang membagikan logistik di Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar, Riau. Dia bertemu dengan seorang ibu yang sudah tua tiba-tiba menangis, dan ibu itu bilang “kalian jauh-jauh datang kemari hanya mengantarkan sembako”

“Kami bagi sembako waktu asap kemarin di Kabupaten Kampar, ibu itu menciumi saya, memeluk saya, sampai netes air mata saya. Dia bilang terharu, kami tahu relawan ini ngga ada gajinya, semoga Allah yang membalas jasa kalian. Habis itu saya terharu, walau pun saya dari dunia gelap, saya ingin berbuat kebaikan, dari situ saya merasa terharu, itu orangnya sudah tua, ibu-ibu. Itulah kenangan yang tak bisa saya lupakan,” pungkasnya.