Berjuta Cinta Dokter Aisyah, Sang Relawan untuk Kerja Kemanusiaan

Serang, relawan.id – Sudah seharusnya jika setiap manusia selalu melakukan kebaikan-kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan hal-hal yang baik, maka tentu saja akan membuat kehidupan di dunia ini akan menjadi lebih baik. Hal itu seperti apa yang dilakukan Aisyah, relawan medis Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

Aisyah menjadi relawan medis sudah sekitar 1 tahun lebih, alasan terbesarnya untuk menjadi relawan adalah ingin berbuat baik dan bermanfaat bagi orang banyak, hal itu adalah sebagai bekal untuk akhirat. Hal itu juga lah yang diajarkan orangtuanya kepada Aisyah. Sukses dalam hidup itu adalah sukses di kehidupan dunia maupun akhirat.  Maka dari itu berbuat baik kepada sesama adalah kunci sukses dalam kehidupannya.

“Kalau saya sih sebenarnya jadi relawan itu adalah seperti gini, kita itu jangan hanya mencari dunia tapi kita juga harus mencari untuk bekal di akhirat. Jadi istilahnya kalau untuk saya adalah penyeimbang antara dunia dan akhirat, dan saya mau, hidup saya itu bermanfaat untuk orang lain. Keluarga saya itu selalu bilang, silakan pergi, silakan melakukan sesuatu yang memang kamu bisa mempertanggungjawabkannya dan bisa bermanfaat untuk orang banyak. Jadi ayah saya selalu bilang, silakan kamu pergi tapi kamu bisa mempertanggungjawabkannya dan itu memang untuk orang banyak,” ujarnya.

Selama menjadi relawan MRI, perempuan kelahiran 1989 ini rela meninggalkan pekerjaannya untuk membantu masyarakat yang lebih membutuhkannya dengan pergi ke tempat yang terdampak bencana alam, seperti bencana gempa di Lombok yang terjadi 2018, likuifaksi di Palu. Aisyah tak kenal lelah untuk membantu masyarakat banyak, karena setelah dari Palu dia langsung pergi ke Banten untuk membantu masyarakat di sana yang pada waktu itu terkena gempa dan tsunami. Tak berselang lama, bencana alam pun kembali terjadi di Bengkulu yaitu banjir dan setelah itu pergi ke Wamena yang saat itu terjadi bencana kemanusiaan.

“Yang sudah saya lakukan tidak seberapa, saya pernah pergi ke Lombok untuk bencana gempa di Lombok, terus kemudian beberapa bulan kemudian kejadian likuifaksi di Palu, nah saya disitu saya berangkat juga, setelah dari palu kejadian Banten, kalau itu kan memang daerah saya, saya terjun, kalau ngga salah itu sekitar satu bulan setengah untuk Banten. Tak lama dari itu kejadian banjir Bengkulu, setelah dari Bengkulu itu kejadian Wamena. Awalnya mau ikut ke Pekanbaru, cuma terkendala dari pekerjaan, saya ngga bisa lama di sana, jadi ngga berangkat,” tuturnya.

Selain itu, baginya menjadi relawan MRI adalah panggilan jiwa, selama menjadi relawan banyak pengalaman yang didapatkannya saat di tempat bencana. Aisyah menceritakan saat dirinya berada di Lombok, Aisyah pernah menangani pasien yang melahirkan di bawah tenda pengungsian. Pagi itu, Aisyah dibangunkan oleh warga yang kebetulan dirinya tidur di atas mobil terbuka dilengkapi tenda yang bisa dibongkar pasang. Aisyah sempat kaget karena harus membantu persalinan. Padahal saat itu, dirinya tak membawa alat-alat untuk persalinan.

“Kami kaget di situ karena ngga ada persiapan apapun, obat-obatan ngga ada, terus kemudian alat-alat pun tidak ada. Tiga hari sebelum kejadian itu kita sudah telepon untuk pengadaan alat, tapi terkendala dari jarak dari Mataram ke Obel-Obel itu jauh sekitar 3 jam, kemudian transportasi pun sangat minim di sana, kemudian tim medis waktu itu hanya saya sendiri yang lainnya tidak ada, memang tidak ada,” katanya.

Karena kondisi tersebut, terpaksa Aisyah harus melakukan penanganan meski tidak ada alat yang memadai, karena pada saat itu bayinya itu tidak menangis sama sekali dan kondisi bayi sudah biru. Oleh karena itu Aisyah harus melakukan pertolongan persalinan secepatnya, tanpa pikir panjang, Aisyah pun melakukan pertolongan dengan menggunakan alat-alat seadanya.

“Kondisi bayi sudah biru dan tidak menangis, bayinya memang sudah lahir tapi plasentanya belum, jadi kita cari gunting tapi tidak ada, semuanya tidak ada. Kita butuh alat yang steril dan layak untuk dilakukan pertolongan persalinan. Jadi pada saat itu saya berpikir kalau kita memakai gunting atau pisau yang lainnya yang biasa, itu ditakutkan tetanus, karena dari besinya itu. Waktu itu saya berpikir kita pakai bambu, saya minta carikan, saya waktu itu mengusahakan si bayinya agar nangis dulu, jadi saya minta tolong ke warga di sana untuk dicarikan bilah bambu, dan benang, jadi klem tali pusat itu ngga ada, karena kita minim sekali,” kenangnya.

Warga pun mencari bilah bambu, dan untuk benang untuk tali pusatnya menggunakan kain tenun yang sudah diuraikan, itu yang dilakukan untuk membuat klem tali pusat, dan untuk memotongnya, dirinya menggunakan bilah bambu. “Itu yang di Obel-Obel dan Alhamdulillah itu bayinya selamat dan ibunya selamat. Waktu kita nolong itu kita ngga mikir apa-apa. Tapi dua hari berikutnya baru kita mikir, aduh saya kena penyakit ngga ini ya, cuma pas sudah pulang kesini Alhamdulillahnya dengan kita berdoa sama-sama gitu kan, saya periksa Alhamdulillahnya sih negatif semua,” tukasnya.

Selain di Lombok, Aisyah juga memiliki pengalaman lainnya, yaitu saat di Palu, waktu itu Aisyah pergi ke daerah terisolasi tepatnya di daerah Donggala. Untuk mencapai daerah tersebut aksesnya sangat sulit karena ada longsoran, jadi jika untuk mengangkut barang dan yang lainnya transportasinya susah.

Oleh karena itu rombongan Aisyah menggunakan perahu kecil, dan diantar ke tempat yang memang dekat dari sana. Tujuan ke daerah tersebut Aisyah dan rombongan untuk melakukan pelayanan kesehatan. Saat selesai, Aisyah akan kembali ke tempat saat dia diturunkan, tapi ternyata orang yang akan menjemputnya terjebak oleh longsoran. Karena kondisi sudah sore, Aisyah dan rombongan tidak mungkin tinggal di situ, karena tidak banyak membawa makanan.

“Warga juga ada yang sudah mengungsi karena memang di sana sangat hancur banget, di sana longsor sama gempa, udah itu kita inisiatif untuk balik lagi ke tempat pengungsian pelayanan kesehatan itu, jadi kita ngeberhentiin nelayan. Nelayan kita lambai-lambaikan tangan sudah persis kaya yang di film, Alhamdulillahnya dia ngerti, dia menepi terus kita bilang, kita numpang sampai ke desa ini, saya lupa desanya di Donggala. Kita dianter sama nelayan ini, kami berempat, saya perempuan sendiri waktu itu, satu perawat, satu medis yang sudah terbiasa tapi bukan dari tim medis sebetulnya, tapi dia terbiasa untuk tim medis, itu sampai sana sudah sore dong, sudah mau maghrib,” ujarnya.

Saat kita sudah sampai di desa tersebut airnya pasang, Aisyah dan rombongan pun meminta pertolongan ke warga sekitar untuk diantar ke Donggala Sirenja, akhirnya warga pun menanyakan perahu yang besar untuk dapat mengantarkannya. Setelah ditanyakan ternyata warga tidak ada yang berani mengantar, karena takutnya mereka pulang ngga berani, mengingat air sudah pasang.

“Jadi kita lagi nunggu tuh, sekitar dua meter dari tempat kita duduk itu air sudah pasang dan gempa, pas gempa itu kita sama-sama ngeliat. Kata warga disitu nginep aja di sini, cuma kami tuh udah ada kontak batin gitu, bahwa kita ngga mau di situ karena takut, pas waktu gempa, kita saling melihat, aduh gimana nih, terakhir kita tetap mau pulang dari situ tapi ada satu jalan, jalannya itu melewati hutan dan juga memang pegunungan, kalau kata mereka sekitar 10km, tapi 10 km itu lebih dari situ, kita jalan kaki dari sebelum maghrib sampai isya waktu itu, nah di tengah hutan, ada sungainya, dan jalannya memang naik turun gitu kan, kita berempat terus kemudian diantar sama yang tahu jalan dari warga situ 2 orang, ngga ada lampu sama sekali dan untungnya kita bawa helm yang ada headlampnya,” urainya.

Setelah itu, kericuhan yang terjadi di Bumi Cenderawasih, di Kota Wamena, Kota Jayapura Provinsi Papua meninggalkan duka yang terdalam, karena banyak korban atas kerusuhan tersebut. Mendengar hal itu, Aisyah pun bergetar hatinya ingin pergi ke Wamena untuk membantu warga yang terdampak. Akhirnya Aisyah dan tim medis Wamena pun pergi tapi hanya sampai ke Sentani tidak sampai Wamena, karena Wamena kondisi keamanannya tidak kondusif akhirnya Aisyah hanya sampai di Sentani karena sangat berbahaya.

“Kalau untuk Wamena sendiri itu mungkin cerita dari korbannya, karena saya tidak sampai Wamena, jadi kalau dari mereka itu sangat menyedihkan, mereka itu intinya adalah harta udahlah biarin aja yang penting nyawa terselamatkan gitu. Kenapa Wamena saya bilang sangat menyedihkan karena saya tidak sampai ke sana karena kondisi yang belum aman. Sentani itu tempat bencana yang paling sebentar saya singgahi itu cuma satu minggu, jadi satu minggu mereka bener-bener belum kondusif, saya sudah pulang gitu, dengan kondisi mereka yang memang pada saat itu, satu posko dihuni sekitar ratusan, jadi saya rasa saya pulang itu ada tugas yang belum terselesaikan,” pungkasnya.

Suka duka menjadi relawan bagi Aisyah lebih banyak sukanya, karena banyak bertemu orang-orang baru, teman-teman baru dan ada kepuasan tersendiri yang memang itu sulit didapatkan di mana pun ketika kita menolong orang lain dan kita bisa bermanfaat bagi orang lain.