Perjuangan Sunhaji Gholib, Menembus Bengawan Solo Demi Tugas Kemanusiaan

Jakarta, relawan.id – Pagi itu sekitar jam 08.00 langit terlihat mendung di Kawasan Bojonegoro. Hujan yang tak henti turun membuat air mulai mengelilingi rumah. Sebagian besar warga sudah mulai mengungsi akibat banjir yang mengepung.

Sunhaji Gholib Mohd Khalel dan para relawan yang berada di Kota Bojonegoro, harus segera membawa logistik untuk para pengungsi ke sebuah kota kecamatan yang berada di Baureno. Butuh waktu hampir satu jam untuk mencapai lokasi itu.

Sesaat Gholib nampak menerawang, mengenang kisah yang dia alami di tahun 2017, ketika banjir bandang menerjang Bojonegoro yang mengakibatkan ratusan rumah terendam.

Tingginya banjir mengakibatkan kendaraan darat tak bisa melewati jalan. Untuk mengatasinya, dia menyewa perahu kecil bermuatan sekitar 5-6 orang. Gholib dan relawan menerobos sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo. Dia memacu perahu motornya menuju dua desa yaitu Mojongudi dan Mojopencol. Saat itu yang ada di pikiran Gholib adalah segera membantu warga yang membutuhkan.

“Saya waktu itu karena melihat orang di sana sudah kehabisan air, ngga ada air bersih untuk minum, rasanya seperti apa gitu, jadi ngga mikir lagi. Karena itu saya menerobos Bengawan Solo tanpa menggunakan pelampung. Jadi saya sampai lupa tentang keselamatan diri sendiri. Padahal itu sudah prosedur wajib di MRI soal penggunaan Alat Pengaman Diri,” kata dia.

Meski sudah berusia 71 tahun, tapi semangat Gholib menjadi relawan MRI patut diacungi jempol. Selain itu, pengalamanya di bidang relawan pun sudah pernah dirasakan Gholib saat di Saudi Arab sekitar 26 tahun. Sehingga MRI mempercayakan Gholib sebagai Koordinator Daerah (Korda) MRI Bojonegoro dan Korwil MRI Bojonegoro, Tuban, Lamongan.

Tahun 2007 menjadi titik awal Gholib bergabung menjadi relawan MRI. Saat itu banjir besar menerjang wilayah Bojonegoro, Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun mencari tempat untuk dijadikan posko. Akhirnya tempat dia tinggal dijadikan posko.

“Saat itu yang minta tempat saya dijadikan posko adalah Pak Ahyudin, terus saya bilang silakan ustadz, nanti saya sekalian bantu-bantu menjadi relawan. Setelah banjir itu, dibentuklah MRI, sebelum MRI itu saya masuk ACT. Di situlah saya mulai berkiprah di dunia kemanusiaan,” katanya.

Menjadi relawan, baginya semata untuk mencari ridho dari Allah. “Saya berusaha untuk menjadikan setiap apa yang saya kerjakan ada sedikit nilai ibadah dan mendapat ridho dari Allah SWT,” ungkap Gholib.

Karena itu lanjut dia, aneh jika ada orang yang ingin jadi relawan karena motif ingin dipuji orang, dapat imbalan, atau berkata ini saya nanti dapat apa?

“Bagi saya dan keluarga tidak ada kamus dalam hidup seperti itu. Saya bisa menolong orang lain adalah kepuasan tersendiri, karena sedari dulu menurut saya, relawan itu adalah pahlawan. Bukan untuk mencari popularitas atau yang lain dan hanya mengharap ridho dari Allah SWT,” jelasnya.

Gholib juga sering terjun langsung saat terjadi bencana alam di beberapa daerah. Seperti gempa di Garut, longsor di Palu, gunung Kelud meletus. Saat terjadi bencana alam di NTB dan Palu, Gholib juga bertekad untuk berangkat, tapi kondisi yang tidak memungkinkan.

“Bahkan kemarin waktu kejadian di NTB sama Palu, saya ingin sekali terjun ke sana. Tapi kemudian saya menyadari bahwa umur dan gerak saya tidak seperti anak-anak muda. Saya tetap memberi semangat pada relawan-relawan yang berangkat, walau niat saya sendiri tidak kesampaian,” tukasnya.

Selain Gholib, ternyata keluarga juga sangat mendukung apa yang dilakukannya. Tak hanya mendukung, keluarganya juga terkadang ikut terjun ke tempat bencana alam.

“Keluarga saya mendukung, terkadang istri dan anak meminta ikut untuk menjadi relawan. Waktu di Sampang yang banjir itu, istri saya ikut sampai di Sampang, buat posko di Sampang itu. Jadi keluarga saya itu memang keluarga relawan, memang sudah punya niat untuk membantu sesama. Tujuannya mencari ridho aja,” bebernya.

Tidak hanya itu, Gholib juga sering memberikan semangat kepada para relawan MRI, hal itu dilakukan agar mereka paham bagaimana menjadi relawan, relawan itu harus seperti apa, karena hal itu penting diketahui relawan. Selain memotivasi relawan, Gholib juga sering dipanggil untuk mengisi materi di masjid-masjid tentang demam berdarah dan simulasi mitigasi gempa.

“Saya juga kan pelatih hidroponik, jadi setiap pelatihan hidroponik, MRI sama ACT itu benderanya selalu saya tempel di situ, saya mencoba kenalkan, ini loh ACT, ini loh MRI. Jadi setiap ada kegiatan itu mesti saya ikut kan bendera, supaya mereka tahu MRI ACT itu apa sih, kita menerangkannya itu harus detail, nggak asal menerangkan,” pungkasnya.