Anak Kecanduan Gadget? Ini Tips Menghadapinya

Jakarta, relawan.id – Gadget saat ini telah menjadi salah satu benda yang sangat penting buat setiap orang. Tak hanya diidolakan orang dewasa, gadget juga menjadi salah satu benda yang sangat diidolakan oleh anak-anak.

Tidak sedikit anak dengan usia di bawah 3 tahun telah mahir bermain gadget baik untuk sekedar menonton youtube atau bermain game dan lainnya. Gadget juga telah menjadi senjata ampuh dari setiap orangtua untuk membuat anaknya lebih tenang dan betah di rumah. Sayangnya, penggunaan gadget yang terlalu sering bisa meningkatkan risiko anak kecanduan gadget.

Oleh karena itu, seperti dilansir Bright Slide, ini tips untuk meminimalisir potensi anak kecanduan gadget.

1. Tentukan waktu maksimal penggunaan gadget

Waktu interaksi anak dengan perangkat digital, termasuk aktivitas nonton TV, disebut bergantung dengan usianya. Berikut rekomendasi dari American Academy of Pediatrics:

– Lahir – 18 bulan: sama sekali jangan berhubungan dengan layar gadget, termasuk TV. Satu-satunya pengecualian yang disarankan adalah ketika sesi video call dengan kerabat dekat seperti kakek-nenek tercinta.

– 2 – 5 tahun: anak di rentang usia tersebut disarankan tidak menghabiskan lebih dari 1 jam dalam melototi layar gadget, termasuk smartphone, TV, tablet, dan komputer.

– Di atas 6 tahun: buat anak di atas umur tersebut, pengaturan waktu dalam berinteraksi dengan perangkat digital pun diperlukan –para spesialis umumnya menyarankan maksimal 2 jam per hari. Gadget juga ditegaskan tak boleh merampas waktu anak dari jam tidur, aktivitas fisik, dan aktivitas lain yang diperlukan buat tumbuh-kembang anak.

2. Jangan cuma melarang, berikan saran

Para orangtua disarankan agar tidak sekadar melarang anak-anak memakai gadget tetapi cuma minta mereka melakukan aktivitas lain tanpa memberikan pilihan lebih lanjut. Bergantung pada usia dan minat anak, akan lebih baik jika orangtua juga dapat memberikan saran aktivitas menarik lain yang dapat dilakukan bersama-sama seperti berolahraga, hiking, atau memancing.

3. Beri contoh

Anak-anak pada dasarnya meniru orangtua. Nah, sebelum melarang anak-anakmu menggunakan gadget, ingat-ingat dulu seperti apa interaksimu dengan gadget. Jika kamu tak pernah bisa berjauhan dengan gadget, tentu sulit mencegah anak kecanduan hal serupa.

4. Perhatikan konten

Disebutkan bahwa sampai anak-anak berusia 9 tahun, akses mereka ke internet masih harus sepenuhnya dikendalikan orangtua. Akan lebih baik memprioritaskan program-program pendidikan dan situs yang bisa membantu pertumbuhan beragam skill anak. Terkait itu, tentu sebisa mungkin anak jangan dibiarkan begitu saja memakai gadget untuk mengakses konten, seperti game, bernuansa kekerasan.

5. Tentukan lokasi/waktu bebas internet dan gadget

Ada baiknya orangtua juga membuat restriksi terkait penggunaan gadget. Semisal tak boleh dipakai di kamar yang merupakan tempat istirahat atau tak ada gadget di atas meja makan ketika santap bersama keluarga. American Academy of Pediatrics juga menyarankan untuk menjauhi perangkat digital satu jam sebelum waktu tidur.

6. Beri pendampingan

Gadget pada dasarnya punya banyak hal positif. Sebagai orangtua, salah satu peran yang dapat kamu lakukan adalah jangan bosan memberikan pendampingan mengenai dunia digital yang juga bisa menjadi tempat menggali ilmu. Secara bersamaan, kamu juga bisa memberikan petuah bahwa penggunaan gadget yang berlebihan pun tidaklah baik.

7. Bekali informasi mengenai risiko dan bahaya internet

Anak-anak juga perlu dibekali mengenai risiko dan bahaya yang mengancam di internet, apalagi saat nanti sudah tumbuh sehingga tak lagi membutuhkan pengawasan orangtua saat memakai gadget. Sebelum itu, orangtua disarankan mulai memberikan penjelasan mengenai cara mengatasi cyberbullying, bahayanya membuka akses ke informasi personal, konten-konten negatif, dan hal-hal yang diunduh.

Anak-anak perlu dibekali informasi mengenai keberadaan jejak digital sehingga tak boleh sembarangan beraktvitas di dunia maya. Sebaliknya, anak juga perlu tahu bahwa segala sesuatu yang ditemukan di internet pun harus disikapi dengan hati-hati dan bijak, terkait maraknya hoax dan semacamnya.