Sang Pembawa Kebahagiaan yang Terombang-ambing di Tengah Lautan

Jakarta, relawan.id – Terombang-ambing di tengah laut selama tiga jam adalah pengalaman yang tak bisa dilupakan oleh Anjar Sufangat, Ketua Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Tanah Bumbu. Saat itu, dalam misi pengiriman bantuan kemanusiaan untuk korban longsor ke Pulau Matasiri di Kabupaten Kotabaru pada bulan Ramadhan atau tepatnya tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri. Untuk menuju ke lokasi tersebut menggunakan perahu penangkap ikan milik salah seorang nelayan.

Saat itu orang yang berani mengantar tim MRI menuju pulau tersebut hanya nelayan bernama pak Salman, karena waktu itu gelombang cukup tinggi. Perjalanan normal menuju lokasi delapan jam, tapi karena gelombang yang tinggi, perahu yang ditumpangi 15 orang itu mati mesin, sehingga perahu terombang-ambing tak tentu arah di tengah lautan.

“Semua relawan pasrah dengan kondisi ini, kami serahkan kepada Allah SWT, karena gelombang cukup tinggi sehingga air masuk mesin perahu beberapa kali, mesin perahu mati, dan hal itu mengakibatkan kami tidak bisa makan sahur, karena semua isi yang ada di dalam perut kami muntahkan, hampir semua relawan muntah-muntah tak berdaya, dan sebagian dari kami tidur dalam kondisi basah terkena air ombak,”tuturnya.

Mengingat posisi di tengah lautan, Salman dan satu orang ABK-nya terus berusaha menghidupkan mesin, tiga jam sudah di tengah laut, akhirnya mesin pun hidup dan langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Matasiri. Akhirnya tim pun sampai tujuan dengan waktu 18 jam.

“Semuanya terobati ketika melihat anak-anak pulau menjemput kami dengan menggunakan perahu sampan. Anak-anak polos yang bebas dari hingar-bingar perkotaan memecahkan suasana. Saya sangat beruntung dan bahagia bisa ikut dalam kapal kemanusiaan ini, dan ini suatu pengalaman berharga buat saya biarpun memerlukan perjuangan yang cukup panjang,” kata dia.

“Sampai menjelang maghrib kami menurunkan bantuan untuk mereka merayakan Idul Fitri, kami disambut dengan berbuka puasa di rumah kepala desa setempat, dan setelah shalat tarawih kami melanjutkan perjalanan pulang,” tambahnya.

Sebelum di MRI, Anjar memang sudah aktif di kegiatan sosial keorganisasian, motivasi terbesarnya masuk MRI adalah ingin berbuat bagi orang lain, karena baginya sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

“Kita ingin berbuat lebih banyak untuk orang lain, karena sebaik-baiknya manusia itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, itu adalah salah satu motivasi kita,” ungkap Anjar.

2018 akhir kemudian Anjar bersama relawan lainnya membentuk MRI di Tanah Bumbu, dan Anjar dipercaya untuk menjadi Ketua MRI Tanah Bumbu, awal tahun 2019 tim MRI mulai menjalani komunikasi dan memperkenalkan MRI di Tanah Bumbu. Kini MRI sudah dikenal oleh masyarakat dan pemerintah daerah, bahkan kini data MRI dijadikan pembanding tentang kondisi sosial masyarakat oleh beberapa kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

“Saya juga sering memotivasi para relawan, sebenarnya saya lebih mengajak para relawan-relawan sosial, baik dari komunitas-komunitas lokal untuk saling bersinergi, kegiatan di Tanah Bumbu pun sudah mulai rutin, karena fokus kita kepada sasaran dan kepada calon penerima manfaat,” tuturnya.

Program yang kerap digelar MRI di Tanah Bumbu adalah sedekah nasi malam, berbagi paket pangan untuk jamaah shalat Jumat dari masjid ke masjid, berbagi beras 2 gantang untuk penerima manfaat, humanity food car (layanan makan gratis untuk fakir miskin) lintas kecamatan, memotivasi siswa dan pemberian santunan untuk anak yatim-piatu dan dhuafa dari sekolah-sekolah, layanan kesehatan, berbagi sembako dan khitan/sunat gratis untuk anak yatim dan dhuafa.

Selain itu, Anjar bersama pengurus MRI Tanah Bumbu berharap MRI bisa menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk berkumpul dalam kegiatan yang positif dan kegiatan sosial kemanusiaan. Hal itu adalah bentuk kegelisahaan Anjar melihat kondisi sosial masyarakat yang memprihatinkan, maka dari itu diperlukan orang-orang yang mampu menggerakan jiwa kerelawanan.

“Saat tradisi gotong royong sudah mulai punah, dan semua kegiatan dihitung dengan materi, maka perlu ada sebuah gerakan untuk menumbuhkan benih-benih kerelawan dalam diri seseorang, terutama anak-anak muda generasi penerus bangsa. Dan awalnya semua itu dimulai dari lingkungan, kelompok/komunitas, dan kita tau trend anak muda saat ini adalah komunitas dan kemudian kolaborasi,” tuturnya.