Hadir Peringatan 50 Tahun OKI, Turki Pertegas Dukungan Muslim untuk Palestina

Turki, relawan.id – Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, menghadiri upacara peringatan 50 tahun berdirinya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi, Rabu (27/11/2019).

Seperti dilansir Daily Sabah, pada pertemuan itu, Mevlut menegaskan kembali dukungan muslim dunia untuk Palestina yang menentang pendudukan wilayah Palestina dan Kota Yerusalem.

Turki termasuk negara yang aktif untuk menyerukan kemerdekaan Palestina serta melawan Islamofobia selama ini.

“Saya memuji mereka semua, anak-anak kecil di jalan Gaza berbaris untuk kebebasan dan kehormatan. Juga para pria dan perempuan yang menentang pendudukan Yerusalem, mereka berani berperang melawan isolasi Israel terhadap Palestina yang rasis dan tidak manusiawi,” ungkapnya.

Cavusoglu mengingatkan, 50 tahun yang lalu masjid Al-Aqsa pernah diambang bencana ketika serangan paling serius terhadap masjid suci itu terjadi pada Agustus 1969.

Kala itu seorang ekstremis Yahudi Australia, Denis Michael Rohan membakar Al-Aqsa dan mengakibatkan banyak kerusakan.

Khususnya bagi umat muslim, serangan keji ini merupakan seruan untuk membangun persatuan serta solidaritas untuk melindungi tempat suci ketiga umat Islam, Masjid Al-Aqsa dan melindungi hak-hak rakyat Palestina.

“Saya ingin memberikan penghormatan kepada almarhum Raja Faisal bin Abdulaziz dari Arab Saudi dan almarhum Raja Hassan II dari Maroko atas permintaan mereka agar umat berkumpul dan bersatu di Rabat. Turki dan banyak anggota dari negara di Asia menanggapi panggilan ini tanpa ragu-ragu,” ujar Cavusoglu.

“Deklarasi Rabat yang melahirkan OKI menegaskan kembali komitmen kita pada prinsip perdamaian. Namun perdamaian dengan kehormatan dan keadilan,” terang Cavusoglu.

Menyebutkan berbagai pencapaian OKI, Cavusoglu mengingatkan OKI pernah meminta agar hak-hak warga Palestina di Yerusalem dilindungi.

“Ini merupakan tugas OKI dan kita semua untuk mempertahankan kehormatan dan melindungi hak semua muslim, minoritas, dan masyarakat, termasuk orang-orang Rakhine di Myanmar, Kashmir, Uighur, dan Siprus Turki, minoritas Turki di Thrace Barat, dan muslim yang ada di Amerika dan Eropa,” tambah Cavusoglu

Cavusoglu menambahkan, Turki, sebagai anggota aktif OKI terus berjuang melawan Islamofobia.

OIC sendiri didirikan pada tahun 1969, OIC merupakan organisasi antar pemerintah terbesar kedua setelah PBB dengan 57 negara anggota dari empat benua. Tugas OIC untuk mempertahankan kehormatan dan hak semua bangsa Muslim, minoritas, dan masyarakat.