MRI Aceh Bantu ACT Implementasikan Program Sahabat Guru Indonesia

Aceh, relawan.id – Aksi Cepat Tanggap (ACT) lewat program Sahabat Guru Indonesia kembali membantu guru prasejahtera yang tinggal di daerah terpencil. Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz).

Oleh karena itu, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh turut membantu program ACT dengan membantu mengimplementasikan program tersebut di beberapa daerah yang berada di Aceh.

Humas MRI Aceh Astri Maulida mengatakan pihaknya telah mengimplementasikan program tersebut kepada beberapa guru honorer yang memiliki penghasilan di bawah Rp 1 juta, yaitu Ida, dia sudah mengabdi selama 16 tahun di SD Negeri Tanjung Genteng, dari masih gadis sampai memiliki 3 orang anak. Anak pertama Ida berumur 14 tahun, anak kedua umur 11 tahun dan anak ketiga berumur 4 tahun.

“Suaminya kerja buruh lepas, kadang ada pekerjaan, kadang nganggur di rumah sampai sekarang. Padahal kebutuhan kehidupan semakin besar karena anak memerlukan biaya yang besar. Mau tidak mau harus mengajar untuk menambah ekonomi keluarga walaupun gajinya sebanding dengan upah nasional. Tetapi saya semangat mengajar demi anak-anak desa kami, agar menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan agama,” tuturnya.

Selanjutnya, Abdul Manaf, seorang guru ngaji yang mengabdi di LPI Al-Munawarah Pocut Mukim Al-Azizah, dia sudah mengabdikan dirinya selama 9 tahun di LPI Desa Blang Cut yang setiap harinya jam 3:00 WIB sore mengajarkan anak-anak ngaji di Dayah dengan jarak tempuh 16 KM dari tempat tinggalnya.

“Abdul Manaf seorang ayah dari keluarga kurang mampu, selain menjadi guru ngaji beliau mengurus tiga buah hati salah satunya divonis penderita penyakit Thalasemia yang belakangan ini harus bolak-balik ke RS Banda Aceh, uang yang selama ini dia dapatkan dari kerja sebagai buruh bangunan terpaksa harus mengeluarkan untuk pengobatan anaknya,” tuturnya.

Selain itu ada juga, Arif, dia sudah mengajar 5 tahun di LPI Al-Munawarah Pocut Mukim Al-Azizah, sejak beliau lajang hingga kini sudah memiliki anak usia 10 bulan. “Sejak awal hingga sekarang beliau tidak pernah mendapatkan gaji. Beliau menghidupi keluarganya dan bekerja sebagai nelayan meski seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga,” tukasnya.