MRI Bengkulu Gelar Sosialisasi Mitigasi Bencana di Poltekes Kemenkes

Bengkulu, relawan.id – Kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi pengetahuan dan kebutuhan yang mendesak saat ini. Bencana yang datang tak dapat diprediksi. Oleh karena itu, kecapakan dan kesiagaan menghadapi situasi dan menyelamatkan sesama saat bencana datang, menjadi hal yang krusial.

Sehingga penting sejak usia dini, anak-anak harus dikenalkan dengan tata cara penganggulangan bencana, terutama edukasi mengenai teknik penyelamatan diri saat terjadi bencana. Peran orang dewasa sangat penting untuk edukasi tersebut melalui kerja sama dan bimbingan secara kontinuitas.

Oleh karena itu, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bengkulu melaksanakan kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dan penegakan tenda di Poltekes Kemenkes Provinsi Bengkulu, Sabtu (14/12/2019).

Sebanyak 329 orang terdiri dari civitas akademika dan masyarakat sekitar mengikuti sosialisasi mitigasi bencana. Mereka diajak untuk mengenali berbagai karakter gempa bumi dan simulasi evakuasi gempa bumi.

Humas MRI Bengkulu, Silvi menuturkan, pelatihan mitigasi bencana ini merupakan kegiatan rutin yang terus digaungkan MRI kepada seluruh masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk edukasi demi terciptanya masyarakat yang sadar dan tanggap bencana, serta dapat menjadi penyelamat hidup bagi yang lainnya.

“Pelatihan siap siaga bencana yang dilakukan oleh Dinsos Provinsi Bengkulu bersama MRI Bengkulu yang dinamakan program sahabat tagana, tagana berkoordinasi dengan MRI untuk melakukan pembekalan berupa pengetahuan dasar bencana yang sangat penting dan berguna untuk seluruh rakyat bengkulu dan terutama anak-anak muda. Harapannya kedepan akan menjadi masyarakat yang siap siaga dalam keadaan bencana, karena Provinsi Bengkulu ini termasuk ke dalam zona merah untuk daerah rawan bencana di Indonesia,” ungkap Silvi, Senin (16/12/2019).

Pelatihan mitigasi bencana ini merupakan program yang secara kontinuitas dilakukan MRI kepada pihak-pihak civitas akademika terutama masyarakat, karena banyaknya mahasiswa dan masyarakat yang belum memiliki keterampilan dan kurangnya informasi sadar bencana menjadi catatan tersendiri mengingat Indonesia berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik atau wilayah yang sering mengalami letusan gunung berapi aktif dan gempa bumi.

“MRI Bengkulu sangat membuka kolaborasi bagi pihak-pihak kampus maupun dan instansi lainnya untuk mengadakan pelatihan serupa. Hal ini merupakan bentuk usaha untuk mengurangi resiko fatal banyaknya ancaman bencana dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan saat bencana datang,” tandasnya.