Turki Minta Uni Eropa Tingkatkan Dana Bagi Pengungsi Suriah

Ankara, relawan.id – Deputi Menteri Luar Negeri Turki Faruk Kaymacki mengatakan Uni Eropa harus meningkatkan dan mempercepat aliran dana bantuan untuk pengungsi di Turki. Kaymakci yang juga direktur bidang Uni Eropa mengatakan ia mengapresiasi dana yang diberikan blok tersebut.

“Tapi saya akan menyerahkan penilaiannya kepada Anda, sejauh ini biaya krisis imigrasi sebesar 40 miliar dolar AS,” kata Kaymakci kepada wartawan di Ankara seperti dilansir dari Anadolu Agency, Ahad (15/12/2019).

Kaymacki mengatakan sejak Maret 2016 Uni Eropa hanya membicarakan enam miliar uero atau 6,6 miliar dolar AS. Sementara tiga miliar uero pertama sudah dialokasikan.

Sejauh ini, dua miliar uero sudah sampai ke pengungsi Suriah. Sementara satu miliar uero lagi masih ditunda. Kaymakci mengatakan dana itu sudah direncanakan tapi belum sampai ke pengungsi Suriah.

Kaymakci menekankan dengan tambahan enam miliar uero lagi tetap tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah pengungsi Suriah. “Uni Eropa harus mempercepat aliran dana dan harus meningkatkannya lagi,” kata Kaymakci.

Ia menegaskan Ankara dan Brussels harus terus bekerja sama untuk mengatasi krisis imigrasi. Turki negara yang paling banyak menerima pengungsi Suriah. Ankara memberikan perlindungan internasional untuk 3,6 juta orang yang melarikan diri ke negara tetangganya.

Fasilitas Uni Eropa membantu pengungsi dan masyarakat tuan rumah dengan mendanai proyek-proyek kesehatan, pendidikan, peningkatkan infrastruktur dan membangun ekonomi. Kaymakci mengatakan hubungan Turki-Uni Eropa tidak terbatas pada imigrasi.

“Sebenarnya imigrasi mendekatkan Turki dan Uni Eropa, tapi juga membuktikan Turki negara Eropa yang penting,” katanya.

Turki dan Uni Eropa sudah menandatangani kesepakatan pada Maret 2016. Kesepakatan itu bertujuan menghentikan imigrasi tidak biasa melalui Laut Aegea.

Caranya dengan menerapkan langkah yang lebih keras lagi kepada penyelundup manusia dan meningkatkan kehidupan orang Suriah yang mengungsi di Turki. Dalam pernyataannya Kaymakci mengeluhkan lemahnya kepemimpinan yang kuat dan visioner Uni Eropa.

“Semua orang menjadi populis, mungkin ini hasil dari bangkitnya populisme dan sayap kanan, jadi kami tidak tahu apakah di masa depan kami akan melihat proses imigrasi Eropa,” ujar Kaymacki.

Namun, ia juga mengungkapkan harapannya kepada pemimpin baru blok tersebut. Terutama kepemimpinan muda dan perempuan di Parlemen Uni Eropa.

“Kami berharap presiden Komisi Uni Eropa (Ursula von der Leyen) yang baru dapat lebih memahami Turki,” kata Kaymakci.