Ampugh Respon Penindasan Uighur dengan Aksi Damai di Kedubes China

Jakarta, relawan.id – Perlakuan represif dan kebijakan tidak manusiawi yang dialami etnis minoritas Uighur di Xinjiang semakin terkuak, terlebih delegasi Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam Indonesia terdiri atas Muhammadiyah, PBNU dan MUI mendapat kesempatan mengunjungi Xinjiang, China untuk melihat dari dekat kondisi masyarakat Xinjiang khususnya muslim Uighur.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan ormas Islam dari Indonesia yang terdiri dari 15 orang menemukan adanya pelanggaran HAM berupa dikekangnya kebebasan beragama yang dialami Muslim Uighur.

Oleh karena itu, Koordinator Umum AMPUGH (Aliansi Masyarakat Peduli Uighur), Hans Ally Zakaria mengungkapkan, sudah saatnya Indonesia bersuara, bukan karena hanya Indonesia negara muslim terbesar di dunia, tetapi karena nilai-nilai kemanusiaan etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya diduga kuat sedang dinjak-injak.

Sebagai bentuk respon atas tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan terhadap etnis muslim Uighur, AMPUGH akan menggelar aksi damai peduli Uighur yang akan dilaksanakan pada Jum’at (27/12/2019), yang bertempat di Kantor Kedutaan Besar China.

Aksi ini akan diikuti ratusan orang dari berbagai organisasi masyarakat dan komunitas untuk mengutuk tindakan pemerintah China yang melakukan penindasan dan penyiksaan terhadap etnis muslim Uighur.

Seperti yang diketahui, kondisi etnis muslim Uighur saat ini sangat memperihatinkan. Terdapat sekitar satu juta etnis muslim Uighur yang tengah mengalami penyiksaan di kamp-kamp konsentrasi yang terletak di Xinjiang.

“Bukti nyata pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara China terhadap etnis muslim Uighur adalah kebebasan beragama dikebiri, simbol dan atribut keislaman dihancurkan, pemenjaraan jutaan Etnis Uighur dalam tahanan dan kamp-kamp Konsentrasi,” ujar Hans.

Selain bentuk perlakuan keji lain yang dilakukan oleh tentara China adalah perlakuan mereka terhadap wanita etnis muslim Uighur. Pendidikan Agama Islam yang harusnya didapatkan bagi anak-anak, hal itu dilarang keras oleh tentara China, para wanita muslimah dipaksa meninggalkan jilbabnya.

Dalam aksi ini AMPUGH juga menyampaikan pernyataan sikapnya yaitu:

1. Menuntut PBB untuk turun tangan menyelesaikan persoalan kemanusiaan dan HAM di Xinjiang

2. Mendesak PBB membentuk tim penyelidik independent untuk melakukan investigasi menyeluruh di Xinjiang

3. Meminta dunia internasional bersuara membela HAM masyarakat Uighur

4. Mendorong pemerintah Republik Indonesia agar terlibat aktif dan memberikan perhatian serius dalam penyelesaian persoalan Uighur, mengingat Indonesia sebagai negara yang mayoritas Muslim terbesar di dunia.

5. Menyerukan pemerintah Indonesia untuk terlibat secara nyata dalam upaya memperjuangkan nasib Muslim Uighur atas penindasan dan penjajahan yang dilakukan Pemerintah Cina, dengan membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional.