Turis Malaysia Ditangkap Saat Shalat di Masjid Uighur

China, relawan.id – Pelarangan ibadah di tempat umum ternyata tak berlaku untuk warga China saja, tetapi hal itu berlaku bagi negara lainnya. Pada Kamis (26/12/2019) sekelompok turis Malaysia ditangkap karena shalat di masjid Uighur di Provinsi Xinjiang tanpa izin, ungkap World of Buzz.

Salah seorang anggota kelompok itu berbagi pengalaman buruk mereka setelah tiba dengan selamat di Malaysia dari Xinjiang, dimana lebih dari 1 juta Uighur dan warga Muslim dari etnis minoritas lainnya diyakini PBB dipenjara di dalam kamp-kamp tahanan.

“Saat kami merasa lega dibebaskan, kami juga kecewa karena hak kami sebagai Muslim ditolak untuk shalat di masjid,” kata pemimpin kelompok itu dalam unggahan Facebook, seperti dikutip Alaraby, Senin (30/12).

Insiden bermula ketika kelompok itu menemukan sebuah masjid yang dapat diakses saat dalam perjalanan. Mereka sangat senang karena itu adalah satu-satunya masjid yang bisa dimasuki dan shalat dengan tenang.

Namun setelah mereka selesai shalat, pasukan bersenjata dan polisi menunggu mereka di luar masjid. Salah seorang penjaga masjid ditegur seorang perwira China.

Pemimpin kelompok wisatawan itu, Khir Ariffin dengan cepat menyarankan anggota lain dari kelompok itu, seorang editor senior di kantor berita nasional Malaysia BERNAMA, untuk menghubungi rekan kerjanya.

“Beri tahu mereka jika kita tidak bisa dihubungi dalam 24 jam ke depan, beri tahu kedutaan tanpa menyebarkan berita ke media. SOS,” kata Ariffin.

Pemimpin kelompok itu segera menyadari bahwa mereka telah diikuti sepanjang waktu mereka berada di China, dengan petugas yang diduga menyamar sebagai “petugas kebersihan umum, warga setempat, dan pemilik toko”.

“Kami terus diawasi,” kata Ariffin.

Pasukan bersenjata dan polisi kemudian membawa kelompok tersebut dari masjid ke lokasi yang tak diketahui. Kelompok itu tercengang melihat gerbang dan kompleks yang berada di tengah-tengah desa tua yang terpencil.

“Tim yang dipenuhi pejabat militer dan polisi menunggu kedatangan kami,” tulisnya.

Mereka kemudian ditahan di ruang isolasi “yang menyerupai penjara” sementara pemandu wisata berbicara dengan pejabat China. Setelah beberapa jam, kelompok itu dibebaskan.

“Saya percaya satu-satunya alasan kami dibebaskan karena ada anggota kami dari media dan para pejabat tidak ingin apa yang terjadi di Xinjiang diketahui dunia,” kata Ariffin.

Pemimpin kelompok itu mendesak orang lain untuk mengangkat masalah Uighur.

“Tetap diam tidak akan menyelesaikan masalah ini. Tuhan mengizinkan kita untuk melihat Uighur sekilas sehingga kita bisa berbagi,” tambahnya.

Tindakan keras China di Xinjiang dinilai para aktivis sebagai penjara udara terbuka bagi penduduk setempat. Bagi mereka yang tinggal di luar kamp, pemeriksaan ID di mana-mana dan keamanan yang ketat adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebuah investigasi Guardian mengungkapkan, China juga telah menghancurkan puluhan masjid dan tempat ibadah Muslim di Xinjiang selama tiga tahun terakhir.

Muslim di Xinjiang dipaksa untuk tidak berpuasa selama bulan suci Ramadhan, dan diduga dipaksa minum alkohol dan makan daging babi saat ditahan di dalam kamp.