Jadi Sarang Hewan, Relawan MRI Potong Rambut Gimbal Mbah Iyah

Jakarta, relawan.id – Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) membantu seorang nenek yang hidup terlantar bahkan rambutnya berubah menjadi sarang hewan.

Prihatin melihat hal itu, relawan MRI, Ardian Kurniawan Santoso membujuk Sukiyah atau biasa disapa Iyah untuk memotong rambutnya yang sudah mencapai 2 meter itu. Proses pemotongan rambut Sukiyah berlangsung selama 20 menit. Tak hanya panjang tetapi juga alot saat dipotong.

“Bulu kuduk saya merinding semua saat saat memotongnya. Saya sampai keringetan,” ujar Ardian.

Setelah dipotong, rambut Sukiyah dibersihkan dan diberi baju serta kursi roda oleh para relawan.

Sukiyah atau biasa dipanggil Mbah Iyah (50) hidup sendiri dengan keadaan yang sangat memprihatinkan di Dusun Karangombo, Desa Polobugo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Mbah Iyah mengalami buta sejak usia 5 tahun dan mengalami gangguan jiwa sejak berusia 10 tahun.

Penderitaan Mbah Iyah seakan semakin lengkap dengan hidupnya yang sebatang kara di dalam rumah berukuran sekitar 3×6 meter.

Selama 27 Tahun, Sukiyah mengurung diri di dalam rumah yang mirip kandang ayam. Untuk makan saja, Mbak Iyah sering diberikan oleh tetangga yang peduli dengannya.

Selama mengurung diri tersebut, rambut Sukiyah tidak pernah dipotong selama 27 tahun hingga gimbal sepanjang 2 meter.

Berbagai hewan sudah bersarang di rambutnya akibat tidak pernah dibersihkan. Rambut Mbah Iyah sudah menjadi sarang anak tikus hingga ulat.

Sukiyah kini di bawa ke yayasan sosial yang tidak jauh dari rumahnya dan akan dirawat selama 3 bulan. Rumah Sukiyah juga dibersihkan oleh Ardian dan relawan lainnya. Ardian merupakan relawan MRI sejak tahun 2017, sebelum menjadi relawan Ardian pernah masuk penjara beberapa kali.

Kini, Ardian mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan pada sekitarnya. “Bagaimana bisa kita membiarkan seorang manusia dalam keadaan seperti itu. Kita semua harus memanusiakan manusia apapun keadaannya. Ia berhak mendapatkan perlakuan yang baik dan manusiawi,” tutup Ardian.