Ardian, Mantan Napi yang Menjadi Pelopor Kebaikan

Jakarta, relawan.id – Bertahun-tahun mendekam di penjara tak membuat Ardian Kurniawan Santoso menjadi sosok yang menakutkan. Kini ia menjadi pelopor kebaikan, menebarkan manfaat bagi masyarakat luas, itu semua dilakukan sejak masuk relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). Banyak hal yang sudah dilakukan Ardian selama menjadi relawan dari berbagai aksi kemanusiaan seperti aksi di lokasi terdampak bencana di Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu hingga menjadi relawan regular yang mengoperasikan Humanity Food Truck ke berbagai lokasi untuk menghidangkan makanan siap santap.

Ardian menceritakan awal mula menjadi seorang relawan MRI, Ardian mengaku sebelum menjadi relawan MRI, dia memiliki masa lalu yang kelam, karena harus mendekam di penjara sebanyak dua kali. Pertama tahun 2014 dipenjara di Jember, Jawa Timur selama 2 tahun karena mencuri truk berisi beras, saat itu yang diambil sebanyak 8 ton beras.

Selain dijual dan digunakan sendiri, beras hasil curian itu dibagikan untuk orang-orang yang membutuhkan. Setelah bebas dari penjara di Jember, dia tak bertobat. Ardian kembali beraksi di berbagai toko retail di wilayah Salatiga dan Boyolali. Setelah tertangkap dan dipenjara yang kedua kalinya, dalam masa tahanan Ardian mulai mencari jalan taubat.

“Saya teringat anak-anak yang masih kecil. Tidak mungkin jika saya terus seperti ini, keluar masuk penjara. Anak saya pasti malu, saya ingin anak saya bangga, saya ingin menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat,” paparnya.

Awalnya, Ardian berpikir untuk membantu orang lain harus kaya dan memiliki uang berlebih. Tapi dia hanya memiliki tenaga, saat itulah Ardian mulia berpikir untuk menjadi relawan. Tahun 2017, Ardian mulai bergabung dengan MRI. Di MRI, Ardian bertugas sebagai koordinator wilayah Salatiga dan Kabupaten Semarang. Sementara di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ardian adalah driver food truck humanity yang biasa membuat dapur umum di daerah bencana. Selama menjadi relawan, Ardian pernah bertugas di Palu, Riau, Jambi, Dumai dan Padang.

Meski pengalaman sebagai relawan banyak, tapi Ardian mengakui pengalaman yang berkesaan dan menggetarkan hati adalah saat bertemu Sukiyah, “bagaimana bisa kita membiarkan seorang manusia dalam keadaan seperti itu. Kita semua harus memanusiakan manusia apapun keadaannya,” ucap Ardian.

Selain karena keterbatasannya dan menutup diri, Sukiyah juga dirasakannya sangat ‘unik.’ Namun, dia juga bahagia karena saat ini Sukiyah sudah berangsur membaik meski belum pulih sepenuhnya.  Karena pengabdiannya di dunia kerelawanan, Ardian pun mendapat hadiah umroh dari ACT. Ardian dijadwalkan berangkat umroh ke tanah suci pada 22 Februari 2020.

“Sebetulnya saya ingin ibu yang berangkat umroh, tapi ternyata tidak boleh, harus saya selaku yang mendapat hadiah yang berangkat. Semoga saya punya kesempatan lain untuk memberangkatkan ibu berangkat umroh,” kata Ardian.

Dalam berbagi kebaikan melalui dunia kerelawanan, Ardian selalu bersyukur karena bisa berbuat kebaikan kepada masyarakat. Kini, secara rutin Ardian mengikuti aksi kemanusiaan sebagai pengemudi dan membantu kegiatan Humanity Food Truck. Bahkan, ia juga membantu uji kelayakan jalan Humanity Food Truck 3.0 dan 4.0. Pada Kamis (30/1) lalu ia hadir di karoseri New Armada Magelang untuk mencoba truk baru itu. “Hadirnya truk ini semoga menjadi penyemangat serta pengingat teman-teman dan masyarakat luas untuk selalu berbuat kebaikan di mana pun dan kapanpun,” ungkapnya.

Masih Mengunjungi Rumah Tahanan

Meski Ardian bukan lagi tahanan, tapi dia masih sering mengunjungi Rumah Tahanan Kelas II B Salatiga. Tempat dimana dulunya dia ditahan selama kurang lebih 8 bulan kurungan akibat kasus criminal yang ia lakukan, sebelum akhirnya dipindahkan ke rutan di Boyolali.

Sumarno, Kasubsie Pengelolaan Rutan Kelas II B Salatiga, mengatakan, selepas keluar dari penjara, Ardian masih secara rutin berkunjung ke rutan. Bukan untuk kembali ditahan, akan tetapi ia mengirimkan bantuan bagi rutan yang letaknya berada di pusat kota Salatiga ini. “Pernah Ardian mengirim susu sama makanan ringan bagi tahanan, dia juga sering mengirim air bersih pakai truk tangki ACT karena rutan sering kesulitan air bersih,” ungkapnya dilansir dari ACT News, Selasa (4/2/2020).

Walau di dalam penjara, bukan berarti Ardian tak melakukan apapun. Sumarno menuturkan, selama ditahan di Salatiga, peran Ardian sangat membekas bagi pembinaan narapidana lainnya. Ia menjadi penginisiasi kegiatan kerajinan tangan bagi napi. “Sampai sekarang karya Ardian masih disimpan di ruang kepala lapas, ada vas bunga dan kerajinan lainnya. Setelah Ardian keluar penjara pun kegiatan itu selalu coba dilanjutkan sebagai cara pembinaan napi,” ungkap Sumarno.