Perjuangan Buruh Migran Indonesia di Macau, Bertahan dari Virus Corona

Macau, relawan.id – Sembilan tahun sudah, saya bekerja di Macau menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI), dan selama itu juga saya mengenal kondisi tempat ini, dari pusat perbelanjaan hingga restoran.

Macau yang saya kenal adalah kota yang tak pernah tidur. Gemerlap dan keramaian selalu ada di mana-mana, bahkan hingga di sudut sempit kota.

Namun beberapa hari ini, saya pergi ke beberapa tempat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, tapi hampir semua toko tutup dan orang-orang terlihat panik. Akhirnya saya bertanya-tanya, ada apa dengan Macau?

Saya yakin ini adalah dampak dari virus corona, sehingga tempat yang tadinya ramai menjadi sepi bagai kota yang ditinggal penduduknya. Terlebih setelah membaca berita, ternyata satu orang pasien dilaporkan meninggal di Macau pada Selasa (4/2/2020) setelah dinyatakan positif tertular virus corona.

Hal itu juga yang menyebabkan penduduk di sini takut untuk beraktivitas di luar rumah. Aktivitas di Macau pun hampir lumpuh, anak-anak sekolah terpaksa harus diliburkan. Tempat-tempat umum seperti restoran, hotel dan pusat perbelanjaan harus tutup akibat kekhawatiran terhadap virus corona.

Macau, yang awalnya dijuluki Las Vegas-nya Asia, saat ini jadi menakutkan. Jalanan yang biasanya padat dan rapat dengan manusia pun kini lengang.

Saya menyaksikan dan merasakan harus mengantri panjang seharian, karena penduduk Macau tengah berjibaku untuk membeli masker dan kebutuhan sehari-hari. Sedihnya, meski kami sudah mengantri berjam-jam belum tentu kami mendapatkan apa yang kami butuhkan tersebut.

Memiliki uang banyak bukan jaminan di tengah barang-barang langka dan kebutuhan mendesak saat ini. Karena prinsipnya adalah ‘siapa cepat dia dapat’.

Jika suplai bahan pokok dari Tiongkok disetop, otomatis kami yang berada di perbatasan pun mengalami nasib serupa. Makanan menjadi rebutan semua orang demi untuk bertahan hidup.

Saya sempat mendengar kabar gembira, bahwa Pemerintah Indonesia melalui perusahaan BUMN sudah menerbangkan 25.000 box masker ke Hong Kong. Berita itu menjadi angin segar bagi saya sebagai salah satu BMI.

Namun sayangnya, Warga Negara Indonesia (WNI) di Hong Kong sangat banyak jumlahnya. Imbasnya, kami yang berada di Macau hanya mendapatkan sedikit dari sisa kiriman masker tersebut.

Para anggota majelis, komunitas dan organisasi advokasi membantu sebisa mungkin untuk berbagi masker. Tapi itu pun tidak bisa menjangkau seluruh distrik.

Kami terisolasi dan tidak bisa berbuat banyak selain berharap uluran tangan dari pemerintah Indonesia. Sebab BMI yang berada di Macau memang mandiri dan tidak pernah tergantung dengan konsulat atau apapun. Tidak ada ikatan bilateral antara RI dengan Macau.

Kondisi di Macau sama seperti di Hong Kong. Orang-orang banyak memborong bahan makanan, tisu dan lainnya hingga toko perbelanjaan kosong tak tersisa.

Untuk diketahui, jumlah BMI di Macau ada sekitar 5600-an atau mungkin lebih. Keadaan yang kalut seperti saat ini, membuat banyak BMI yang memilih stay out.

Sistem kerja BMI di Macau dengan Hong Kong berbeda. Mayoritas BMI di Hong Kong harus stay in dengan majikan. Sedangkan di Macau, banyak BMI yang stay out dan harus bertaruh nyawa di perjalanan untuk bisa bekerja.

Akhirnya, kami yang tidak punya uang untuk membeli masker serta kebutuhan, ya kami cuma berharap belas kasih dari majikan. Tapi itu pun tidak semua beruntung. Imbas dari wabah mematikan ini sungguh benar-benar kami rasakan di sini. (Kiriman: Anis Dewi Setyaningsih)