Cerita BMI Hong Kong, Bertahan Hidup dengan Masker dari Virus Corona

Hong Kong, relawan.id – Virus corona yang disinyalir mulai tersebar di Kota Wuhan Provinsi Hubei sekitar pertengahan Desember lalu, baru viral dan direspon oleh otoritas pemerintah China sekitar akhir Januari. Respon yang lamban inilah yang menyebabkan orang terinfeksi virus corona lalu lalang pergi ke berbagai tempat dan menyebabkan 28 Negara terinfeksi.

Hong Kong sendiri belum seperti seminggu terakhir ini keadaanya, awalnya orang-orang Hong Kong hanya disiplin memakai masker ketika keluar rumah tapi tidak sepanik saat ini. Bahkan tahun baru China yang jatuh tanggal 24, 25, 26, 27 pun masih ada perayaan meski tidak semeriah biasanya.

Tepat tanggal 2 Februari, KJRI membagikan gratis satu lembar masker untuk Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong. Tak lama setelah pembagian, laman Facebook viral dengan susahnya mendapat masker. Harga masker di Indonesia yang naik berkali lipat, stok masker di Hong Kong yang mulai menipis serta tidak semua BMI di semua kota atau wilayah bisa mengantri di KJRI yang terletak di Kota Causewaybay, masuk wilayah Hong Kong teritori.

Karena hal tersebutlah, maka kami Komunitas Bawah Jembatan Under the Bridge Foundation menginisiasi gerakan donasi masker, dan pada hari Rabu tanggal 5 Februari, saya mewakili teman-teman menghubungi Mba Desi Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengenai donasi masker, alhamdulillah ACT merespon cepat pada hari yang sama. ACT merupakan lembaga kemanusiaan pertama yang sigap mengulurkan tangan untuk mengirimkan bantuan masker ke Hong Kong.

Setelah Kamis 6 Februari, ACT mengadakan konferensi pers, maka berita tentang virus corona mulai diketahui sebagian besar rakyat Indonesia dan hampir semua media cetak dan elektronik memberitakan virus corona, yang awalnya pemberitaan sangat minim.

Saya masuk Hong Kong sejak Februari 2006, baru sekarang melihat kepanikan yang luar biasa dari warga Hong Kong. Bahkan sejak otoritas pemerintah Hong Kong mengumumkan satu pasien di Hong Kong meninggal dan merupakan pasien pertama yang meninggal di luar China.

Kepanikan warga Hong Kong semakin parah. Mereka berlomba berbelanja stok bahan pangan, alat kebersihan, sanitizer, tisu toilet dan lain-lain, yang membuat hampir semua supermarket kosong.

Saya bertanya kepada majikan, apakah dulu ketika wabah SARS menyebar 17 tahun lalu melanda Hong Kong reaksi warga juga demikian? Majikan saya bilang, semuanya panik tapi tidak sampai rebutan menyetok makanan.

Saya berharap pemerintah Indonesia belajar dari lambannya pemerintah China merespon kejadian virus corona ini. Setidaknya waspada dan melarang siapapun yang pernah datang ke China dalam 2 bulan terakhir untuk masuk ke Indonesia, baik jalur laut maupun udara.

Kepada semua pihak, bantu kami yang tidak bisa dievakuasi. Karena kami terikat kontrak kerja, kami terpaksa harus bertahan bersama warga Hong Kong melalui bencana virus corona ini.

Kami adalah tulang punggung dari ratusan ribu keluarga yang menggantungkan harapan hidup yang lebih baik. Kami dijuluki pahlawan devisa, tapi perlakuan terhadap kami tak selayaknya memperlakukan seorang pahlawan.

Donasikan masker untuk kami yang mulai sulit didapat, karena harga (masker) yang dipermainkan para pedagang.

Doakan kami agar sehat lahir batin melalui situasi ini.

Ketika saya menulis saat ini, diberitakan pasien terinfeksi virus corona sudah mencapai 40.000 dan 900 meninggal dunia. Dalam hitungan hari, jumlah yang terinfeksi meningkat pada angka ribuan dan yang meninggal tembus hingga ratusan. (Kiriman dari: Yana Sulistiyana)