Cerita Tim Medis di Wuhan, Kelelahan dan Bekerja Tanpa Proteksi

Jakarta, relawan.id – Menjadi yang terdepan dalam mengatasi corona yang menyebar dengan masif di China merupakan hal yang tak mudah bagi pekerja medis di negeri Tirai Bambu. Para petugas medis di Wuhan terutama, harus berurusan dengan hal krusial selain ribuan kasus terbaru penyakit COVID-19.

Yakni kelelahan dan harus bekerja berlebihan tanpa proteksi akibat kekurangan staf. Banyak dokter pun harus menemui pasien tanpa mengenakan masker atau pelindung tubuh yang tepat.

Mereka bahkan menggunakan kembali peralatan yang sama, padahal seharusnya peralatan tersebut harus diganti secara teratur. Menurut seorang pejabat kesehatan, beberapa staf sampai mengenakan popok untuk menghindari melepas pakaian pelindung agar membuatnya bertahan lebih lama.

Seorang dokter di sebuah klinik komunitas di Wuhan mengatakan dia dan setidaknya 16 rekannya menunjukkan gejala yang mirip dengan virus corona baru, termasuk infeksi paru-paru dan batuk.

“Sebagai dokter, kami tidak ingin bekerja sambil menjadi sumber infeksi. Tetapi saat ini, tidak ada yang dapat menggantikan Anda,” kata dokter yang tidak ingin disebutkan namanya, dilansir dari AFP.

Ia menambahkan bahwa semua staf medis tanpa demam diharapkan bekerja. “Apa yang akan terjadi jika tidak ada yang bekerja di garis depan?” lanjutnya.

Selain itu, para staf medis juga merasa tertekan sebab mereka harus bekerja tanpa henti. Bahkan ada salah satu klinik yang menerima 400 pasien dalam waktu delapan jam.

“Mereka memiliki banyak tekanan,” kata dokter lain, yang juga tidak mau disebut namanya, seraya menambahkan bahwa rumah sakitnya telah mengatur pemantauan psikologis.

Ia dan rekan-rekannya menerima telepon dari anggota masyarakat yang tertekan, sebab beberapa di antaranya terlalu takut untuk meninggalkan rumah mereka.

“Anda dapat mendengar panggilan mereka untuk meminta bantuan, etapi tangan Anda terikat. Tidak ada yang bisa kita lakukan,” kata dokter itu, menggambarkan ada keluarga tempat pasien terjebak di rumah tanpa perawatan medis.

Risiko yang dihadapi staf medis menjadi sorotan setelah dokter Li Wenliang meninggal karena penyakit ini, sebulan setelah ia pertama kali menyatakan adanya virus mirip SARS baru di kota Wuhan.

Kematiannya menimbulkan kesedihan dan kemarahan di media sosial China, hingga membuat sebanyak 10 akademisi di Wuhan mengedarkan surat terbuka yang menyerukan reformasi politik dan kebebasan berbicara.