Deutschland: Kenali Psikologinya, Kuasai Bahasanya

Oleh: Muhammad Fahlesa Fatahilah

Kaku, idealis, dan positif thinking sudah menjadi ciri khas negara Jerman, Begitulah yang saya rasakan, hal itu bisa dilihat dari cara mereka memandang tentang kebersihan. Mereka menganggap hal itu adalah sesuatu yang penting, oleh karena itu ada ungkapan “Ordentlich ist wenn man sofort weiss wo man nicht suchen muss“, rapih adalah jika seseorang segera tahu di mana (letak suatu benda) yang seseorang itu tidak perlu mencarinya.

Selama di Jerman, saya juga jarang mendengar warganya mengatakan dingin saat suhu mencapai -20°C “Wooh es ist so kalt”, tapi kebanyakan dari mereka akan bilang cukup dengan satu kata, “Frisch” fresh atau segar, dan begitupun saat musim panas, mereka tidak pernah mengatakan “Heis” atau panas saat suhu mencapai 35°C, tapi yang mereka akan katakan adalah “Warm” atau hangat. Bagi mereka tidak ada yang salah dengan cuaca, tapi bagaimana cara kamu mengenakan pakaian, “Es ist nichts falsch mit dem Wetter, aber wie Sie Kleidung tragen”.

Tersenyum saat bertemu orang yang tidak kita kenal, tidak berlaku di Jerman, dan jangan berharap dapat balasan senyuman saat kita menyapa sambil tersenyum. Karena bagi sebagian besar orang Jerman jarang senyum kepada orang yang tidak dikenal, sehingga terkesan lebih kaku, meski begitu, tapi ada beberapa daerah seperti Hamburg yang penduduknya banyak tersenyum dibanding di daerah timur Jerman.

Bahkan dalam satu kesempatan, pernah ada seorang ustadz kondang dari Indonesia safari dakwah ke Jerman, beliau terheran dengan sikap orang Jerman dan beliau mengatakan, “Nampaknya orang jerman harus diajarin senyum nih.“ Oleh karenanya mereka terkenal dengan istilah “Angst“ atau rasa khawatir terhadap hal-hal yang asing. Jadi kita tidak bisa langsung bertanya saat bertemu orang Jerman, seperti bertanya mengenai hal pribadi, “Kerja apa? Anaknya berapa“. Memang hal itu tidak aneh jika dilakukan di Indonesia, tapi berbeda kalau di Jerman, hal itu akan terasa aneh.

Memikirkan aspek ratio adalah kebiasaan orang Jerman dalam membeli barang atau pakaian, itulah yang saya alami saat di negara ini. Saat itu saya memakai tas kecil dari merek tertentu yang menurut saya biasa saja, tapi saya terkejut ketika teman Jerman saya kemudian berteriak dengan suara keras, “Hai kamu pakai tas ini juga, puas kamu dengan kualitasnya? Aku juga pakai karena aspek rationya sangat bagus!“.

Sejenak saya berpikir apa yang dimaksudnya, dan ternyata ia berpikir barang yang saya pakai bagus kualitasnya dengan harga yang relatif lebih murah dibanding pesaingnya yang lebih mahal dengan kualitas yang sama. Sementara itu jika kita berpikir sebagai produsen barang di industri, orang Jerman akan sangat berhati-hati atau berpikir berkali-kali sampai mereka yakin barang yang mereka akan jual sudah memenuhi standar yang ideal, dari sisi kualitas, harga dan sebagainya.

Akhirnya saya mengerti kenapa “Made in Jerman“ begitu populer di kalangan pecinta teknologi otomotif, rumah tangga dan lain-lain, hal itu terlihat dari produk otomotif buatan Jerman seperti Bosch, BMW, Mercedes Benz, Infineon, semua ini memiliki high quality. Dan kebiasaan penduduk Jerman tidak akan segan-segan membeli barang berkualitas tinggi yang mereka butuhkan, walaupun dengan harga tinggi dari merek tertentu, hal ini dilakukan secara turun temurun.

Ternyata kualitas mobil Jerman memang patut diacungi jempol, hingga ada keluarga yang tak mau memiliki mobil kecuali dengan merek yang buyutnya gunakan meski dengan model yang berbeda.Ya memang terdengar aneh, tapi begitulah psikologi orang-orang Jerman. 

Sementara itu dari segi humanity, Jerman terkenal tidak suka memberi kepada orang yang meminta-minta di jalanan, tapi mereka akan sangat senang sekali membantu orang yang membutuhkan secara langsung. Suatu hari, saat itu saya menyaksikan seorang pemuda Jerman yang mendatangi pengemis yang sedang duduk di tepi jalan sebuah pusat perbelanjaan dengan tulisan, “Ich habe hunger“ (saya lapar) dengan menggunakan mangkok kecil.

Pemuda ini mengajak pengemis itu untuk mengikutinya, awalnya saya berpikir pemuda itu adalah polisi yang menyamar, tapi Masya Allah ia malah mengajaknya makan bersama di salah satu streetfood. Selain itu saya juga pernah melihat aksi orang-orang Jerman mengumpulkan dukungan untuk orang-orang Afrika dan negara lainnya yang terkena musibah, bahkan saat Jogja dilanda gempa beberapa tahun lalu, selalu terpampang poster perempuan lansia sedang menerima bantuan di hampir setiap halte tram di kota kami.

Bahkan ketika gempa Palu, Forum Komunikasi Masyarakat Muslim di Jerman (FORKOM) mengadakan donasi melalui beberapa lembaga kemanusiaan asal Indonesia, tidak sedikit mereka mengatasnamakan perusahaan Jerman ikut memberikan bantuan.

Jika dipelajari lebih lanjut, ini ada kaitannya dengan bentuk kepedulian yang terdorong atas dasar pengalaman sejarah masa lalu mereka sebagai korban perang dunia II. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit sebagai korban perang, setelah bom-bom dijatuhkan sekutu dan Uni Soviet tahun 1945 yang hampir membumihanguskan semua kota di negera ini dengan korbaan jutaan bahkan puluhan juta jiwa. Tidak hanya sampai itu saja, penderitaan berlanjut ketika mereka terbagi dua menjadi barat (Pemerintahan demokrasi dengan ibu kota di Bonn) dan timur (Pemerintahan komunis yang beribukota di Dresden) dibatasi tembok Berlin hingga bersatunya kembali Jerman di tahun 1989. 

Ini pula yang menjadi landasan diterimanya para imigran dari Syria sejak beberapa tahun lalu, walaupun mendapat pertentangan keras dari beberapa penduduk eks Jerman Timur, disamping kebutuhan Jerman untuk tambahan pekerja dalam negeri mereka, karena populasi Jerman yang semakin menurun beberapa tahun lalu. 

Beginilah karakteristik penduduk dari sebuah negara yang memiliki sejarah panjang. Dengan segala macam kisahnya, mereka terus memupuk rasa kemanusiaan dan kepedulian kepada sesama. Karena seperti halnya cinta, bahasa kemanusiaan adalah bahasa yang universal, dapat diterima oleh semua orang apapun latar belakangnya.