Kisah Nek Sujiah 70 Tahun, Lansia yang Memilih Hidup Mandiri

Oleh: Retno Sulisetiyani (relawan MRI Barito Kuala)

Sujiah terdiam cukup lama. Keningnya sedikit berkerut, mengingat sesuatu. “Tujuh puluhan kayaknya,” ucapnya ragu. Ia lupa berapa usianya. Sesuatu yang selalu wajar dialami manusia renta.

Nenek Sujiah, begitu kami memanggilnya. Hidup sendiri di salah satu desa di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Desa itu berjarak 62 km dari ibukota Provinsi Banjarmasin. Mungkin banyak yang mengalami hal serupa seperti Nenek Sujiah. Hidup menua sebatang kara. Tapi ada yang berbeda dari beliau. Sesuatu yang layak untuk kami ceritakan.

Sore itu (9/02/2020) kami mengantarkan sebakul sembako dan sedekah dari dermawan untuk Nek Sujiah. Seperti mendapat durian runtuh. Tangan Nek Sujiah mendekap erat jemari Saya sembari menuturkan terima kasih dengan bahasa jawa halus. Ya, meski tinggal di Kalimantan, Nek Sujiah adalah perantauan dari Jawa. Seperti keistimewaan aksi berbagi lainnya, titipan doa untuk dermawan juga kami temukan di rumah Nek Sujiah. Rumah kecil yang… ah Saya seperti tak punya cukup perbendaharaan kata untuk menggambarkannya.

Dari depan, rumah Nek Sujiah terlihat seperti kotak lusuh dengan satu pintu. Masuk ke dalam, Saya hampir tak bisa melihat apa-apa. Gelap. Bahkan ketika satu-satunya lampu di dalam rumah itu kami nyalakan, suasana masih remang-remang. Meski begitu, nampak jelas rambut Nek Sujiah yang telah memutih. Tak ada papan atau keramik di dalamnya. Kami langsung menginjak lantai tanah. Di tengah ada tikar purun (tanaman khas rawa) terhampar.

Mungkin, bagi sebagian kita akan menyebut rumah itu sebagai hunian tidak layak. Namun tidak bagi Nek Sujiah. “Biar rumahku bobrok begini, tak mengapa asal Aku bisa hidup dari hasil tangan sendiri,” begitu Ia berseru.

Nek Sujiah bukanlah orang yang mudah menyerah. Setiap hari Ia akan berkeliling desa mencari tanaman pakis untuk dijualnya dengan berkeliling juga. Berpangku tangan rupanya tak ada dalam kamus hidupnya.

Salah seorang anaknya pernah mencoba mengajak Nek Sujiah pindah dan tinggal bersama. Namun hanya bertahan selama dua bulan. Nek Sujiah berkeras untuk pulang.

Meski begitu, seperti hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial. Nek Sujiah hanyalah manusia biasa. Binar wajah itu tak mampu berbohong ketika kami datang, ia tetap membutuhkan teman untuk saling bercerita, untuk saling bercengkrama. Kalimat demi kalimat mengalir begitu saja, seperti keran yang lama tersumbat. Nek Sujiah menyambut kami layaknya teman yang telah lama tak berjumpa.

Hidup dalam keterbatasan, tak membuat Nek Sujiah lantas enggan berbagi. Di akhir pertemuan, Ia menawarkan untuk memetik buah rambutan di belakang rumahnya. “Petik saja, buat dibawa pulang,” teriaknya. Sehalus mungkin kami tolak tawaran itu. Bukan tak mau, hanya saja bakul sembako lainnya masih perlu diantar ke rumah lansia yang lain.

Di perjalanan pulang, wajah dan cerita Nek Sujiah terus terngiang. Bagaimana kelak orangtua kita menua. Bahkan bagaimana kelak diri ini menua. Pertanyaan yang kerap hadir di pikiran saya. Tak henti diri terus bersyukur atas kenikmatan hidup hingga detik ini.

Nek Sujiah berhasil menegur kita semua. Bukan materi atau harta yang diharapkan orangtua di usia senja, namun kehadiran yang tulus untuk menemaninya bercerita.