Ikhlas, Modal Utama Menjadi Seorang Relawan MRI

Jakarta, relawan.id – Seiring bertambahnya usia seseorang harus dibarengi dengan kematangan diri. Kepribadianmu harus semakin matang dan berbudi, baik dalam berpikir maupun bertindak sebab bagaimanpun juga kualitasmu sebagai seorang manusia ternilai dari sana. Salah satu cara untuk membentuk kepribadian adalah dengan selalu berbuat baik bagi sesama.

Berbuat baik terhadap sesama sejatinya nggak selesai hanya dengan memberi sedekah untuk pengemis di depan supermarket atau membeli dagangan nenek-kakek lanjut usia saja. Berbuat baik harus selalu dilakukan setiap waktu. Namun ada satu cara berbagi yang barangkali bisa membawa pengaruh baik bagi kepribadianmu, yaitu dengan cara menjadi relawan.

Salah satu nilai utama yang mendasar dalam nilai kerelawanan tersebut adalah keikhlasan, tak sedikit orang mengabdikan dirinya untuk menjadi relawan kemanusiaan, karena hal itu mengajarkanmu pelajaran kehidupan yang meski sepele namun sering luput dilakukan yaitu bersyukur.

Keikhlasan adalah modal utama untuk menjadi seorang relawan, modal itulah yang tidak semua orang bisa lakukan, oleh karena itu menjadi relawan adalah sesuatu yang istimewa. Bila di dunia kerja, orang melakukan sesuatu untuk mendapatkan imbalan atas apa yang telah dikerjakannya. Di dunia relawan, rasa senang justru sudah hadir di saat membantu dan menolong sesama.

Hal itu juga yang kerap dirasakan relawan Masyarakat Relawan Indonesia, berangkat dari situ ada beberapa sosok relawan MRI yang menginspirasi, seperti yang akan dirangkum relawan.id.

1. Rommy Falsa

Kecintaannya pada dunia kerelawanan membuat dirinya mengorbankan kepentingan pribadinya demi menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Bagi Rommy, untuk memberikan manfaat bagi orang lain tidaklah sulit. Ada banyak hal sederhana yang ketika dilakukan mampu memberi manfaat besar bagi sesama, salah satunya menjadi relawan. Meski menjadi relawan kemanusiaan lebih banyak dukannya dibanding suka, tapi hal itu bukan masalah baginya.

“Saya tertarik karena ingin melakukan banyak hal untuk orang banyak serta mengetahui kondisi saudara-saudara yang berada di luar sana. Walaupun seorang relawan yang tidak dapat membantu dengan materi, namun dapat membantu dengan tenaga dan mengembalikan kebahagiaan mereka. Karena, jika hari ini kita telah berbuat baik dan menolong orang yang lagi kesusahan, maka Allah akan membalas kebaikan kita suatu hari nanti,” ujar pria kelahiran Medan ini.

2. Sunhaji Gholib

Meski usia yang sudah tidak muda lagi, tapi semangat Gholib menjadi relawan MRI patut diacungi jempol. karena baginya menjadi relawan itu adalah panggilan jiwa jadi harus dengan keikhlasan. Kalau takut sengsara, capek & tidak dapat apa-apa sebaiknya diurungkan niatnya. Sebab ujung-ujungnya akan kecewa. Disinilah pentingnya jiwa kerelawanan.

Menjadi relawan, baginya semata untuk mencari ridho dari Allah, “saya berusaha untuk menjadikan setiap apa yang saya kerjakan ada sedikit nilai ibadah dan mendapat ridho dari Allah SWT. Saya bisa menolong orang lain adalah kepuasan tersendiri, karena sedari dulu menurut saya, relawan itu adalah pahlawan. Bukan untuk mencari popularitas atau yang lain dan hanya mengharap ridho dari Allah SWT,” jelasnya.

3. Miftahul Jannah

Menjadi Khalifah Fil Ardh adalah keinginan terbesar Miftahul Jannah Wasnur, salah satu relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pinrang. Baginya manusia pada hakikatnya diciptakan di dunia sebagai khalifah untuk memelihara bumi atau sering disebut sebagai Khalifah Fil Ardh. Untuk mewujudkan hal itu memang tak mudah, tapi dengan tekad yang kuat Miftah terus melakukan apa yang menjadi keinginannya melalui MRI.

“Kita jadi manusia terlahir di dunia dalam diri kita sudah melekat Khalifah Fil Ardh. Selama 25 tahun saya menjalani hidup saya. Saya belum pernah sepenuhnya menjalankan kewajiban utama saya sebagai manusia, dan setelah saya menemukan MRI, pelan-pelan saya belajar, ternyata menjadi Khalifah Fill Ardh itu prosesnya sangat rumit, sangat sulit, dan butuh perjuangan luar biasa,” katanya.

Keinginan menjadi Khalifah Fil Ardh, ternyata telah membangkitkan hati Miftah untuk terus berbuat kebaikan melalui MRI. Dengan konsisten Miftah bersama relawan MRI lainnya membina kampung mualaf di Dusun Makula, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

4. Aisyah

Sudah seharusnya jika setiap manusia selalu melakukan kebaikan-kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Dengan hal-hal yang baik, maka tentu saja akan membuat kehidupan di dunia ini akan menjadi lebih baik. Hal itu seperti apa yang dilakukan Aisyah, relawan medis Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

Aisyah menjadi relawan medis sudah sekitar 1 tahun lebih, alasan terbesarnya untuk menjadi relawan adalah ingin berbuat baik dan bermanfaat bagi orang banyak, hal itu adalah sebagai bekal untuk akhirat. Hal itu juga lah yang diajarkan orangtuanya kepada Aisyah. Sukses dalam hidup itu adalah sukses di kehidupan dunia maupun akhirat.  Maka dari itu berbuat baik kepada sesama adalah kunci sukses dalam kehidupannya.

“Kalau saya sih sebenarnya jadi relawan itu adalah seperti gini, kita itu jangan hanya mencari dunia tapi kita juga harus mencari untuk bekal di akhirat. Jadi istilahnya kalau untuk saya adalah penyeimbang antara dunia dan akhirat, dan saya mau, hidup saya itu bermanfaat untuk orang lain. Keluarga saya itu selalu bilang, silakan pergi, silakan melakukan sesuatu yang memang kamu bisa mempertanggungjawabkannya dan bisa bermanfaat untuk orang banyak. Jadi ayah saya selalu bilang, silakan kamu pergi tapi kamu bisa mempertanggungjawabkannya dan itu memang untuk orang banyak,” ujarnya.

5. Darwis

Melalui sebuah organisasi Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Darwis menemukan tempat untuk melakukan kebaikan, karena baginya 12 tahun sudah di dunia gelap, kini dirinya ingin menebus semua itu dengan berbuat baik. Selain itu, Darwis juga membantu keluarga yang ketergantungan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Nafza).

“Saat terbentuknya MRI di Labuhanbatu Utara 4 bulan yang lalu, rasa ingin berbuat kebaikan itu muncul, mungkin di sini lah wadah berbuat baik, karena selama ini di lembah hitam, itulah motivasi bergabung di MRI,” ungkapnya

Saat MRI Labuhanbatu Utara ini terbentuk, Darwis dipercaya menjadi bagian kemitraan, meski baginya menjabat hal itu adalah pekerjaan yang tidak mudah karena harus berhadapan langsung dengan masyarakat banyak, terlebih stigma masyarakat kepadanya kurang baik, karena Darwis mantan pecandu narkoba, tapi Darwis tak pernah berkecil hati, baginya hal itu adalah ujian dari Allah.

6. Anjar Sufangat

Sebelum di MRI, Anjar memang sudah aktif di kegiatan sosial keorganisasian, motivasi terbesarnya masuk MRI adalah ingin berbuat bagi orang lain, karena baginya sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

“Kita ingin berbuat lebih banyak untuk orang lain, karena sebaik-baiknya manusia itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, itu adalah salah satu motivasi kita,” ungkap Anjar.

2018 akhir kemudian Anjar bersama relawan lainnya membentuk MRI di Tanah Bumbu, dan Anjar dipercaya untuk menjadi Ketua MRI Tanah Bumbu, awal tahun 2019 tim MRI mulai menjalani komunikasi dan memperkenalkan MRI di Tanah Bumbu. Kini MRI sudah dikenal oleh masyarakat dan pemerintah daerah, bahkan kini data MRI dijadikan pembanding tentang kondisi sosial masyarakat oleh beberapa kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

7. Ardian Kurniawan Santoso

Bertahun-tahun mendekam di penjara tak membuat Ardian Kurniawan Santoso menjadi sosok yang menakutkan. Kini ia menjadi pelopor kebaikan, menebarkan manfaat bagi masyarakat luas, itu semua dilakukan sejak masuk relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). Banyak hal yang sudah dilakukan Ardian selama menjadi relawan dari berbagai aksi kemanusiaan seperti aksi di lokasi terdampak bencana di Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu hingga menjadi relawan regular yang mengoperasikan Humanity Food Truck ke berbagai lokasi untuk menghidangkan makanan siap santap.

Ardian menceritakan awal mula menjadi seorang relawan MRI, Ardian mengaku sebelum menjadi relawan MRI, dia memiliki masa lalu yang kelam, karena harus mendekam di penjara sebanyak dua kali. Pertama tahun 2014 dipenjara di Jember, Jawa Timur selama 2 tahun karena mencuri truk berisi beras, saat itu yang diambil sebanyak 8 ton beras.

Selain dijual dan digunakan sendiri, beras hasil curian itu dibagikan untuk orang-orang yang membutuhkan. Setelah bebas dari penjara di Jember, dia tak bertobat. Ardian kembali beraksi di berbagai toko retail di wilayah Salatiga dan Boyolali. Setelah tertangkap dan dipenjara yang kedua kalinya, dalam masa tahanan Ardian mulai mencari jalan taubat.