Cara Mengatasi Culture Shock dan Komunitas Indonesia di Paman Sam

Oleh: Hastrini Nawir

Jakarta, relawan.id – Ramah dan banyak bicara, hal itulah yang bisa digambarkan dari karakter orang Amerika, berbeda dengan orang Jerman yang lebih cuek, itu yang saya rasakan selama di Amerika. Karena itulah, saya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi di Amerika, karena mereka juga banyak basa-basi seperti orang Indonesia. Selain itu, tak sedikit warga Indonesia yang datang ke Amerika bakal merasakan culture shock, posisi dimana saat seseorang terkejut dan gelisah ketika bersentuhan dengan kebudayaan yang berlainan, seperti di negara asing.

Oleh karena itu, untuk mengatasinya salah satunya adalah dengan tetap bersama komunitas Indonesia terutama saat awal-awal datang ke negeri Paman Sam ini, sehingga penyesuaian dapat dilakukan perlahan. Saya melihat komunitas Indonesia di sini sangat membantu terlebih para pelajar dari Indonesia.

Saat hari minggu, kalian juga tak perlu khawatir ketika pergi ke pusat perbelanjaan, karena di Amerika pusat perbelanjaan tetap buka meski hari minggu, berbeda dengan Jerman, saat hari minggu, pusat perbelanjaan akan tutup kecuali di stasiun. Sehingga saat weekend bisa digunakan untuk diluar kegiatan kuliah, seperti shopping dan jalan-jalan. Meski begitu, tapi kondisi transportasi di Amerika tidak sebaik Jerman, bahkan untuk transportasi umum Indonesia sedikit lebih baik.

Masyarakat Amerika pada umumnya tidak mengandalkan transportasi umum, kecuali kota besar seperti New York. Di sini mereka rata-rata menggunakan kendaraan pribadi, sehingga transportasi umum jumlahnya relatif terbatas dan jadwalnya pun terbatas. Oleh karena itu, jika ingin lebih leluasa, pilihannya adalah memiliki kendaraan sendiri. Hal ini juga ditunjang dengan harga kendaraan yang tidak terlalu mahal.

Harga kendaraan yang relatif murah, sehingga mahasiswa asing pun tidak sulit untuk memiliki kendaraan sendiri. Tak hanya itu, meski Islamophobia kerap terjadi di Amerika, tapi komunitas muslim disetiap kampus masih terasa, karena sering digelar kegiatan seperti pengajian, terlebih di Colorado School of Mines, karena mereka umumnya dari Middle East dan negara muslim lainnya seperti Malaysia, Indonesia dan Afrika Utara.

Jika ingin pergi ke Masjid, dibutuhkan waktu kurang lebih 1 mil dari kampus. Di masjid ini juga sering diadakan berbagai kegiatan, kegiatan itu sering digagas oleh komunitas muslim, sehingga kita tidak perlu khawatir jika sedang berada di Amerika, bahkan orang Indonesia dan Canada memiliki komunitas muslim sendiri namanya Indonesia Muslim Society in North America (IMSA).

Selain itu, di setiap kota juga selalu ada kelompok pengajian yang aktif, ini menjadi salah satu forum silaturahmi diaspora Indonesia di luar, terutama yang menghubungkan masyarakat Indonesia baik yang mahasiswa maupun yang sudah jadi residen Amerika Serikat atau warga negara Amerika Serikat.

Dari segi pendidikan, di Amerika sama seperti di Indonesia, ada UTS, UAS, tugas-tugas, quiz dan absen, hal ini berbeda dengan Jerman. Di Jerman hanya ada ujian akhir, yang mana nilai dan kelulusan bergantung sepenuhnya pada ujian akhir dan juga di Jerman, jika 3 kali ujian tetap gagal, kita akan dikeluarkan (drop out). Sehingga perlu berstrategi jika ingin kuliah lancar dan nilai baik, dan itu akan berbeda tiap individu. “Jauh berjalan, banyak dilihat, banyak dirasa”

Bagi saya, di Amerika beda banget dengan Jerman. Di Jerman belajarnya lebih dalam dan banyak materinya. Ujiannya pun terbilang susah, beda dengan Amerika, materi tidak sebanyak dan tidak sedalam di kampus Jerman, dan nilai tidak hanya bergantung pada satu ujian akhir saja. Sehingga kita masih bisa mengusahakan untuk dapat nilai lebih baik lagi. Tapi kalau di Jerman, jika kita tidak lulus harus ulang lagi tahun depan dan itu cuma 3 kali ulang.

Meski begitu, di Amerika lebih terasa materialistisnya, karena semuanya diukur dari materi, di sini untuk acara wisudanya kurang lebih hampir seperti Indonesia, saat pendaftaran kuliah mereka diantar oleh keluarganya karena diundang oleh pihak kampus. Jika di Indonesia orangtua hanya diundang pada waktu wisuda, tapi jika di sini waktu wisuda dan masuk kuliah orangtua akan diundang.