Harapan Warga Indonesia di Jerman Pasca Penembakan Massal

Jerman, relawan.id – Tragedi penembakan di Hanau, Jerman, menyisakan sejumlah kesedihan bagi keluarga dan kerabat korban. Pelaku penembakan juga mengakhiri hidupnya setelah dia berhasil melancarkan aksinya di Hanau.

Setidaknya sembilan orang tewas akibat kejadian tersebut, semuanya memiliki latar belakang sebagai pendatang dan lima korban tewas adalah warga negara Turki. Diketahui serangan ini dilakukan oleh ekstrimis sayap kanan.

Merespon kejadian hal itu, sekitar 3.000 orang berkumpul di Hanover untuk menggelar rapat umum berjudul “Hanover Menentang Rasisme (Hanover for Diversity)” yang turut dihadiri Perdana Menteri Stephen Weil (SPD) dan Walikota Belit Onay (Hijau).

“Tak hanya di Hanover, Di Cologne juga menggelar demonstrasi melawan sayap kanan di Roncalliplatz, lebih dari 2.000 peserta berkumpul. Menurut penyelenggara sekitar 200 orang berkumpul di alun-alun pasar di depan balai kota mengambil tangan dan membentuk rantai melingkar orang,” ujar salah satu warga Indonesi yang tinggal di Jerman, Muhammad Dzulfikr, Senin (24/2/2020).

“Setelah kekerasan di Hanau, kita harus melihat dengan sangat serius apakah kita perlu menyesuaikan kembali undang-undang senjata,” kata pakar interior SPD Helge Lindh dari surat kabar “Die Welt”.

“Jika ternyata pihak berwenang tidak dapat secara memadai memeriksa kesesuaian psikologis atau pribadi dari pemilik senjata, kita harus mereformasi undang-undang yang sesuai.” Bisa dibayangkan untuk membuat persetujuan kartu kepemilikan senjata tergantung pada pengajuan laporan atau tes psikologis di masa depan,” lanjut Lindh.

Dzulfikr mengatakan, sebetulnya karakter orang Jerman open minded, toleran dan respect, sedangkan orang-orang rasis kanan itu yang ekstrimnya tidak sampai 2 persen, dan mungkin yang menjadi alasan mereka adalah para imigran diberikan uang oleh pemerintah Jerman.

“Saya berharap Islam bisa diakui sebagai agama, masjid-masjid bisa dilindungi dan sebagai orang asing bisa dihargai,” ujar Dzulfikr.