WHO Sebut Ancaman Pandemi Virus Corona Semakin Nyata

Jakarta, relawan.id – Setelah banyak negara terpapar virus corona atau Covid 19, sejumlah negara memberlakukan larangan berpergian, hal itu dilakukan untuk menahan penyebaran virus corona.

Ketua Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus ancaman pandemi Covid 19 kini begitu nyata, “sekarang setelah virus telah menginjakkan kaki di banyak negara, ancaman pandemi begitu nyata,” kata Tedros, Selasa (10/3/2020).

Saat ini Italia memperluas larangan bepergian di seluruh negeri dan Israel memerintahkan sebelum Paskah Yahudi dimulai semua pengunjung dikarantina beberapa pekan. Sementara itu, Spanyol menutup semua sekolah di dalam dan sekitar ibu kota.

“Keuntungan yang kami miliki adalah keputusan yang dibuat oleh semua pemerintah, bisnis, komunitas, keluarga, dan individu dapat mempengaruhi lintasan epidemi ini,” kata Tedros.

Walaupun pekerja di Beijing sudah mulai masuk dan jumlah kasus infeksi baru di China terus menyusut. Italia kesulitan untuk menavigasi cepatnya perubahan parameter penyebaran virus sehingga mereka menutup seluruh negeri. Ketakutan juga membayangi saham Wall Street yang jatuh ke titik paling parah sejak 2008. Dow Jones Industrial Average turun 7,8 persen. Harga minyak dunia juga turun di titik terendah sejak Perang Teluk 1991.

Sudah lebih 113 ribu orang dinyatakan positif Covid 19. Lebih dari 3.900 orang meninggal dunia. Sementara lebih dari 62 ribu orang dinyatakan pulih. Tapi Italia mengintensifkan upaya menahan penyebaran virus.

“Tidak hanya di zona merah,” kata Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte.

Ia mengumumkan memperluas larangan keluar masuk yang sebelumnya hanya berlaku di utara Italia ke seluruh negeri. Dokter-dokter Italia sempat merayakan kemenangan kecil setelah pasien pertama Covid 19 keluar dari ruang unit gawat darurat dan mulai bernapas sendiri.

Namun, cepatnya virus menyebar membuat dokter-dokter Italia bekerja seperti di zona perang. Mereka harus memutuskan dengan cepat siapa pasien yang harus dimasukkan ke Unit Gawat Darurat.

“Sayangnya kami baru di awalnya,” kata kepala penyakit menular rumah sakit Sacco Dr. Massimo Gali.