Mengejar Mimpi Menjadi Seorang Dokter di Kayseri, Turki

Oleh: Aulia Darma Maulida

Kayseri, relawan.id – Ini semua berawal dari obsesiku untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri sebagai seorang dokter, melewati banyak kisah yang tidak seharusnya dilewati anak SMA, seperti ditipu, kehilangan kesempatan belajar di bimbel-bimbel ternama karena mengejar deadline untuk bisa sampai keluar negeri dan lain sebaginya.

Karena alasan pahit inilah akhirnya aku memilih Turki untuk bisa melanjutkan studi, tapi tidak sebagai dokter melainkan sebagai mahasiswa dari jurusan bisnis di salah satu kota bernama Kayseri, mungkin terlihat aneh tapi langkah ini Aku ambil untuk bisa menyambung langkah Aku untuk sampai ke dunia kedokteran.

Karena persyaratan utama untuk bisa kuliah ke Turki adalah melakukan persiapan bahasa selama satu tahun dan melewati 5 Level juga untuk diterima di salah satu universitas di Turki yang berguna sebagai persyaratan visa pelajar dan dengan perencanaan tahun depan Aku akan pindah jurusan ke kedokteran.

Nah, dari sini cerita besar itu dimulai. Hari itu adalah penyelesaian jenjang ketiga bahasa Aku, seperti biasa Aku habiskan hari-hari setelah ujian untuk meng-explore Kayseri lebih banyak, istilah kekiniannya healing stress, ditengah kegabutan yang menghampiri, dering yang isinya selama ini sudah Aku tunggu akhirnya muncul, “Ai, kamu di rumah nggak? Lagi nggak dirumah ni, jalan bareng yang lain, kenapa kak? Perwakilannya Aksi Cepat Tanggap (ACT) mau ke rumah ni.” Di dalam kepala Aku hanya kata kata Oke yang tertinggal, ini adalah salah satu mimpiku yaitu bisa masuk ke dalam bagian ACT satu kali saja.

Mimpi satu kali itu dalam beberapa bulan berubah menjadi mimpi yang sangat besar yaitu undangan untuk bisa datang ke perbatasan antara Syiria dan Turki, masih di dalam Turki hanya saja kota itu memiliki lebih banyak pengungsi daripada penduduk asli mereka, Reyhanli, Hatay kota dengan pesonanya sendiri yang selalu membawaku tidak pernah menolak untuk bisa datang ke sana lagi dan lagi.

Mulai hari itu hidup Aku seperti ada di dalam mimpi. Berkali kali bolak balik Kayseri-Reyhanli dengan rentang waktu yang berbeda-beda. Lalu, pemandangan yang selama 8 tahun sudah ku jadikan sebuah mimpi besar, mendapatkan kesempatan untuk bisa berkunjung ke salah satu tenda pengungsian yang terletak di sebelah genangan air besar dengan keadaan anak-anak yang terkena penyakit kulit.

Mereka tinggal bersebelahan dengan kuda, sapi dan kambing yang dipelihara oleh penduduk setempat, ini adalah tempat kumuh dengan sajian teh yang di minum dikala hujan turun diselingi senyuman super lebar yang menghiasi kedatangan kami, kunjungan pertama itu hanya menggambarkan satu tenda yang diisi oleh Keluarga Besar, masih ada banyak tenda yang memiliki lebih pahit, seperti mereka rela berkelahi hanya untuk mendapatkan makanan dan lain sebagainya.

Ada satu tempat yang cukup bisa menguras banyak air mata yaitu Rumah Yatim Yasmin yang diisi oleh anak-anak korban perang yang kehilangan ayah, tapi ada satu anak perempuan yang menarik perhatian Aku dari awal kedatangan. Dia selalu tersenyum manis, Meryam namanya, anak perempuan ini kehilangan pendengaran dan ayahnya akibat salah sasaran rudal yang menghantam rumahnya di Idlib, cerita ini Aku dapatkan dari ibu Meryam yang berusia 16 tahun saat melahirkan Meryam, Kunjungan pertama ku berakhir di rumah baru Meryam.