Rasa Empati Muslim Uighur di Kayseri, Turki

Oleh: Aulia Darma Maulida

Kayseri, relawan.id – Bagi anak rantau sulit untuk makan itu hal yang sudah biasa, begitu pula yang dirasakan mahasiswa luar negeri dan orang-orang Uighur, sehingga mereka sudah mengerti apa yang kami rasakan, oleh karena itu, saat kita pergi ke pengungsian di Turki makanan sudah tersedia banyak dan makanannya pun cocok dengan mulut kami orang Indonesia.

Meski dalam kesulitan Uighur masih memiliki rasa empati yang tinggi, hal itulah yang menjadi alasan kenapa mereka selalu terlihat mampu dan tidak pantas menerima bantuan, jawabannya hanya satu, mereka terlahir untuk memiliki jiwa kaya. Di balik kesulitan dan diskriminasi yang mereka hadapi, selalu ada senyum dan kesenangan yang selalu mereka berikan.

Lantunan ayat suci kadang mengiringi tangis mereka akan kerinduan kepada ibu dan ayah yang mereka tak tahu keberadaannya. Sekolah dan rumah mereka sudah Aku jadikan tempat pulang kedua di tanah perantauan ini, tawa mereka susah menjadi lembaran hidup yang Aku jalani, di balik kesulitan menjadi seorang diaspora, jauh dari orangtua membuat Aku tidak pernah menggantungkan hidupku lagi pada manusia.

Aku juga belajar dari mereka, bahwa berwibawa dan tidak kehilangan jati diri dimanapun kamu berada adalah segalanya dan Aku juga belajar untuk tidak akan pernah menyerah pada mimpi besarku. Tidak banyak yang bisa Aku sampaikan melalui cerita ini tentang masyarakat Uighur.

Tapi yang Aku tahu pasti bahwa apapun pendapat banyak orang di luar sana tentang Uighur, tidak akan pernah bisa dibenarkan sampai kamu bisa langsung berhadapan dengan mereka, Aku undang siapapun yang membaca cerita ini untuk sama-sama mengunjungi masyarakat Uighur di Kayseri.

Seluruh kisah ini tanpa sadar pernah Aku mimpikan disaat duduk di depan tv dan menonton salah satu stasiun tv besar di Indonesia, Aku ingin sekali bergabung bersama mereka, melihat perbatasan dan para pengungsi yang merupakan korban perang, dan disaat itu aku baru saja berusia 11 tahun dan 7 tahun kemudian baru bisa terkabul dari sini aku belajar bahwa masing-masing orang punya waktunya sendiri untuk bisa sampai pada cita-cita besar mereka.

Aku bukan apa-apa, ceritaku terjadi hanya karena tuhan memberi Aku kesempatan untuk bercita-cita dan memohon untuk bisa dikabulkan, Aku juga bukan siapa-siapa, banyak kegagalan yang Aku alami untuk bisa sampai di tempat Aku sekarang, hanya saja banyak orang-orang luar biasa yang kutemui dan karena mereka cerita ini bisa teman-teman semua baca.

Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk bisa membaca cerita ini dan terima kasih kepada mereka yang sudah menerima segala kekurangan Aku dan tetap memberikan kepercayaan serta tanggung jawab besar ini.