Deutschland: Sekuat Panser untuk Corona?

Oleh: Fatahilah

Jerman, relawan.id – Sejak penyebaran virus corona atau Covid-19 di belahan negara, jumlah korban terus naik, termasuk di Jerman, seperti dilansir Robert Koch Insitute (RKI), Jerman, 17 Maret 2020, jumlah korban di Jerman sudah mencapai 6012 kasus atau hampir dua kali lipat dari 3 hari sebelumnya dengan jumlah korban meninggal mencapai 13 orang sehingga statusnya dinyatakan RKI menjadi ‘High’ atau tinggi dari status ‘moderat’ atau sedang.

Dengan penebaran yang tergolong cepat ini sudah tentu membawa kekhawatiran pemerintah Jerman. Bahkan, Kanselir Angela Merkel berani menyatakan 70% dari total populasi di Jerman akan terinfeksi virus Covid-19. Hal ini merupakan strategi pemerintah Jerman untuk memberikan rasa berhati-hati atau Angst kepada penduduk Jerman guna menekan laju penyebaran virus dan bukan justru menutupi informasi atau bahkan mempersilakan penduduk dari luar negeri untuk masuk ke dalam negerinya.

Pernyataan lanjutan ditegaskan kembali oleh Merkel pada 16 Maret lalu dengan dikeluarkannya beberapa aturan kesepakatan antara Merkel dengan para kepala negara bagian yang di antaranya untuk melakukan shutdown atau memberhentikan semua tempat hiburan malam, tempat olahraga, dan tempat hiburan umum seperti club malam, bar, stadion, tempat bermain anak-anak, dan lain-lain, tak lupa juga membatasi jam buka restauran dari pukul 6 pagi hingga selambatnya pukul 6 sore. Tapi hal ini tidak berlaku bagi apotek, supermarket, bank, tempat pengisian bahan bakar, kantor pos, dan termpat penting lainnya.

Pernyataan tegas pun disampaikan menteri kesehatan Jerman Jens Spahn, seperti dilansir thelocal.de 13 Maret lalu untuk melakukan self-isolation setidaknya selama 14 hari bagi warga Jerman yang baru saja datang dari Italia, Swiss, dan Austria.

Jumlah kasus corona di beberapa negara di luar Jerman per tanggal 15.03.2020
sumber: Tageschau

Aturan serupa diberlakukan dengan meliburkan kegiatan di TK, SD atau Grundschule, dan tingkat atas atau Gymnasium dan universitas per tanggal 16 Maret hingga setidaknya 4 minggu ke depan. Hal ini diberlakukan agar penduduk tetap tinggal di rumah dan mengurangi total aktivitas sosial. Berbeda halnya dengan pekerja, aturan bekerja di rumah masih bersifat anjuran dan tetap berjalan seperti biasa dengan aturan strict untuk tidak berinteraksi kurang dari jarak 2 meter antar pekerja dan menggunakan fasilitas teleconference untuk keperluan meeting.  Beberapa aturan ketat lain yang harus tetap dilaksanakan bagi pekerja adalah larangan bepergian ke luar negeri dan self isolation selama 14 hari untuk pekerja yang baru bepergian dari luar negeri.

Peraturan ketat pun berlaku pada transportasi umum yang memberlakukan pelarangan interaksi antara penumpang dengan pengemudi.  Pelarangan pengunjung ke rumah sakit pun diberlakukan khusus untuk pasien intensive dan pembatasan pengunjung di luar intensive untuk hanya membolehkan satu pengunjung dengan ketentuan harus di atas 16 tahun dan satu orang untuk satu hari. Hal ini pun berlaku untuk beberapa fasilitas panti jompo dan tempat rehabilitasi. Pelarangan serupa pun berlaku untuk tempat-tempat wisata, dengan pelarangan hotel atau akomodasi penginapan menawarkan jasa penginapan untuk wisatawan lokal maupun internasional. 

Fasilitas transportasi umum dan pintu masuk rumah sakit yang diperketat pengawasannya oleh pemerintah Jerman.
Sumber: Fatahilah

Di Jerman, aturan untuk Lockdown hingga saat ini belum dilaksanakan layaknya di Italia, namun kebiasaan masyarakat di Jerman yang lebih care atau Angst dalam kebiasaan mereka membuat negeri ini memilih mentaati anjuran pemerintah untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat interaksi sosial.

Hal ini berimbas kepada aktivitas keagamaan di Jerman, seperti contohnya ibadah shalat Jumat di masjid dan kegiatan shalat berjamaah tidak dilaksanakan ataupun peribadatan agama lainnya di Sinagog dan gereja hingga menunggu pengumuman lebih lanjut. Bagaimanapun, pemerintah Jerman hingga saat ini berupaya keras untuk mencegah penyebaran lebih lanjut atau einzudämmen Corona.

Salah satu aturan yang ditetapkan lainnya adalah pelarangan penduduk Jerman untuk melakukan perjalanan ke luar Jerman dengan memperketat control di perbatasan dengan Denmark di sebelah utara dan Austria, Perancis, Luxembourg dan Swiss di daerah selatan seperti yang disampaikan Menteri luar negeri Jerman, Heiko Maas. Menyusul upaya pecegahan pandemi lebih lanjut, pemerintah Jerman masih mempertimbangkan Lockdown yang menurut perkiraan akan dilakukan per-tanggal 19 Maret disertai anjuran kepada masyarakat untuk mempersiapkan kebutuhan untuk 14 hari ke depan tanpa panik. 

Lalu bagaimana imbasnya dengan perekonomian dan industri di Jerman?
Ya tentu mengalami penurunan, terutama sektor penerbangan dan travel di Jerman. Lufthansa sebagai maskapai utama di Jerman mengakui penurunan hampir setengah kapasitasnya menyusul pelarangan bepergian dan pembatalan penerbangan oleh Pemerintah. Penurunan signifikan terjadi pula di sektor industri Automotif di Jerman, terlebih karena hubungan dagang dengan China yang saat ini mempengaruhi proses ekspor impor kedua negara.

Namun demikian, Jauh sebelum ini, sejak 11 Maret lalu Merkel berani menegaskan bahwa ekonomi Jerman siap untuk menghadapi krisis Corona virus dengan instrument darurat dan dana tambahan untuk pertahanan ekonomi negara selama krisis berlangsung. Hal ini terbukti dengan akan dialirkannya cadangan dana 12€ miliar atas kesepakatan antara koalisi serikat konservative (CDU/CSU) dengan partai Sosial Demokrat (SPD) di parlemen Jerman juga konsolidasi dengan Uni Eropa (UE) dengan Jerman sebagai salah satu negara pemegang kebijakan dominan juga sebagai negara pemrakarsa UE.   

Bagaimanapun, usaha untuk ke arah perbaikan untuk terlepas dari krisis Corona di Jerman adalah upaya bersama antara penduduknya yang taat dengan aturan pemerintah setempat dan kebijakan pemerintah yang pro, tegas, dan berani mengeluarkan pernyataan jaminan aman secara ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup rakyatnya dalam keadaan krisis.